MATTANEWS.CO, KUALA KAPUAS – Jajaran Pengerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kapuas, terus melakukan terobosan dengan berbagai macam cara. Guna terciptanya inovasi untuk memajukan rei generasi anak bangsa negeri tercinta ini, hal terbukti dengan terselenggranya acara Semiloka Tim Pengerak Se Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Dengan mengusung tema strategi Parenting dalam rangka meningkatkan Pendidikan Keluarga, hadir dalam momen sebagai narasumber dr. Aisyah Dahlan CMHt, CM. NlP sebagai pratiksi Neuro Parenting Skill pada Selasa 2 Juli 2024 dengan mengambil tempat Aula Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Kapuas siang.
Selama kegiatan berlangsung banyak hikmah yang bisa petik dari acara itu, salah satunya adalah dalam hal pola mendidik anak-anak keseharianya di suatu keluarga atau lebih tepat merajut bahtera rumah tangga. Demikian ungkap Agustina Sri Rejeki S Pd Ketua TP PKK Kabupaten Kapuas.
Lanjut istri orang nomor satu di Bumii Tingang Menteng Panunjung Tarumg ini membeberkan, momen yang diselenggarakan pada hari ini sangat penting dilaksanakan menginggat detik kita telah memasuki era industri 5.0. Artinya tak dapat dipungkiri lagi seirimg dengan kemajauan jaman dan canggijh tehknologi temti menjadi tuntutan bagi rei genarasi saat ini.
Sebab hal itu terlihat dari modernisasi canggih tehknologi seperti Gaway atau gedget yang menjadi andalan nomor satu bidang tehnolgi moderen detik sekarang. “Hal itu juga berpengaruh terhadap prilaku anak zaman melineal kala sekarang, oleh karena itu kita sebagai orang tua (ortu) wajib mengetahui gerak gerik dan prilaku anak kita. Dikarenakan hal itu pentimg di cermati guna mengetahui kecerdasan anak kita sejak dini,” urai dr Aisyah Dahlan.
Mengapa hal itu perlu kita laksanakan lanjutnya lagi, hal tersebut adalah salah satu indikator mengetahui tingkat kecerdasaan anak-anak lebih dini dengan berbagai macam prilaku mereka. Karena seperti yang kita ketahui bersama antara anak lelaki dan perempuan tentu dalam menyikapi pembelajaran dengan cara yang berbeda. Misalnya anak wanira atau perempuan dalam menalaah atau memahami suatu pelajaran condong lebih dominan bermain di otak kiri, artinya merelka lebih responsin dan tanggap dalam suatu materi yang di beri gurunya.
Sedangkan untuk anak-anak lelaki atau pria dalam menerima tau marespon lebih condong bermain otak sebelah kanan. Intinya mereka dominan tidak serius dalam mencermati materi yang diberikan oleh gurunya. “Karena masih ada keinginan bermain sesama usianya itulah membedakan antara otak dan kanan dalam prilaku anak-anak kita,” tandasnya.
Dirinya berharap, semoga dengan adanya kegiatan hari ini bisa mendorong para orang tua agar lebih teliti dan cermat lagi dalam pola mendidik anak-anak dalam keluarga masing-masing. Supaya menghindar adanya nuansa kekerasan dalam mendidik anak kita.(*)














