BERITA TERKINIEKONOMI & BISNIS

Menghitung Angka di Balik Cokelat Bende: Antara Nilai Tambah dan Tantangan Pasar

×

Menghitung Angka di Balik Cokelat Bende: Antara Nilai Tambah dan Tantangan Pasar

Sebarkan artikel ini
Kelompok Wanita Tani (KWT) Bende Sejahtera, di Desa Bende, Kabupaten Kolaka Timur, Selasa (27 Oktober 2026)/(ROP)

MATTANEWS.CO, KOLAKA TIMUR – Dari arah depan rumah Sitti Aminah (48) di Desa Bende, Kabupaten Kolaka Timur, aroma kakao sangrai menyeruak. Aroma pekat itu berpadu dengan uap hangat dari mesin grinder sederhana ketika rombongan awak media berkunjung, Selasa (27 Oktober 2026).

Di atas meja kayu berukuran sedang, jemari Sitti dan 11 ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Bende Sejahtera sibuk merapikan puluhan kemasan aluminium foil. Sebagian mengurus hasil olahan, sebagian lainnya memastikan produk siap dipasarkan.

Di balik kesibukan itu, tersimpan perjalanan yang tidak mudah bagi Sitti. Ketika program pengolahan kakao mulai diperkenalkan, ia sempat merasa ragu dan kewalahan. Sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus keluarga dan sesekali membantu memetik kakao di kebun, gagasan mengoperasikan mesin grinder, menghitung modal produksi, hingga menjaga standar kebersihan produk menjadi pengalaman baru baginya.

“Dulu sempat kepikiran, buat apa ibu-ibu ikut pusing urus hilir cokelat? Urusan rumah saja sudah habis waktunya,” kenang Sitti.

Namun, perlahan ia melihat peluang dari kegiatan tersebut. Ketika hasil kebun suami menghadapi persoalan hama dan produktivitas, pengolahan kakao membuka kemungkinan sumber pendapatan lain bagi keluarga. Sitti mulai membagi waktunya antara pekerjaan rumah tangga dan kegiatan produksi bersama anggota kelompok.

Perubahan itu turut mengubah cara pandangnya terhadap kakao. Komoditas yang sebelumnya lebih banyak dikenal sebagai hasil kebun kini memberinya kesempatan untuk terlibat dalam proses pengolahan, pemasaran, dan pengembangan usaha.

Di luar dinding rumah itu, kebun-kebun kakao milik suami mereka perlahan bangkit setelah sempat nyaris mati suri diterjang hama dan perubahan musim. Namun, bagi Sitti dan rekan-rekannya, kebangkitan itu tidak boleh berhenti sekadar mengepak biji kering ke dalam karung goni untuk dijual mentah kepada pengepul.

Setiap hari produksi, di tengah kesibukan rumah tangga, mereka mengambil bagian dalam rantai hilir: mengubah biji kakao menjadi cokelat batangan dan bubuk kakao dengan label lokal.

Selama bertahun-tahun, kakao memang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Desa Bende, Kecamatan Dangia, Sulawesi Tenggara. Namun, serangan hama penggerek buah kakao (PBK), penurunan produktivitas, dan peralihan pekerjaan membuat komoditas itu perlahan kehilangan tempatnya di kebun warga.

Kini, kakao kembali diupayakan. Bukan hanya melalui perbaikan tanaman, tetapi juga dengan mengubah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

(ROP)

Mereka tidak berhenti pada penjualan biji hasil kebun. Ada proses panjang setelah panen yang harus dikerjakan, mulai dari fermentasi, pengeringan, penyortiran, penyangraian, pemisahan kulit, hingga pengolahan menjadi pasta, bubuk, dan cokelat batangan.

Pekerjaan tersebut membuka ruang bagi perempuan untuk terlibat langsung dalam rantai ekonomi kakao. Ketika laki-laki umumnya mengurus tanaman dan panen, para perempuan mengerjakan tahap pengolahan yang menentukan bentuk akhir produk.

Bagi Sitti, kegiatan itu bukan sekadar membuat cokelat. Kelompoknya juga harus menghitung apakah proses produksi sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.

Dalam satu kali produksi, KWT Bende Sejahtera menggunakan 10 kilogram biji kakao kering fermentasi. Bahan baku dibeli dari kebun anggota dengan harga acuan Rp40 ribu per kilogram, sehingga membutuhkan biaya Rp400 ribu.

Biaya bahan pendukung seperti gula, gula aren, susu bubuk, dan tambahan lemak kakao mencapai Rp150 ribu. Kemasan menghabiskan Rp100 ribu, sedangkan listrik, gas, dan air dicatat sebesar Rp50 ribu.

Total biaya produksi yang dicatat kelompok mencapai Rp700 ribu.

Dari bahan tersebut, mereka menghasilkan 80 batang cokelat ukuran 50 gram. Dengan harga jual Rp15 ribu per batang, produk itu berpotensi menghasilkan omzet Rp1,2 juta.

