EKONOMI & BISNIS

Merebaknya Virus Corona, Harga Karet Sumsel Malah Turun

×

Merebaknya Virus Corona, Harga Karet Sumsel Malah Turun

Sebarkan artikel ini

Reporter : Vitor

Palembang, Mattanews.co Wabah Pneumonia dari Virus Corona yang masih mencekam dunia, terutama di Tiongkok, ternyata berpengaruh pada harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel).

Bahkan, sejak beredarnya pemberitaan Virus Corona, harga karet menurun hingga 5 persen sepanjang pekan ketiga bulan Januari 2020, baik karet kadar 60 persen maupun 100 persen.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian menilai, penurunan harga karet dipengaruhi wabah Virus Corona di Tiongkok, yang membuat permintaan dari negara pembeli itu melemah.

Dia mengatakan, harga karet dengan kadar 100 persen mencapai Rp16.290 per Kilogram pada tanggal 24 Januari 2020.

Harga itu mengalami penurunan sebanyak Rp861, dibandingkan periode tanggal 20 Januari 2020.

“Penurunan harga karet ini terjadi pada semua kadar kering karet baik, mulai dari yang kadar 40 persen hingga untuk karet kadar 100 persen,” ucapnya, Selasa (28/1/2020).

Penurunan harga karet di Sumsel juga ternyata berlaku untuk harga karet secara Nasional.

Kondisi itu, menurut dia, tidak terlepas dari berbagai situasi global.

“Wabah virus korona di Tiongkok yang akan membuat kegiatan ekonomi Tiongkok terhenti sehingga pertumbuhan ekonomi akan turun. Ini berakibat permintaan karet Tiongkok berkurang, apalagi Tiongkok adalah importir terbesar dari karet alam,” ucapnya.

Menurutnya, permintaan dari industri ban diprediksi meningkat 1,5 persen sepanjang tahun 2020. Akibat pulihnya perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Namun kembali terganggu dengan wabah virus korona tersebut.

“Harga merosot ketika AS dan Iran mundur dari konflik. Ketika konflik Amerika Serikat dan Iran memanas harga karet terkerek naik,” ujaenyq.

Rudi menilai, pemerintah pusat perlu berupaya untuk mendongrak harga karet dalam negeri. Serapan konsumsi karet nasional harus ditingkatkan.

Terutama proyek jalan menggunakan aspal karet harus diperluas. Pemerintah daerah, BUMD maupun BUMN juga harus menggunakan bahan baku karet dalam proyeknya.

Dia melihat, perlu ada upaya lain, seperti inovasi baru melalui pemanfaatan karet dan biji karet alam sebagai bahan baku nabati, selain kelapa sawit supaya permintaan karet meningkat kembali.

Editor : Nefri