BERITA TERKINIHEADLINEPOLITIK

Pemuda Bergerak, Ekonomi Bangkit: Inovasi Muda Menyalakan Indonesia Maju

×

Pemuda Bergerak, Ekonomi Bangkit: Inovasi Muda Menyalakan Indonesia Maju

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, CIAMIS – Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum bagi generasi muda untuk menegaskan peran nyata mereka dalam membangun bangsa.

Jika pada 1928 para pemuda bersatu melawan penjajahan, maka pada 2025 tantangan yang dihadapi berbeda: melawan pengangguran dan ketimpangan ekonomi yang masih menghantui masa depan Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka nasional berada di angka 5,45 persen. Dari jumlah tersebut, kelompok usia 15–24 tahun menjadi penyumbang terbesar. Di Jawa Barat, tingkat pengangguran pemuda bahkan masih di atas rata-rata nasional, dipicu oleh ketimpangan keterampilan dan terbatasnya akses ke lapangan kerja produktif.

Banyak pemuda berpendidikan tinggi belum mampu bersaing di dunia kerja yang kini menuntut kemampuan digital, kreativitas, dan jiwa wirausaha. Di sisi lain, sektor informal yang memiliki potensi besar belum banyak tersentuh inovasi.

Gerakan Pemuda Inovatif

Melihat kondisi tersebut, Farhan Mujahidin, Inisiator Daerah Mahasiswa Penggerak Nusantara Jawa Barat, mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menunggu peluang, tetapi menciptakan ekosistem inovasi di tingkat lokal.

“Solusi pengangguran tidak cukup dengan membuka lowongan. Kita perlu membangun ekosistem inovasi pemuda yang menghubungkan pendidikan, teknologi, dan masyarakat,” ujar Farhan kepada Kompas.com, Senin (28/10/2025).

Melalui gerakan “Satu Pemuda, Satu Solusi Ekonomi Lokal”, Farhan mendorong setiap anak muda untuk menciptakan nilai ekonomi di lingkungannya masing-masing, sekecil apa pun bentuknya.

Desa Digital dan Inkubator Lokal

Gagasan itu diwujudkan dalam program Digital Desa Muda yang kini berkembang di berbagai wilayah Jawa Barat. Program ini melatih anak muda desa dalam bidang pemasaran digital, pengelolaan keuangan mikro, serta pemanfaatan platform e-commerce lokal.

Hasilnya mulai terlihat di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya. Puluhan usaha kecil berbasis desa digital tumbuh, menyerap tenaga kerja muda, dan meningkatkan ekonomi lokal.

Farhan juga mendorong terbentuknya inkubator wirausaha muda berbasis potensi lokal yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas kreatif. “Kampus bisa menyediakan riset dan pelatihan, pemerintah membuka akses modal, dan komunitas pemuda menjadi pelaksana di lapangan,” jelasnya.

Sinergi tersebut diharapkan membuat inovasi tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi benar-benar menghidupkan ekonomi masyarakat.

Pertanian Cerdas dan Ekowisata

Selain sektor digital, Farhan menilai sektor hijau dan pertanian cerdas (smart farming) juga berpotensi besar menyerap tenaga kerja muda.

Melalui gerakan AgriYouth Jawa Barat, para pemuda memanfaatkan teknologi seperti sensor tanah, aplikasi prediksi cuaca, dan sistem irigasi otomatis. “Anak-anak muda bisa mengubah lahan tidur menjadi produktif sekaligus membuka lapangan kerja baru,” katanya.

Gerakan serupa juga muncul di Garut dan Majalengka melalui pengembangan ekowisata berbasis desa yang dikelola dengan prinsip ramah lingkungan. Di Cirebon, komunitas muda bahkan menciptakan platform digital untuk menghubungkan lulusan SMK dengan pelaku industri kreatif daerah.

Kolaborasi untuk Masa Depan

Farhan menegaskan, inovasi tidak harus besar, yang terpenting adalah keberlanjutan dan dampak sosialnya. Ia menilai, pemerintah, dunia pendidikan, dan industri harus berkolaborasi memperkuat ekosistem wirausaha muda di daerah.

“Pemerintah perlu memetakan potensi ekonomi pemuda di setiap kabupaten agar kebijakan pengangguran tidak seragam. Sementara kampus dan industri harus membuka ruang kolaborasi serta akses pendanaan yang mudah,” ujarnya.

Sementara itu, ia mengajak generasi muda untuk mengubah cara pandang. “Bekerja bukan sekadar mencari posisi, tetapi menciptakan manfaat. Sumpah Pemuda harus menjadi energi moral untuk terus berinovasi dan membangun,” ucapnya.

Semangat yang Tidak Padam

Semangat Sumpah Pemuda 1928 hidup kembali melalui gerakan ekonomi dan inovasi sosial yang digerakkan generasi muda masa kini. Mereka bukan hanya meneriakkan persatuan, tetapi membuktikannya melalui aksi nyata di lapangan.

Gerakan ekonomi pemuda yang kreatif dan produktif diyakini akan menjadi fondasi bagi Indonesia yang tangguh dan mandiri.

Sebab, seperti yang ditegaskan Farhan, “Bangsa ini tidak akan maju dengan menunggu kesempatan, tetapi dengan menciptakan peluang dari setiap tantangan”.