Selain cokelat batangan, terdapat 15 kemasan bubuk kakao ukuran 200 gram yang dijual Rp35 ribu per kemasan. Jika seluruh produk terjual, omzetnya mencapai Rp525 ribu.

Dengan demikian, satu kali produksi berpotensi menghasilkan omzet Rp1,725 juta. Setelah dikurangi biaya yang dicatat sebesar Rp700 ribu, terdapat selisih Rp1,025 juta.

Selisih tersebut belum dapat disebut keuntungan bersih karena masih memperhitungkan seluruh komponen usaha, termasuk tenaga kerja, penyusutan peralatan, transportasi, pemasaran, dan kemungkinan produk yang belum terjual.

Namun, hitungan itu memperlihatkan peluang yang sedang dibangun kelompok perempuan tersebut. Kakao tidak harus berhenti sebagai biji yang dijual dari kebun. Melalui pengolahan, komoditas yang sama dapat menjadi beberapa jenis produk dengan harga jual berbeda.

Sitti mengatakan, kelompoknya melakukan produksi sekitar tiga hingga empat kali dalam sebulan. Jumlahnya bergantung pada ketersediaan biji kakao dan pesanan. Hasil penjualan dikumpulkan, sebagian masuk kas kelompok, sedangkan bagian lainnya digunakan untuk upah kerja dan pembagian hasil kepada anggota.

Persoalannya, penjualan belum berlangsung stabil setiap hari.

Pameran dan expo yang difasilitasi melalui program PT Vale Indonesia Tbk maupun pemerintah daerah masih menjadi saluran pemasaran terbesar. Dalam kegiatan tersebut, produk KWT Bende Sejahtera kerap habis terjual.

Di luar pameran, kelompok menitipkan produk di pusat oleh-oleh di Kolaka Timur dan sejumlah kafe di Kolaka. Mereka juga menerima pesanan khusus dari instansi pemerintah maupun perusahaan, terutama untuk suvenir rapat dan kegiatan.

Saluran tersebut telah membuka akses pasar, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan usaha yang berkelanjutan. Produksi masih mengikuti ketersediaan bahan baku dan pesanan. Ketika pameran selesai atau pesanan berkurang, kelompok harus kembali mencari cara agar produknya tetap terjual.

Di titik inilah tantangan usaha KWT Bende Sejahtera berada. Kemampuan mengolah kakao sudah tumbuh, tetapi kepastian pasar dan kesinambungan produksi masih harus diperkuat.

Perjuangan kelompok perempuan itu juga bergantung pada keadaan kebun. Sebab, cokelat batangan dan bubuk kakao yang mereka hasilkan tetap membutuhkan biji berkualitas sebagai bahan baku.

(ROP)

Kepala Desa Bende, Hamzah M, mengingat masa ketika kakao hampir ditinggalkan masyarakat. Serangan hama dan perubahan pilihan pekerjaan membuat perhatian warga terhadap tanaman tersebut menurun.

“Kemarin itu sempat mau hilang ini cokelat,” kata Hamzah.

Upaya menghidupkan kembali kakao mulai dilakukan melalui program pemberdayaan masyarakat PT Vale Indonesia Tbk yang berjalan sekitar dua tahun terakhir. Tahap awal program berfokus pada perbaikan budidaya dan peningkatan pengetahuan petani.

Agusasia, pendamping program demplot kakao, menjelaskan bahwa salah satu persoalan yang ditemukan adalah penggunaan tanaman dari benih lokal dan klon lama dengan produktivitas rendah.

Perbaikan dilakukan melalui teknik sambung samping dan sambung pucuk, serta penggunaan klon yang direkomendasikan, antara lain MCC-01, MCC-02, Sulawesi-1, dan Sulawesi-2.

Petani juga mengikuti Sekolah Lapang Pengendalian Buah Kakao (SLPBK) sebanyak 12 kali pertemuan. Materinya mencakup perbaikan ekosistem kebun, pemangkasan, pemupukan berimbang, pemanfaatan kulit kakao menjadi kompos, dan pengendalian hama.

Pendekatan tersebut tidak hanya menitikberatkan pada penanganan buah yang terserang PBK, tetapi juga memperbaiki kondisi kebun secara keseluruhan. Serangan hama tidak cukup dihadapi dengan perlakuan kimia tanpa memperhatikan pemangkasan, pemupukan, dan perawatan tanaman.

Agusasia menyebut produktivitas yang sebelumnya berada pada kisaran 400–500 kilogram per hektare mulai meningkat. Pada kebun yang mendapatkan perbaikan budidaya, hasilnya dilaporkan mencapai sekitar 700 kilogram hingga 1,2 ton per hektare. Angka tersebut merupakan capaian yang disampaikan pendamping pada kebun binaan, bukan rata-rata seluruh kebun kakao di wilayah itu.

