BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHAN

Mesin Robin Bising di Kapuas, Forkompimcam Bika Turun Tangan: Himbauan Keras tapi Humanis

×

Mesin Robin Bising di Kapuas, Forkompimcam Bika Turun Tangan: Himbauan Keras tapi Humanis

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Rabu pagi (4/3) di tepi Sungai Kapuas, Dusun Patah Sandung, Desa Penyeluang mendadak seperti pasar darurat.

Bukan jual beli hasil kebun, melainkan mesin-mesin pompa robin berderet, selang melintang di pasir, dan warga termasuk beberapa ibu dengan nampan pendulangan sibuk mengais butir emas dari lumpur.

Tepat pukul 10.00 WIB, Forkompimcam Kecamatan Bika muncul di lokasi.

Rombongan dipimpin Camat Bika Paulinus Totong, bersama Kapolsek Bika IPDA Fransiskus Catur W dan enam personel Polsek, Batibung Pos Babinsa Bika Serka Anwar plus satu anggota, serta Kepala Dusun Patah Sandung Akhim.

Mereka datang bukan untuk razia, tapi untuk bicara. Warga yang sedang bekerja diminta berkumpul di lapak darurat beratapkan terpal.

Camat Totong membuka dengan nada datar aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di titik itu harus dihentikan.

Ia menyebut angka yang terlihat kasat mata sekitar 20 set mesin robin dan fakta bahwa pendulangan manual pun tetap melanggar aturan bila tanpa izin resmi dan kajian lingkungan.

Kapolsek Bika IPDA Catur kemudian mengambil giliran bicara. Dengan suara tenang tapi tegas, ia menegaskan konsekuensi hukum jika warga mengulangi kegiatan itu.

“Kami tidak ingin ada warga yang berurusan dengan hukum. Tapi kalau setelah peringatan ini masih ditemukan mesin terus bekerja, kami wajib proses sesuai aturan. Emas hari ini bisa jadi masalah seumur hidup besok. Kami lebih baik mengingatkan sekarang daripada menangis di kemudian hari, ” ujarnya di depan warga yang sebagian besar menunduk.

Babinsa menempati sisi lain lingkaran, mencatat nama-nama warga yang bersedia membongkar peralatan atas kemauan sendiri.

Seorang bapak paruh baya sempat bertanya pelan: “Kalau mesin kami angkat hari ini, besok anak makan apa ?

Tak ada jawaban instan yang terdengar justru janji Forkompimcam untuk mendorong pembinaan dan menyampaikan aspirasi warga ke pihak kabupaten.

Para ibu pendulang sebagian besar diam, hanya mengangguk ketika Akhim mengingatkan mereka tentang anak-anak yang bermain di air keruh bekas sedimen.

Pukul 11.00 WIB pertemuan ditutup.

Dalam hitungan hari, mesin-mesin itu diharapkan dilepas dan lokasi ditinggalkan langkah persuasif yang jadi kesempatan terakhir sebelum tindakan tegas.

Forkompimcam Bika mengulang harapannya kesadaran kolektif soal lingkungan dan keamanan wilayah lebih berharga daripada kilau butiran emas yang cepat habis.

Di sungai, arus Kapuas tetap mengalir di darat, warga Patah Sandung pulang dengan pikiran yang jauh lebih berat daripada karung pasir mereka. (*)