BERITA TERKINI

Makna ‘Kartini’ Dimata Dr Connie Pania Puteri

×

Makna ‘Kartini’ Dimata Dr Connie Pania Puteri

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Memaknai hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2025 tahun ini kian menunjukkan peningkatan, khususnya bagi seluruh perempuan di Indonesia, terutama tentang emansipasi perempuan dalam negara maupun pembangunan. Hal itu diungkapkan Dr Connie Pania Puteri ketika diwawancarai wartawan Online Nasional Mattanews.co, Senin (21/4/2025).

“Saya setuju dengan emansipasi, dengan dimulai dari yang paling kecil terlebih dahulu, contohnya di rumah sendiri, dimana perempuan atau ibu memulai emansipasi dengan tanggungjawabnya sebagai ibu. Bagaimana cara mendidik, mengarahkan, mengawasi, membimbing anaknya, agar menjadi anak yang berguna, berakhlaq, beretika yang baik, berpendidikan yang bagus, itulah emansipasi wanita sesungguhnya,” terang salah satu advokat wanita Palembang ini.

Menurut Connie Pania Puteri yang juga tergabung dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) itu, menjelaskan ketika sang Ibu berhasil mengarahkan anak-anaknya menjadi baik, mempunyai moral yang bagus, tertib dan beretika, beragama, itulah dimulai emansipasi perempuan sebenarnya.

“Emansipasi itu menurut saya, bagaimana perempuan melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang perempuan, ibu dan isteri. Tugas tersebut sangatlah penting, karena diluar sana mereka berlomba-lomba mengejar mendidikan tinggi, karir yang bagus, namun kerap melupakan kodratnya sebagai ibu dan isteri,” papar Dosen Tetap Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Palembang itu.

Lebih lanjut, wanita kelahiran Muaraenim, 31 Juli 1979 itu menjabarkan, Kartini masa kini dituntut serba bisa.

“Sekarang jaman sudah berubah, saat ini perempuan harus serba bisa, terutama isteri. Dia harus mampu mengelola, berperan dan mempertahankan rumah tangganya. Karena roda suatu rumah tangga itu terletak pada seorang isteri, baik itu dalam mendidik anak hingga pada putaran ekonomi rumah,” urai alumni S3 Universitas Borobudur Jakarta tahun 2019 lalu itu.

Menurut mantan aktivis tahun 1998 itu, dalam melangkah ke lingkungan masyarakat atau tempat kerja, seorang perempuan berkerja atau tidak harus bisa menunjukkan contoh yang baik, baik dalam perbuatan, sikap, prilaku dan bahasa.

“Mereka harus bisa menebarkan kebaikan, bermanfaat dilingkungan masyarakat. Tapi bukan berarti perempuan yang tidak bekerja tidak bisa berkiprah. Beliau bisa memberikan yang terbaik di lingkungan sekitarnya, walaupun skup yang sangat kecil. Mengajarkan kebaikan, memberikan inspirasi perempuan yang lain sehingga dapat mengedukasi perempuan lainnnya dalam berkarya, menginspirasi dan menjadi contoh bagi orang banyak di lingkungan sosial,” tutur Ibu empat orang anak itu.

Isteri dari Dr. Junaidi SE,MSi mengutarakan, dengan memaknai hari Kartini sekarang, bagaimana sesama perempuan bisa saling menguatkan, membantu memberikan support, melindungi, memberikan ruang dan hal lainnya.

“Kita tidak bisa sukses dan jaya sendiri, tanpa dukungan sesama perempuan. Kita semua harus kuat mental, berjuang, tidak boleh lemah, jangan mudah putus asa, harus selalu semangat menjalani kehidupan terlebih lagi dimata anak-anak kita. Jangan pernah melupakan kodrat kita sebagai perempuan dnegan tetap mengejar mimpi dan cita – cita kita. Tetaplah memiliki visi dan misi terarah, peranan yang terlihat nyata di masyarakat dan tebarkan kebaikan dimana saja. Majulah perempuan Indonesia, jangan pernah menyerah dengan keadaan,” tukasnya.