MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Industri pertambangan Indonesia, khususnya batu bara, memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya di tingkat regional, tapi juga nasional. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memahami hal ini dan mengutamakan perannya mendorong kontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah operasional.
Berbagai kontribusi yang diberikan PTBA dalam konteks pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat disampaikan dalam kelas jurnalistik yang digelar secara hybrid, Kamis, (21/9). “Selama 21 tahun menjadi perusahaan terbuka, kami telah menjadi pemain utama dalam industri pertambangan batu bara. Beroperasi dalam seluruh rantai pasokan untuk menciptakan nilai tambah lebih besar dan berkontribusi penting bagi perekonomian negara dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Nikho Candra, Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Tidak hanya berfokus pada kontribusi ekonomi, PTBA juga berperan aktif dalam aspek sosial dan lingkungan melalui berbagai inisiatif. Setidaknya, ada delapan bidang pengembangan pemberdayaan masyarakat (PPM) yang dilakukan. Pertama, pada sektor pendidikan. PTBA memiliki program Bidiksiba, Gernas Tastaka, Gernas Tastaba dan Ayo Sekolah. Program itu telah menjangkau 4 ribu penerima manfaat, terutama masyarakat sekitar operasional agar memiliki akses pendidikan berkualitas untuk mendukung masa depan mereka.
Kemudian sektor kesehatan. PTBA menyelenggarakan program pengobatan gratis bekerja sama dengan RS Bukit Asam Medika memberikan layanan kesehatan di wilayah ring 1 perusahaan. Termasuk pemeriksaan oleh dokter pilihan dan pemberian obat-obatan. Program ini telah menjangkau 5.569 penerima manfaat dengan total 92 program kesehatan gratis telah diselenggarakan.
Untuk program peningkatan kemandirian ekonomi,
PTBA telah melaksanakan pembinaan usaha bagi 1.620 pelaku usaha mikro dan kecil di sekitar wilayah perusahaan. “Mitra-mitra binaan PTBA mencakup sektor perikanan, perdagangan, pertanian, perkebunan, keuangan dan industri,” tambahnya.
Selain itu, 478 kegiatan pelatihan juga telah dilakukan, seperti sertifikasi kompetensi, penerapan aplikasi platform Pasar Digital (PaDi), kewirausahaan, pengembangan dan budidaya tanaman perkebunan karet, sawit dan kopi. “Pelatihan manajemen keuangan dan pencatatan transaksi keuangan secara digital hingga manajemen sumber daya manusia juga termasuk di dalam pelatihan tersebut,” bebernya.
PTBA juga turut menerapkan irigasi pertanian berbasis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menyasar lahan pertanian tadah hujan di sekitar wilayah operasional. PTBA menyediakan infrastruktur pengairan sawah ramah lingkungan dan mendorong pemanfaatan energi terbarukan, pemberdayaan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Hingga saat ini, terdapat 845 petani menjadi penerima manfaat dengan cakupan area sawah seluas 493 hektar. “PTBA berkomitmen untuk terus berkontribusi secara aktif dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat lokal, serta mendorong kemajuan dan ketahanan ekonomi bangsa,” bebernya.
Diketahui, PTBA saat ini memiliki basis sumber daya batu bara sebanyak 5.851 miliar ton. Sememtara cadangan batu bara 3.018 miliar ton, mampu memperkuat kontribusi signifikan perusahaan terhadap sektor pertambangan Indonesia. Dari segi ekonomi, PTBA berhasil mencapai produksi sebesar 18,8 juta ton pada semester I 2023 atau meningkat 18 persen secara year-on-year dibandingkan 2022 yang hanya 15,9 juta ton. Pendapatan tumbuh 2 persen atau Rp18,9 triliun dibanding periode yang sama 2022.
Dalam Journalist Workshop, sebagai pembicara Prof Dr H Didik Susetyo, Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Unsri menjelaskan, kehadiran pertambangan batu bara memberi dampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Tak hanya itu, tapi juga pada peningkatan kesempatan kerja, pendapatan dan kualitas hidup masyarakat sekitar area operasional.
“Operasional industri pertambangan batu bara memicu multiplier effect pada pembangunan lainnya. Sehingga, dampak positif keberadaan produsen batu bara nasional seperti PTBA di Sumsel harus dimaksimalkan,” ujarnya. Didik juga menekankan pentingnya optimalisasi hilirisasi batu bara. Terutama menghadapi transisi energi baru terbarukan menuju Indonesia Emas 2045.