Perubahan serupa dirasakan Rahmat, Ketua Forum Kakao Mandara. Ia mulai serius mengembangkan kakao sekitar 2020. Saat memiliki penghasilan sebagai pegawai negeri sipil, ia memilih membeli kebun kakao yang belum sepenuhnya produktif ketimbang membeli kendaraan.

Rahmat kini memiliki sekitar 600 pohon kakao. Setelah tanaman diperbaiki melalui sambung pucuk, pohon-pohon tersebut mulai berproduksi sekitar 18 bulan kemudian.

Ia menyebut hasil kebunnya meningkat dari sekitar 50 kilogram menjadi 70–80 kilogram per bulan. Angka itu merupakan catatan produksi kebunnya sendiri, bukan gambaran seluruh petani di Bende.

Kenaikan harga kakao turut memberi peluang bagi petani. Rahmat menyebut harga yang dahulu berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram kini berada pada kisaran Rp80 ribu sampai Rp90 ribu.

Namun, harga yang lebih baik belum berarti persoalan budidaya selesai. Musim kemarau masih memengaruhi ketersediaan bahan tanam. Rahmat mengatakan kekeringan dapat membuat buah tidak memiliki lendir atau pulp yang cukup, sehingga biji tidak berkembang dengan baik.

Di lokasi pembibitannya terdapat sekitar 3.500 polibag, sementara di lokasi lain jumlahnya diperkirakan mencapai 7.000. Akan tetapi, ketersediaan wadah tanam tidak selalu sejalan dengan jumlah bibit yang layak. Kualitas biji tetap bergantung pada kondisi buah dan tanaman induk.

Rahmat memperkirakan luas kebun kakao di Bende sekitar 400 hektare dan di wilayah Silea sekitar 100 hektare. Ia berharap penguatan pembibitan dan pendampingan petani terus dilakukan agar kebangkitan kakao tidak berhenti pada kebun-kebun percontohan.

Bagi KWT Bende Sejahtera, persoalan di kebun tersebut berhubungan langsung dengan keberlangsungan usaha. Jika pasokan biji berkurang, produksi cokelat ikut terhambat. Jika pasar tidak berkembang, produk yang sudah dibuat belum tentu segera berubah menjadi pendapatan.

Kepala Desa Bende, Hamzah M, berharap dukungan pembibitan diperkuat dan kelompok memiliki rumah produksi khusus. Ia membayangkan Bende dapat menjadi tempat pengolahan kakao, bukan hanya dari kebun setempat, tetapi juga dari wilayah sekitar.

Harapan itu sejalan dengan rencana pengembangan program yang disampaikan Lalu Nofa Setiawan Putra, Manager External Relation Regional & SDP Growth PT Vale Indonesia Tbk.

Lalu menjelaskan, program yang berjalan sekitar dua tahun tersebut pada tahap pertama berfokus pada budidaya. Dalam pelaksanaannya, masyarakat mulai mengembangkan pengolahan hasil panen menjadi produk cokelat.

Pada tahap berikutnya, perusahaan berencana memperkuat pemasaran dan kelembagaan petani. Dukungan bibit dan pupuk pada tahap awal diharapkan menjadi stimulus agar masyarakat dapat melanjutkan kegiatan secara mandiri.

Lalu juga menyebut sejumlah eksportir telah datang untuk menyosialisasikan kebutuhan dan standar biji kakao. Namun, ekspor belum berlangsung. Hubungan dengan calon pembeli atau offtaker masih menjadi bagian dari rencana pengembangan berikutnya.

Artinya, perjalanan kakao Bende menuju pasar yang lebih luas masih membutuhkan proses. Perbaikan kebun harus berjalan bersama penguatan kelembagaan, kualitas produk, dan kepastian pembeli.

Bagi Sitti Aminah dan 11 anggota KWT Bende Sejahtera, perubahan itu sudah dimulai dari ruang produksi sederhana: mengolah biji kakao menjadi produk yang bisa dipasarkan. Mereka kini mengambil bagian dalam tahapan ekonomi yang sebelumnya lebih banyak berhenti pada penjualan hasil kebun.

Tetapi, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa batang cokelat yang dicetak atau berapa besar omzet yang tercatat dalam satu kali produksi. Yang lebih menentukan adalah apakah usaha itu mampu berjalan secara rutin, memberikan pendapatan yang layak, dan bertahan ketika pameran maupun dukungan program tidak lagi menjadi penopang utama.

Kakao Bende pernah hampir hilang dari perhatian warga. Kini, tanaman itu kembali dirawat, sementara perempuan desa ikut mengolah hasilnya menjadi produk bernilai tambah.

Mereka sedang membangun sesuatu yang lebih panjang daripada satu kali produksi cokelat: usaha yang diharapkan mampu memberi tempat bagi perempuan dalam ekonomi kakao, sekaligus membuat kebangkitan komoditas desa itu tidak berhenti di kebun.

 

Penulis: Riki Okta Putra
Editor: ROP