BERITA TERKINI

Musim Hujan Datang, Dinkes Tulungagung Siaga Lonjakan Kasus DBD, Kabid P2P: Sudah 420 Kasus, 5 Meninggal Dunia

×

Musim Hujan Datang, Dinkes Tulungagung Siaga Lonjakan Kasus DBD, Kabid P2P: Sudah 420 Kasus, 5 Meninggal Dunia

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman demam berdarah dengue (DBD) seiring datangnya musim hujan. Meski sempat melandai dalam tiga bulan terakhir, pola tahunan menunjukkan kasus DBD berpotensi kembali melonjak.

Sepanjang tahun 2025, Tulungagung telah mencatat 420 kasus DBD dan dengue shock syndrome (DSS) dengan 5 kematian. Data ini menjadi sinyal agar masyarakat tak lengah menjaga kebersihan lingkungan.

Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Tulungagung, Dr. Desi Lusiana Wardhani, S.K.M., M.Kes., yang juga menjabat Plt Wakil Direktur RSUD dr. Iskak, mengatakan datangnya musim hujan menjadi fokus kewaspadaan utama.

“Sekarang posisi kita masih aman, tapi seminggu terakhir mulai turun hujan. Ini yang jadi kewaspadaan kami,” ujar Desi usai kegiatan bersama media di RSUD dr. Iskak Tulungagung, Rabu (29/10/2025) sore.

Puncak Kasus DBD Terjadi di Awal Musim Hujan

Desi menjelaskan, perbedaan ancaman DBD antara musim kemarau dan musim hujan cukup signifikan. Saat kemarau, sarang nyamuk Aedes aegypti vektor virus DBD lebih banyak ditemukan di dalam rumah, seperti kamar mandi.

Namun, di musim hujan, banyak wadah di luar rumah yang menampung air hujan dan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk tersebut. Pola tahunan menunjukkan lonjakan kasus DBD biasanya terjadi di awal musim hujan dan memuncak pada Desember.

“Ini yang perlu diwaspadai. Saat hujan mulai turun, nyamuk akan cepat berkembang biak jika kita tidak rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” tegasnya.

Dinkes Gencarkan Gerakan 3M Plus dan Fogging Terarah

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan kembali mengintensifkan Gerakan 3M Plus, yakni: Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah air, dan Mengubur barang bekas yang bisa menampung air. Tambahan “Plus” meliputi penggunaan krim anti nyamuk, kelambu, hingga ikan pemakan jentik. “Intinya, hilangkan tempat berkembang biaknya nyamuk,” jelasnya.

Selain itu, Dinkes juga menyiapkan sarana pengasapan (fogging) untuk wilayah yang terkonfirmasi ada kasus DBD.

“Untuk setiap titik serangan, kami lakukan fogging dalam radius 100 meter. Stok bahan dan mesin fogging masih sangat cukup,” tambahnya.

Menurut Desi, kuota fogging tahun 2025 masih banyak tersisa karena tak digunakan sejak April 2025. Semua peralatan kini disiagakan di titik-titik rawan.

Tren Kasus DBD Meningkat Tajam Tiga Tahun Terakhir

Berdasarkan data Dinkes Tulungagung tahun 2023: 206 kasus DBD, 3 meninggal dunia, tahun 2024: 1.440 kasus DBD/DSS, 17 meninggal dunia, sedangkan tahun 2025 (hingga Oktober): 420 kasus, 5 meninggal dunia.

Kasus tertinggi terjadi pada Januari 2025 (144 kasus, 3 meninggal), disusul Februari 2025 (100 kasus, 1 meninggal), dan Juni 2025 (23 kasus, 1 meninggal).

Lonjakan tersebut, lanjut Desi, banyak dipicu oleh fenomena kemarau basah, di mana hujan masih turun pada periode yang seharusnya kering, sehingga memperbanyak tempat nyamuk bertelur.

Dinkes Ingatkan Warga: Cegah Sebelum Terlambat

Dinkes Tulungagung menegaskan, kunci pencegahan DBD bukan pada fogging, melainkan kebersamaan warga menjaga lingkungan. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik akan terus berkembang bila tempatnya tidak diberantas.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Bersihkan lingkungan, lakukan 3M Plus, dan jangan tunggu ada korban baru bertindak,” tutupnya.