MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Kian meluasnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan membuat pemerintah pusat ambil bagian dalam penanganan melalui upaya TMC (Teknik Modifikasi Cuaca) atau hujan buatan. Upaya itu dilakukan setelah melihat adanya potensi awan penghujan di Sumsel.
Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan, hari ini (1/10) pesawat TMC tiba di Palembang dan akan langsung menyemaikan bibit garam diatas awan untuk mengintensifkan hujan buatan. “Banyak daerah sudah kering, sehingga sangat mudah Karhutla. Hari ini pesawatnya datang, dan mudah-mudahan bibit awan penghujannya banyak sehingga TMC bisa dilakukan maksimal,” ujarnya, Minggu (1/10).
Ia menyebut, di wilayah OKI sudah 72 hari tanpa hujan. Semua kanal dan sungai mengering, membuat tim pemadam Karhutla kesulitan mendapatkam air. “Lima helikopter waterbombing yang ada akan dimaksimalkan setiap hari, terutama di Desa Jungkal, Pampangan, OKI. Saat ini daerah itu terbakar hebat, karena lahan gambut yang sulit dipadamkan,” jelasnya.
Deru juga telah menginstrusikan kepada Dinas Pendidikan Sumsel untuk memundurkan jam masuk sekolah pada semua tingkatan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA. Pasalnya, sudah tiga hari ini, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palembang di atas 300 mikrogram per meter kubik atau menghitam (kategori bahaya).
“Mulai Senin (2/10) sudah ditunda jam masuk sekolah. Hingga udara membaik, jam masuk sekolah diundur,” katanya.
Kebijakan itu dilakukan untuk meminimalisir infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagi para pelajar. Kepala Bidang SMA Disdik Sumsel Joko Edi Purwanto menambahkan, tingkat SMA sederajat yang menjadi kewenangannya sudah dibolehkan mengubah jam masuk sekolah.
“Jam masuk sekolah boleh diubah atau diundur satu jam dari jadwal, menyesuaikan kondisi kabut asap,” jelasnya.
Ia menjelaskan, sementara ini diambil kebijakan untuk memundurkan jadwal masuk sekolah menjadi pukul 08.00 WIB, karena pagi hari kabut asap sangat tebal.
Selain itu, pihak sekolah juga diminta mengurangi kegiatanbsiswa di luar kelas. “Jika kondisi kabut asap semakin pekat, bisa diambil kebijakan merumahkan siswa atau belajar secara daring,” tambahnya.
Sementara, M Iqbal Alisyahbana, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mengatakan, TMC akan dilakukan satu minggu ke depan. “Dari hasil koordinasi dengan BMKG, potensi awan penghujan termonitor ada di Sumsel, sehingga TMC bisa dilakukan,” jelasnya.
Menurutnya, TMC menjadi salah satu upaya mengatasi kekeringan dan menekan Karhutla makin luas. Sementara pemadaman lewat udara dan darat juga terus dimaksimalkan. Kendala terbesar saat ini adalah angin kencang. “Fokus saat ini di lahan gambut wilayah OKI, salah satunya di Desa Jungkal karena Karhutla di wilayah itu menyebabkan asap menuju Palembang,” tambahnya.
Penguatan satgas, berupa penambahan personil juga sudah dilakukan. “Ke depan akan dibentuk satgas gabungan yang menyangga 4 kabupaten/kota rawan Karhutla, yakni OKI, Ogan Ilir, Banyuasin dan Palembang,” bebernya. Satgas itu terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni dan lainnya.














