Polres Tulungagung Amankan Dua Pelaku dan Sita Ribuan Liter Solar Bersubsidi

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG- Kepolisian Resor Tulungagung melalui Satuan reserse kriminal (Satreskrim) berhasil menggulung jaringan pemasok Bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang selama ini disubsidi oleh Pemerintah.

Satreskrim Polres Tulungagung berhasil mengamankan dua pelaku sekaligus yakni MJ (42) dan PY (54) berikut beberapa barang bukti pada saat melihat sebuah truk yang sedang terparkir di jalan raya Desa Ngantru Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung.

Pernyataan ini disampaikan Kapolres Tulungagung Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Hartanto, S.I.K., M.H., dalam konferensi pres Ungkap Kasus Penyalahgunaan Pengangkutan dan atau niaga BBM jenis solar yang disubsidi Pemerintah bertempat di halaman Mapolres setempat, Rabu (30/11/2022) Pagi.

“Kita amankan 2 pelaku masing-masing MJ (42) selaku sopir dari keterangan Kartu Tanda Penduduk berdomisili Kelurahan Asemrowo Kecamatan Asemrowo, Kotamadya Surabaya, Jawa Timur dan PY (54) asal Kelurahan Simo Girang Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur,” ucap AKBP Eko Hartanto dihadapan awak media itu.

Mantan Kapolres Lhokseumawe Polda Aceh menambahkan kronologis pengungkapan kasus tersebut berawal adanya informasi dari masyarakat melihat sebuah truk tangki berwarna biru putih dari PT. DRI dengan nomor polisi AE 8698 UB sedang terparkir di jalan raya Ngantru Kecamatan Ngantru.

Pihaknya, melalui Satreskrim menindaklanjuti laporan tersebut segera meluncur ke Tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus melakukan penyelidikan.

“Ternyata benar, ada sebuah truk tangki, petugas lakukan interogasi, dari pengakuan pelaku BBM jenis solar itu diambil dari gudang berada di Desa Petok Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri,” tambahnya.

“Lalu, kita kembangkan hingga melakukan pengecekan di gudang yang dimaksud oleh pelaku,” imbuhnya.

Bacaan Lainnya

“Dari pengakuan 2 orang penjaga gudang tersebut, memang dijadikan sebagai tempat penampungan BBM jenis solar bersubsidi, lalu dijual kembali dengan sarana pengangkut truk tangki PT DRI,” kata Eko menambahkan.

Lebih lanjut Eko menjelaskan petugas akhirnya mengamankan BB dari gudang penampungan BBM jenis solar dari Desa Petok Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Selanjutnya, pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap pelaku, saksi, maupun saksi ahli sebelum menggelar perkara.

“2 pelaku MJ dan PY setelah dilakukan penyidikan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pada 26 November 2022 lalu, sementara dijebloskan di rumah tahanan Mapolres Tulungagung,” terangnya.

Adapun modus praktik pelaku, lebih dalam Eko memaparkan kedua tersangka memperoleh BBM jenis solar bersubsidi dari para pengangsu artinya (Orang yang menjual.red) dari berbagai Stasiun Pengisian Bahan bakar umum (SPBU) dengan harga 8.000-9.300 per liternya.

Solar tersebut penampungannya di gudang yang ada di Desa Petok menggunakan transportasi sebuah truk dari PT DIR yang sudah dilengkapi dengan surat jalan.

“BBM jenis solar bersubsidi itu dijual ke beberapa tempat industri dengan harga 11.000-12.000 per liter,” paparnya.

“Praktik itu, seakan-akan BBM jenis solar itu adalah untuk industri dan bukan yang bersubsidi. Sangat jelas dapatkan untung yang besar,” sambungnya.

Kata Perwira Akpol 2002, dalam pengungkapan kasus ini, petugas berhasil mengamankan BB dari pelaku diantaranya 1 unit truck tangki warna biru putih bertuliskan PT DIR Nopol AE 8698 UB beserta STNK dan kuncinya yang berisi Solar 4.500 liter, 1 unit truck Box warna putih Nopol B 9816 WRU yang dilengkapi dengan mesin pompa dan penampungan didalamnya, 7 Jerigen ukuran 20 liter berisi 140 liter solar, 3 galon air mineral yang berisi 45 liter, 12 jerigen kosong, 3 Drum , 3 mesin pompa (alat sedot), 1 unit Diesel alat sedot, 5 selang spiral , 1 timba plastik, dan alat bukti lainnya serta 1 (satu) lembar surat jalan dari PT DIR tertanggal 11 November 2022.

“Dari pengakuan kedua pelaku, praktiknya baru dijalankan 4 bulan,” ujarnya.

“Petugas bakal menjerat dengan Pasal 55 UU RI no 22 Tahun 2021 tentang Migas Bumi jo pasal 55 UU RI no 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja jo pasal 55 KUHP yang ancaman hukumannya maksimal 6 Tahun Penjara,” pungkasnya.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait