BeritaBERITA TERKINIEKONOMI & BISNISNUSANTARA

Menukar Karbon dengan Harapan: Jejak Hijau Pertamina di Sungsang IV

×

Menukar Karbon dengan Harapan: Jejak Hijau Pertamina di Sungsang IV

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI/ ROP

Pagi yang Menyembuhkan di Ujung Muara

Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

MATTANEWS.CO, BANYUASIN – Kabut pagi itu menggantung pelan di atas air payau. Di kejauhan, samar-samar terdengar suara perahu ketinting menembus kabut, sementara di tepi muara, seorang perempuan berseragam biru laut menunduk di antara akar-akar mangrove yang basah oleh embun. Jemarinya cekatan menekan batang kecil berdaun muda ke dalam lumpur hitam yang lembut.

Itulah Siti Rahmah (42), warga Desa Sungsang IV, Banyuasin. Ia sudah terbiasa dengan lumpur, asin air laut, dan teriknya matahari. Tapi pagi itu berbeda. Ada yang tumbuh bukan hanya di tanah, tapi juga di hatinya sebuah rasa percaya, bahwa alam yang dulu mereka anggap tak bisa diselamatkan, kini perlahan pulih di depan mata.

“Kalau kata orang Pertamina, pohon ini bisa menyerap karbon dan bikin udara bersih,” ujarnya di lokasi penanaman mangrove Tanjung Carat, 3 September 2024 sambil mengusap keringat di dahi. “Saya tidak tahu banyak soal karbon, tapi saya tahu udara di sini sekarang lebih sejuk dari dulu.”

Angin laut membawa aroma asin yang khas. Burung kuntul berputar di udara, menukik sesekali di antara pucuk mangrove yang baru tumbuh. Suara ombak yang dulu memukul pantai kini mereda, tertahan oleh ribuan batang mangrove yang menancap kokoh seperti barisan penjaga kehidupan.

Beberapa tahun lalu, kawasan ini sekarat. Abrasi menggigit pantai sedikit demi sedikit, rumah-rumah nelayan di tepi laut terancam hanyut, dan hasil tangkapan ikan kian menipis. Banyak yang memilih pergi ke kota, meninggalkan tanah kelahiran mereka yang kian tergerus gelombang.

Namun kini, wajah pesisir itu berubah. Garis pantai yang dulu terkelupas kini mulai hijau lagi. Udang kecil dan kepiting bakau muncul di sela akar, dan anak-anak sekolah datang setiap akhir pekan untuk menanam bibit baru.

Semua berawal dari sebuah program kecil yang tumbuh menjadi harapan besar inisiatif Pertamina RU III Plaju menanam ribuan mangrove di kawasan Tanjung Carat, Desa Sungsang IV. Bagi warga, itu bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan, tapi babak baru dalam kisah mereka bertahan hidup di ujung muara Sungai Musi.

 

Dari Pesisir Rapuh ke Garis Hijau Harapan

Desa Sungsang IV terletak di muara Sungai Musi, sekitar dua jam perjalanan dari Palembang. Wilayah ini dulunya dikenal rawan abrasi.

“Setiap tahun, garis pantai kami bergeser beberapa meter,” tutur H. Mursalin, Kepala Desa Sungsang IV, di Balai Desa Sungsang IV, 2 September 2024. “Perahu kami sering rusak, dan rumah-rumah di tepi laut terancam hanyut.”

Perubahan mulai terasa sejak 2023, ketika Pertamina Kilang Internasional Refinery Unit III Plaju meluncurkan program penanaman 7.800 batang mangrove di kawasan Tanjung Carat. Program ini menjadi bagian dari komitmen Pertamina terhadap Natural-Based Solution (NBS) dan dekarbonisasi pilar penting dalam strategi keberlanjutan perusahaan.

“Program mangrove ini bukan sekadar menanam pohon,” jelas Taufik Adityawarman, Area Manager Communication, Relations & CSR RU III Plaju, saat diwawancarai di Kantor Kilang Pertamina Plaju, Palembang, 29 Agustus 2024. “Kami ingin mengembalikan fungsi ekosistem pesisir sebagai penyangga kehidupan masyarakat sekaligus bagian dari mitigasi perubahan iklim.”

 

Mangrove: Penukar Karbon, Penjaga Hidup

Menurut kajian KLHK, satu hektar mangrove mampu menyerap hingga 100 ton karbon per tahun tiga kali lebih besar dibanding hutan darat biasa. Dengan luas tanam di Sungsang IV sekitar 10 hektar, maka program ini berpotensi menyerap sekitar 1.000 ton karbon per tahun, sekaligus menahan abrasi dan meningkatkan keanekaragaman hayati laut.

Kini, di sela-sela akar mangrove muda yang mulai tumbuh, udang kecil dan kepiting bakau kembali muncul.

“Dulu, di sini lumpur mati,” kata Ujang (36), nelayan Desa Sungsang IV, saat ditemui di dermaga kecil dekat lokasi tanam, 3 September 2024. “Sekarang banyak hewan laut kecil. Artinya laut kita mulai sehat lagi.”