“Upaya untuk mengadopsi energi baru terbarukan harus sejalan dengan potensi sumber daya batu bara yang masih melimpah, dengan teknologi yang ramah lingkungan dan berkontribusi penuh pada pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional maupun daerah,” tambahnya.
Singgih Widagdo, Ketua Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) mengatakan, Indonesia pernah terpukul akibat anjloknya harga batu bara di pasar global. Setelah mencapai puncaknya di 2011, harga acuan batu bara (HBA) turun dari USD 127,05 per ton ke USD 54,43 per ton. Hal itu berdampak pada kinerja perusahaan pertambangan, termasuk PTBA. Pendapatan negara dari sektor ini menurun drastis.
“Hal itu membuat sejumlah perusahaan energi dan pertambangan melakukan berbagai upaya aksi korporasi, termasuk PTBA. Jika tidak melakukan efisiensi biaya produksi, potensi kerugian akan membahayakan jalannya roda perusahaan. Lebih jauh lagi, membahayakan keamanan pasokan batu bara untuk kepentingan keandalan kelistrikan nasional,” ujarnya.
Mengingat PTBA merupakan pemasok Domestic Market Obligation (DMO) batu bara terbesar di dalam negeri, pilihan mengakuisisi perusahaan jasa pertambangan dan diintegrasi operasi produksi PTBA, menjadi langkah strategis paling tepat. Pilihan mengakuisisi PT Satria Bahan Sarana (PT SBS) pada 2015, lewat anak Perusahaan PT Bukit Multi Investama (PT BMI) mampu menekan biaya produksi.
PT SBS yang telah beroperasi sejak 2008, memperkuat proses produksi PTBA, dengan kekuatan kontrol penuh manajemen PTBA. Proses pengeboran, pengupasan tanah (overburden removal), pemindahan dan pengangkutan tanah penutup sekaligus penyewaan alat berat dan tenaga operasional (operator alat berat) menjadi pekerjaan utama PT SBS.
“Efisiensi menjadi pilihan strategis korporasi di saat harga turun tajam. Apalagi, harga batu bara mendekati atau di bawah biaya penambangan (mining cost). Menarik kembali kondisi harga batu bara selama 2011-2013, tanpa melakukan efisiensi sama saja menjerumuskan perusahaan masuk jurang. Selain itu, renegosiasi biaya penambangan kontraktor tambang, termasuk mengakuisisi perusahaan jasa pertambangan juga merupakan langkah tepat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, PTBA juga harus mendukung komitmen Pemerintah melakukan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Perusahaan energi harus melakukan transformasi dengan menciptakan bisnis berkelanjutan, sekaligus memastikan agar NZE 2060 berhasil. “Mendorong dan memperkuat proses transisi energi berkelanjutan, khususnya PTBA, dapat terus berperan meningkatkan kontribusi perusahaan untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Peran PTBA dalam mengamankan keandalan pasokan batu bara untuk kepentingan kelistrikan nasional juga harus dipertahankan. Keberhasilan PTBA meningkatkan produksinya hingga 37,14 juta ton di 2022, diikuti pasokan DMO yang jauh di atas kewajiban yang melekat (60 persen) menjadi bukti perusahaan mampu memerankan tanggung jawabnya sebagai BUMN dan Tbk.
“Sekaligus komitmen memberikan yang terbaik bagi kepentingan nasional, khususnya di wilayah di mana tambang beroperasi,” katanya. Meski demikian, upaya efisiensi operasional ini memerlukan dukungan berbagai pihak, termasuk kontraktor.
Bambang Tjahjono, Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (ASPINDO) mengungkapkan, di awal undang-undang tidak mengizinkan kontraktor melakukan penambangan. Namun kenyataannya, lebih dari 80 persen tambang batu bara di Indonesia mengandalkan jasa kontraktor. Bahkan sudah berjalan selama lebih dari satu dekade.
Hal inilah yang akhirnya dilakukan revisi UU Minerba, sehingga memungkinkan penambangan dilakukan kontraktor. “Harus diakui, harga batu bara sangat responsif terhadap biaya produksi. Fleksibilitas dalam menghadapi fluktuasi produksi dan kontrol atas harga penambangan oleh kontraktor sebagai pilihan keputusan pemilik izin pertambangan, termasuk PTBA. Dan setiap keputusan terkait dengan biaya penambangan menjadi arah bagaimana keberlanjutan sebuah operasi tambang batu bara,” tukasnya.














