Reporter: Adi
PALEMBANG, Mattanews.co-Terkait insiden saring dorong antara mahasiswa dan pihak pengamanan kampus Universitas PGRI Palembang beberapa waktu lalu. Pihak Kampus sangat menyayangkan kejadian tersebut. Sebab pada dasarnya itu hanyalah sebuah aksi mahasiswa biasa yang selama ini terlaksana tanpa ada insiden sedikitpun.
“Kami selalu pihak kampus sangat menyayangkan aksi tersebut berakhir kacau. Sebab selama ini mahasiswa sering melakukan orasi di kampus ini dengan tertib,” kata kepala Humas Universitas PGRI Dr Mulyadi MA saat ditemui dikantornya Jumat (11/9).
Ia melanjutkan setiap kejadian harus dilihat kronologi kejadian. Tidak bisa disimpulkan secara sepihak saja. Sebelumnya pihak mahasiswa sudah melakukan aksi yang pertama dan ditanggapi oleh pihak rektorat kampus. Tapi tidak semua tuntutan mahasiswa bisa semua dipenuhi. Ada skala prioritas dahulu mengingat ini merupakan kampus swasta. Tentu saja sebagian besar biaya operasional berasal dari mahasiswa itu sendiri.
Jadi mahasiswa mengelar aksi kembali di kampus ini. Sekitar hampir jam 12 siang itu. Terjadilah aksi saling dorong antara mahasiswa dan pihak keamanan di kampus ini.
“Sekali lagi kami sangat menyesali kejadian tersebut. Serta berharap agar mahasiswa yang dirugikan dan lainnya dapat di damaikan,” jelas dia.
Selain itu ia juga mengatakan, bahwa petugas keamanan atau satpam di kampus ini merupakan staf universitas. Ada sebanyak 35 orang satpam. Di mana satpam ini milik yayasan dari PGRI sendiri. Mengelola sendiri semua satpam di kampus ini. Tentu saja dengan bantuan dari pihak kepolisian disekitar dalam pembinaannya.
“Perekrutan anggota keamanan juga sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Hanya saja saat itu kondisinya tidak memungkinkan sehingga terjadi kekacauan tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, menurut Ketua BPD-ABUJAPI Sumsel Boy Novembriono mengatakan, sebenarnya masyarakat sering terkecoh dengan petugas keamanan. Sebenarnya petugas keamanan adalah seseorang yang memiliki sebuah kompetensi dan rutin mendapatkan verifikasi tiap waktunya. Jadi kebanyakan masyarakat menganggap bahwa seseorang dengan seragam sudah bisa di katakan satpam dan sebagainya.
“Jadi petugas keamanan harus memiliki kompetensi dasar. Jadi bisa saya katakan sekarang ini banyak satpam gadungan yang hanya bermodalkan seragam semata,” kata dia.
Setiap satuan pengamanan memiliki sistem kerja yang mengikat. Jika terjadi insiden serta cara menangani masalah tersebut. Kebanyakan kampus di Palembang tidak memakai jasa keamanan yang terverifikasi di karenakan biaya yang cukup besar. Sedangkan kebanyakan dari kampus dan universitas mempekerjakan jasa pengamanan dalam perekrutan semata. Tanpa mempertimbangkan sisi keamanan dan ke efektifan dari kerja jasa keamanan itu sendiri.
Lebih jauh ia berkata, sebetulnya masalah tersebut dapat disikapi dengan baik. Jika dalam sebuah kampus membutuhkan 30 jasa keamanan yang di rekrut secara mandiri. Maka dengan bimbingan jasa keamanan profesional maka kampus tersebut dapat memakai hanya sebanyak 10 orang saja. Ini tentu belum banyak dipahami oleh pihak kampus. Sebab sistem pengamanan mempunyai metode dan cara yang selalu semakin maju. Tentu saja peran dari teknologi juga dibutuhkan dalam pengawasan keamanan itu sendiri.
“Kami selalu rutin melakukan kegiatan sosialisasi setiap tahunnya. Hanya saja peserta yang kami untuk terbatas. Maka pemahaman tentang pentingnya jasa keamanan masih belum sampai kepada pihak yang ingin tahu,” jelasnya.
Editor : Chitet














