MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu terus mendorong pengembangan sektor pariwisata melalui penguatan dan penetapan desa wisata sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya tarik destinasi daerah.
Sekretaris Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Kapuas Hulu, Ade Hermanto, menyampaikan bahwa penetapan desa wisata merupakan salah satu kewenangan pemerintah kabupaten di bidang pariwisata dalam rangka pengembangan destinasi berbasis potensi lokal masyarakat.
“Penetapan desa wisata ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat, sekaligus memberikan pengakuan resmi kepada desa yang memiliki potensi dan kesiapan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut berpedoman pada Peraturan Bupati Kapuas Hulu Nomor 27 Tahun 2022 tentang Desa Wisata. Proses penetapan dilakukan melalui Keputusan Bupati Kapuas Hulu sebagai bentuk legitimasi terhadap desa yang dinilai layak menjadi desa wisata.
Menurut Ade, desa wisata merupakan kawasan yang memiliki keunikan daya tarik tersendiri, di mana wisatawan dapat merasakan langsung kehidupan masyarakat pedesaan, mulai dari tradisi, budaya hingga aktivitas sehari-hari.
“Konsep desa wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman berinteraksi dengan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masing-masing desa,” jelasnya.
Lebih lanjut disampaikan, tujuan utama pengembangan desa wisata adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Potensi desa dimanfaatkan untuk berbagai jenis kegiatan pariwisata seperti wisata sejarah, alam, agro, budaya, kuliner hingga kerajinan tangan.
Saat ini, Kabupaten Kapuas Hulu telah memiliki 16 desa wisata yang tersebar di berbagai kecamatan. Penetapan tersebut dilakukan secara bertahap sejak tahun 2022 hingga 2025.
Pada tahun 2025, lima desa wisata yang ditetapkan yakni Desa Nanga Jemah (Kecamatan Boyan Tanjung), Desa Lubuk Antu (Kecamatan Hulu Gurung), Desa Sepandan (Kecamatan Batang Lupar), Desa Banua Martinus (Kecamatan Embaloh Hulu), dan Desa Sibau Hulu (Kecamatan Putussibau Utara).
Sementara pada tahun 2024, lima desa wisata juga ditetapkan, yakni Desa Batu Lintang (Kecamatan Embaloh Hulu), Desa Melapi (Kecamatan Putussibau Selatan), Desa Nanga Raun (Kecamatan Kalis), Desa Sungai Abau (Kecamatan Batang Lupar), serta Desa Nanga Embaloh (Kecamatan Embaloh Hilir).
Adapun pada tahun 2022, sebanyak enam desa wisata telah lebih dahulu ditetapkan, di antaranya Desa Tani Makmur (Kecamatan Hulu Gurung), Desa Nanga Leboyan (Kecamatan Selimbau), Desa Melemba (Kecamatan Batang Lupar), Desa Menua Sadap (Kecamatan Embaloh Hulu), Desa Riam Piyang (Kecamatan Bunut Hulu), serta Desa Rantau Kalis (Kecamatan Kalis).
Sejumlah desa wisata tersebut juga telah menorehkan prestasi di tingkat regional maupun nasional. Desa Batu Lintang, misalnya, berhasil meraih Juara I Kategori Daya Tarik Wisata pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2024.
Selain itu, Desa Nanga Leboyan juga meraih penghargaan fotografi desa wisata tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2023, serta masuk dalam 300 besar ADWI Tahun 2024.
Sementara itu, Desa Rantau Kalis dikenal sebagai destinasi wisata arung jeram potensial dan menjadi lokasi Kejuaraan Provinsi Arung Jeram se-Kalimantan Barat ke-II tahun 2024 yang diselenggarakan oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Provinsi Kalimantan Barat.
Di sisi lain, Dusun Sadap di Desa Menua Sadap mengembangkan wisata minat khusus berupa Kampung Tenun, yang memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan dalam proses pembuatan kain tenun tradisional.
Bahkan, salah satu pengrajin tenun dari dusun tersebut berhasil meraih Penghargaan Tunas Kehati dari Yayasan Kehati atas upayanya melestarikan penggunaan bahan pewarna alami.
Ke depan, pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu berencana menetapkan dua desa wisata baru dengan fokus pada pengembangan ekowisata dan wisata budaya.
Namun, penetapan tersebut masih menunggu kesiapan masing-masing desa dalam memenuhi kriteria yang ditetapkan.
“Melalui pengembangan desa wisata yang berkelanjutan, kami berharap sektor pariwisata dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah, sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan,” tutup Ade. (*)














