BERITA TERKINIHEADLINEHUKUM & KRIMINAL

Peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang Terus Berswadaya Dilestarikan

×

Peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang Terus Berswadaya Dilestarikan

Sebarkan artikel ini

 

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Peringatan perang 5 Hari 5 Malam berlangsung unik dan khidmat, meski diguyur hujan sejam semalam perayaan, dilaksanakan di Lawang Borotan (BKB) Jalan Rumah Bari, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, Sabtu (3/1/2026).

Budayawan Sumsel, Vebri Al Lintani mengatakan, dengan semangat juang Pertempuran 5 Hari 5 Malam di tanggal 1 – 5 Januari 1947, kita lestarikan ini untuk generasi masa depan kota Palembang dan Sumatera Selatan.

“Kita memperingati hari pertempuran 5 Hari 5 Malam ini demi keberlangsungan sajarah, agar generasi penerus ini dapat terus mengingat sejarah dan perjuangan para pahlawan kita ini dan diperingati secara masif, kalau bisa anak-anak di sekolah itu memperingati ini, media kita bikin vlog atau podcast tetang perjuangan ini,” jelasnya.

Tahun kedepan mungkin butuh regulasi, ia juga menyampaikan mungkin ada regulasi pemerintah kota dan kecamatan – kecamatan untuk di semarakkan perjuangan pertempuran 5 Hari 5 Malam.

“Ini diselenggarakan 5 kali dalam perayaan 5 Hari 5 Malam semuanya swadaya oleh orang-orang yang secara sukarelawan yang punya kesadaran tinggi terhadap Republik ini, karena kemerdekaan ini tidak diberikan secara cuma-cuma, tapi dibayar dengan tenaga, air mata, darah bahkan ribuan nyawa rakyat, menurut catatan Palang Merah Indonesia (PMI) Internasional sekitar 2500 nyawa saat perang 5 Hari 5 Malam ini,” ujarnya.

Vebri menambahkan, di Palembang ini termasuk pertempuran yang besar dan dahsyat.

“Ditempat lain hanya 2 matra, tapi kalau di Palembang terdapat 3 matra yaitu darat, udara dan laut (sungai), Palembang ini merupakan sasaran penjajah karena penuh dengan kekayaan alamnya, penjajah sudah ekplorasi timah di Bangka, lalu minyak di Pendopo dan Sungai Gerong, juga tempat lainnya yang berpotensi,” ujarnya.

Dengan tema perayaan pertempuran 5 Hari 5 Malam dilestarikan dengan Cagar Budaya Berbasis Pertahanan.

“Ini merupakan satu kajian Cagar Budaya Berbasis Pertahanan yang sudah dikaji oleh Dr. Jean dari Universitas Pertahanan bahwa lokasi-lokasi yang ada sejarah pertahanan itu disebut berbasis pertahanan yang cagar budayanya harus kita lestarikan, di Palembang sudah dilakukan oleh Walikota kita dengan berjalan kaki dibarengi rintik hujan, dari titik nol kota Palembang ke tugu Juang samping jembatan Ampera, lalu berjalan ke Gua Jepang yang tinggal puing-puing dan tidak terawat bahkan tanahnya dimiliki pribadi, ini harus cepat di revitalisasi, ini menunjukkan komitmen pak Walikota begitu besar pada sejarah kota Palembang, beliau telah memenuhi janji politiknya, semoga tahun depan bisa lebih meriah lagi,” terangnya.

Sementara itu, Walikota Palembang Ratu Dewa mengatakan peringatan Pertempuran 5 Hari 5 Malam ini ada rasa kebatinan kita terhadap perjuangan dalam pertempuran itu.

“Sebelumnya saya diingatkan pak Walikota jangan tidak datang, pakai pakaian tema perjuangan seunik mungkin, makanya saya pakai baju pejuang lengkap dengan senjata bedil ini, usianya sudah 80 tahunan, ini demi memaknai perjuangan yang penuh dengan air mata, darah dan nyawa ini, kita sekarang enak tinggal menikmatinya saja, maka dari itu sudah saatnya Pemerintah hadir bagaimana kita mengenang masa lalu terhadap para pejuang kita waktu itu,” tandasnya.