Mangrove menjadi contoh nyata bagaimana solusi alam bisa berpadu dengan strategi energi. Di tengah upaya global menekan emisi karbon, Pertamina menempatkan proyek-proyek berbasis alam seperti di Sungsang IV sebagai natural carbon sink—cara paling alami untuk menukar karbon dengan oksigen.

 

Energi Hijau dari Hulu ke Hilir

Program mangrove di Sungsang IV sejatinya bukan inisiatif tunggal. Ia merupakan bagian dari visi besar Pertamina menuju “Global Green Energy Company” dan mendukung cita-cita nasional menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.

Melalui berbagai lini bisnisnya, Pertamina kini memimpin produksi energi panas bumi (geothermal) di Indonesia dengan kapasitas lebih dari 700 MW, atau sekitar 82 % pangsa panas bumi nasional. Di sisi lain, Pertamina juga mengembangkan Green Energy Station (GES) di sejumlah SPBU dengan panel surya dan EV charging station, serta memperluas produksi bioenergi berbasis sawit dan limbah organik.

“Energi hijau bukan hanya soal listrik atau bahan bakar,” kata Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina, dalam wawancara bersama media nasional di Jakarta, 25 Juli 2024. “Ini juga soal bagaimana kita mengelola sumber daya alam agar tetap lestari, dan memberi nilai tambah sosial serta ekonomi bagi masyarakat.”

 

Energi untuk Masyarakat: Dari Hutan ke Dapur

Selain manfaat ekologis, program mangrove ini juga membuka jalan bagi pemberdayaan ekonomi warga. Melalui kelompok binaan desa, Pertamina membantu pelatihan pengolahan hasil mangrove menjadi produk bernilai jual seperti sirup, sabun alami, dan olahan makanan ringan berbasis buah mangrove (Sonneratia caseolaris).

“Dulu ibu-ibu di sini hanya membantu suami di rumah,” ungkap Nurlela, Ketua Kelompok Perempuan Cinta Bakau, ketika ditemui di rumah produksi olahan mangrove, 3 September 2024. “Sekarang kami bisa punya usaha kecil sendiri. Kami jual sirup mangrove ke Palembang, bahkan ikut pameran.”

Pertamina juga mendukung penyediaan sarana edukasi dan ekowisata di kawasan tersebut, menjadikan Sungsang IV bukan hanya lokasi rehabilitasi, tapi juga destinasi pembelajaran lingkungan. Anak-anak sekolah kerap datang untuk belajar menanam mangrove sambil memahami pentingnya menjaga bumi.

“Program seperti ini memberi multiplier effect,” tambah Taufik Adityawarman, dalam pernyataannya di sela kegiatan monitoring lapangan di Tanjung Carat, 3 September 2024. “Lingkungan pulih, masyarakat berdaya, ekonomi lokal tumbuh.”

 

Data dan Dampak: Energi yang Terukur

Menurut data Pertamina Kilang Plaju, hingga pertengahan 2024:

  • Telah ditanam 7.800 bibit mangrove di area ±10 hektar.
  • Potensi serapan karbon mencapai 1.000 ton CO₂ per tahun.
  • Abrasi pantai menurun hingga 40 % dibanding sebelum proyek dimulai.
  • Lebih dari 60 keluarga nelayan terlibat dalam kegiatan penanaman dan pemeliharaan.
  • Kegiatan turut melibatkan pelajar, komunitas lokal, dan organisasi lingkungan.

Secara nasional, hingga 2024, Pertamina telah merehabilitasi lebih dari 1.000 hektar kawasan mangrove di 10 provinsi mulai dari Riau, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi Selatan sebagai bagian dari program Hutan Pertamina dan TJSL Energi Hijau.

 

Dari Akar Mangrove ke Akar Transisi Energi

Langkah-langkah seperti di Sungsang IV menunjukkan wajah baru Pertamina: bukan lagi sekadar perusahaan minyak dan gas, tapi motor penggerak transisi energi nasional. Di balik akar mangrove yang menancap di lumpur, tersimpan simbol perubahan: bahwa energi tidak hanya menyala dari kilang dan pipa, tapi juga dari lumpur, daun, dan tangan-tangan masyarakat yang menanam harapan.

“Energi itu tidak selalu soal minyak,” ujar H. Mursalin, saat berbincang santai di dermaga desa, 3 September 2024. “Bagi kami, energi adalah hidup yang terus tumbuh seperti mangrove yang menahan gelombang.”

 

Penutup: Menyalakan Energi Harapan

Sore itu, ketika matahari turun di ufuk barat, siluet mangrove muda tampak seperti garis hijau di tepi laut. Di udara, aroma asin bercampur lumpur dan daun basah. Siti menatap bibit yang baru ia tanam, lalu menepuk tanahnya pelan.

“Kalau nanti anak saya besar, saya mau ajak dia lihat pohon ini,” katanya pada 3 September 2024, di tepi Tanjung Carat. “Biar dia tahu, kita pernah menanam harapan.”

Itulah energi sejati bukan sekadar listrik, bukan hanya bahan bakar, tapi energi hidup yang menumbuhkan kembali bumi.
Dan di pesisir Sungsang IV, energi itu kini hijau warnanya.