MATTANEWS.CO, OKI – PT Sampoerna Agro Tbk resmi mengakhiri penggunaan nama lamanya. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 13 Januari 2026, perusahaan perkebunan kelapa sawit itu menyepakati perubahan identitas menjadi PT Prime Agri Resources Tbk, menyusul rampungnya akuisisi oleh POSCO International Corporation senilai Rp14,8 triliun.
Perubahan nama dan logo tersebut telah memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan berlaku untuk seluruh entitas usaha di bawah perseroan. Manajemen menyatakan pergantian identitas korporasi tidak menimbulkan dampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan perusahaan.
Sekretaris Perusahaan, Eris Ariaman, mengatakan kegiatan usaha perseroan tetap berjalan seperti biasa.
“Penyesuaian hanya dilakukan pada aspek administratif, seperti dokumen perizinan, kontrak kerja sama, dan sarana komunikasi perusahaan,” ujarnya.
Akuisisi ini sekaligus menandai berakhirnya kendali keluarga Putera Sampoerna atas emiten agribisnis yang selama hampir dua dekade dikenal sebagai salah satu pemain utama perkebunan sawit nasional. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2007, Sampoerna Agro tercatat memiliki dan mengelola perkebunan kelapa sawit di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Masuknya POSCO International, perusahaan perdagangan dan energi global asal Korea Selatan, mencerminkan pergeseran orientasi bisnis perseroan. POSCO dikenal agresif memperluas portofolio energi baru dan terbarukan, termasuk pengembangan biofuel berbasis komoditas nabati.
Eris Ariaman menyebut perubahan kepemilikan tidak mengubah struktur usaha, aset, maupun tenaga kerja. Namun, pengambilalihan oleh korporasi multinasional menempatkan perusahaan pada orbit kepentingan pasar energi global yang lebih luas, seiring meningkatnya permintaan bahan baku bioenergi.
“Manajemen memastikan bahwa perubahan kepemilikan dan nama perusahaan tidak mengubah komitmen perseroan terhadap pemangku kepentingan, termasuk karyawan, mitra usaha, masyarakat sekitar, serta pemegang saham publik,” terangnya.
Pergantian nama ini menutup satu bab sejarah korporasi Sampoerna Agro, sekaligus membuka fase baru perusahaan sawit nasional di bawah kendali investor asing. Sejauh ini, perseroan belum mengumumkan perubahan strategi operasional secara rinci pasca-akuisisi.
Senada disampaikan Manajer CSR PT Prime Agri Resources Tbk, Fajar Suyono, mengatakan bahwa seluruh program sosial perusahaan tetap berjalan dengan skema yang sama, termasuk program kemitraan dengan masyarakat sekitar perkebunan.
“Secara prinsip tidak ada perubahan. Program CSR dan community development tetap berjalan seperti sebelumnya, termasuk program kemitraan yang sudah ada,” katanya Jumat (6/2/2026).
Sebagai perusahaan terbuka yang beroperasi di sektor perkebunan—industri dengan dampak sosial dan ekologis yang besar—transparansi CSR kerap menjadi tolok ukur komitmen keberlanjutan perusahaan, terutama di daerah operasional. Tuntutan terhadap keterbukaan informasi—termasuk soal realisasi CSR—menjadi semakin relevan, terutama bagi masyarakat di sekitar konsesi perkebunan.
Namun, ketika disinggung mengenai besaran anggaran CSR tahun 2025, Fajar mengaku belum dapat memberikan penjelasan. Ia menyebut laporan CSR belum ia susun dan meminta agar informasi tersebut merujuk pada annual report yang dipublikasikan di situs resmi perusahaan.
“Saya belum membuat laporannya. Untuk detailnya bisa dipantau di annual report yang ada di website perusahaan,” ujarnya.














