BERITA TERKINIEKONOMI & BISNIS

Menjaga Rasa Pempek Palembang di Era Digital: Ketika UMKM Kuliner Tumbuh Bersama Layanan Perbankan

×

Menjaga Rasa Pempek Palembang di Era Digital: Ketika UMKM Kuliner Tumbuh Bersama Layanan Perbankan

Sebarkan artikel ini
ROP

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Aroma kuah cuko yang khas dan pempek yang baru diangkat dari penggorengan masih menjadi daya tarik kuliner khas Palembang. Di tengah persaingan usaha dan perubahan pola transaksi masyarakat, pelaku UMKM kuliner terus berupaya bertahan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Di kawasan Sukarami, Kota Palembang, Siti membuktikan bahwa usaha rumahan dapat berkembang apabila diiringi inovasi dan dukungan layanan keuangan yang memadai. Usaha pempek yang dirintis sejak 2021 itu kini menjadi sumber penghasilan keluarga sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

“Awalnya hanya menerima pesanan dari tetangga dan keluarga. Lama-kelamaan pelanggan bertambah dan banyak yang memesan untuk acara maupun konsumsi sehari-hari,” ujar Siti saat ditemui di tempat usahanya di Sukarami, Juni 2026.

Saat ini, usaha pempek tersebut mempekerjakan dua orang karyawan dan memproduksi berbagai jenis pempek untuk memenuhi permintaan pelanggan yang datang langsung maupun melalui pemesanan daring.

Dengan omzet rata-rata mencapai sekitar Rp15 juta per bulan, usaha tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sektor kuliner lokal tetap mampu bertahan di tengah persaingan usaha yang semakin ketat.

Namun perjalanan usaha tersebut tidak selalu mudah. Kenaikan harga bahan baku, persaingan usaha, hingga perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Kadang harga ikan naik, bahan baku juga naik. Kalau tidak bisa menyesuaikan usaha, tentu akan sulit bertahan,” katanya.

Menurut Siti, pemanfaatan layanan digital menjadi salah satu cara untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia telah menggunakan QRIS Bank Sumsel Babel untuk mempermudah transaksi pelanggan.

“Sekarang banyak pelanggan yang lebih suka bayar pakai QRIS. Jadi transaksi lebih cepat dan praktis,” ujarnya.

Selain memanfaatkan transaksi digital, Siti juga memperoleh fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Sumsel Babel yang digunakan untuk menambah modal usaha dan mendukung operasional produksi.

“Modal usaha sangat membantu untuk membeli bahan baku dan mendukung produksi supaya usaha bisa terus berjalan,” katanya.

Digitalisasi transaksi juga memberikan kemudahan dalam pencatatan keuangan dan pengelolaan usaha sehari-hari. Menurut Siti, pelanggan kini semakin terbiasa menggunakan pembayaran non-tunai.

Bank Sumsel Babel sendiri terus mendorong penggunaan transaksi digital melalui berbagai program promosi QRIS yang menyasar masyarakat dan pelaku UMKM.

Sepanjang beberapa tahun terakhir, Bank Sumsel Babel menghadirkan berbagai program promo transaksi QRIS melalui aplikasi BSB Mobile, mulai dari promo Hari Kemerdekaan, promo Ramadan, hingga program khusus pergantian tahun. Berbagai program tersebut memberikan potongan harga dan insentif transaksi kepada nasabah yang menggunakan QRIS.

Bagi pelaku UMKM seperti Siti, program tersebut turut mendorong masyarakat untuk semakin terbiasa melakukan transaksi digital.

“Konsumen sekarang banyak yang langsung bertanya apakah bisa bayar pakai QRIS. Jadi transaksi lebih cepat dan tidak perlu menyediakan uang tunai,” katanya.

Perkembangan transaksi digital di Sumatera Selatan juga menunjukkan tren yang terus meningkat. Bank Indonesia mencatat penggunaan QRIS di Sumatera Selatan terus bertumbuh seiring meningkatnya adopsi pembayaran digital oleh masyarakat dan pelaku UMKM.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menyebut jumlah pengguna QRIS di Sumatera Selatan telah melampaui target yang ditetapkan.

“Jumlah pengguna QRIS di Sumsel sudah melampaui sasaran yang kami tetapkan.”

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Ricky P. Gozali, mengatakan transaksi pembayaran digital menunjukkan pertumbuhan yang semakin kuat.

“Kanal-kanal pembayaran nontunai berbasis digital tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan kanal nontunai konvensional.”

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Sumatera Selatan, Arifin Susanto, juga menilai pertumbuhan QRIS menunjukkan semakin meningkatnya inklusi keuangan masyarakat dan pelaku UMKM di daerah.

Bagi pelaku usaha kecil, pertumbuhan transaksi digital tersebut memberikan peluang baru untuk menjangkau konsumen dan meningkatkan efisiensi usaha.

Salah seorang pelanggan, Jery, mengaku kemudahan pembayaran digital menjadi salah satu alasan dirinya berbelanja di usaha pempek milik Siti.

“Kalau bayar pakai QRIS lebih praktis karena tidak perlu menyiapkan uang tunai. Prosesnya juga cepat,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang karyawan, Rina, mengatakan usaha tersebut turut membantu perekonomian keluarganya.

“Saya bersyukur bisa bekerja di sini karena membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Keberadaan UMKM kuliner seperti usaha milik Siti menjadi bagian penting dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat. Selain menyediakan lapangan pekerjaan, sektor kuliner juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Direktur Utama Bank Sumsel Babel, Achmad Syamsudin, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

“Bank Sumsel Babel telah berkomitmen untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.”

Menurutnya, penguatan UMKM tidak hanya dilakukan melalui akses pembiayaan, tetapi juga melalui edukasi dan pengembangan kapasitas pelaku usaha.

“BSB memiliki visi dan misi untuk menjadi mitra yang handal bagi para pelaku UMKM dalam mewujudkan potensi bisnis mereka.”

Pimpinan Divisi Pengembangan Produk dan Pemasaran Bank Sumsel Babel, Ahmad Azhari, juga menegaskan bahwa pengembangan UMKM menjadi salah satu fokus perusahaan.

“Fokus kami adalah menjadi sahabat UMKM di wilayah Sumsel dan Babel untuk naik kelas menuju UMKM yang modern, digital dan global. Dengan UMKM naik kelas, ekonomi tumbuh dan masyarakat semakin sejahtera.”

Pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya, Dr. Mohamad Adam, S.E., M.E., menilai bahwa akses pembiayaan, digitalisasi transaksi, dan literasi keuangan menjadi faktor penting dalam memperkuat daya tahan UMKM.

Menurutnya, bank pembangunan daerah memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan usaha kecil karena lebih memahami kebutuhan ekonomi masyarakat lokal.

Bagi Siti, usaha yang dijalankannya bukan hanya soal keuntungan semata.

“Saya berharap usaha ini terus berkembang dan bisa memberikan manfaat bagi keluarga maupun orang yang bekerja bersama kami,” ujarnya.

Di tengah perubahan perilaku konsumen dan perkembangan transaksi digital, usaha pempek di Sukarami tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

Dari dapur sederhana, dua orang memperoleh pekerjaan, transaksi digital semakin berkembang, dan sebuah usaha lokal terus bertahan serta tumbuh bersama perkembangan ekonomi daerah.

Bagi Siti, setiap pempek yang diproduksi bukan sekadar makanan khas Palembang. Di baliknya terdapat harapan tentang keluarga, pekerjaan, dan masa depan usaha kecil yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.