Oleh : Gatot sugiharto
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Ada satu keadaan yang mungkin lebih berbahaya daripada kejahatan itu sendiri: ketika kejahatan tidak lagi mengejutkan. Ketika kebohongan dianggap kecerdikan, ketidakadilan dipandang sebagai risiko
kehidupan, kerusakan lingkungan diterima sebagai konsekuensi pembangunan, dan kesalahan dapat diselesaikan melalui kekuatan material.
Di tengah kehidupan yang semakin modern, sebuah paradoks muncul. Manusia semakin terdidik, teknologi semakin canggih, informasi semakin terbuka, tetapi kemajuan tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan kesadaran moral.
Kita menyaksikan berbagai persoalan sosial datang silih berganti. Korupsi,
ketimpangan, kekerasan, kemiskinan, pencemaran lingkungan, degradasi kebudayaan, hingga berbagai penyimpangan kekuasaan menjadi bagian dari percakapan publik.
Sebagian menimbulkan kemarahan. Sebagian melahirkan perdebatan. Namun, banyak pula yang menghilang dari perhatian sebelum akar persoalannya terselesaikan.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa penyimpangan terjadi. Mengapa masyarakat dapat terbiasa hidup berdampingan dengan penyimpangan yang sebenarnya mereka ketahui?. Saya menyebut fenomena yang perlu kita selidiki ini sebagai Republik Muka Datar.
Sebuah metafora tentang krisis kesadaran kolektif, ketika manusia masih mampu melihat tetapi kehilangan kepekaan, masih mampu berpikir tetapi berhenti
mempertanyakan, masih memahami nilai kebenaran tetapi tidak selalu mempunyai keberanian untuk memperjuangkannya.
Muka datar bukanlah wajah tanpa ekspresi. Ia merupakan simbol dari keadaan sosial ketika kepekaan moral berisiko mengalami penumpulan. Tatapan mata kosong bukan
berarti manusia kehilangan kecerdasan. Ia menggambarkan kemungkinan terputusnya
hubungan antara pengetahuan, kesadaran, dan tanggung jawab.
Dalam republik demikian, persoalan peradaban tidak cukup dijawab dengan pertanyaan siapa yang bersalah. Kita harus berani menelusuri mengapa kesalahan dapat diproduksi, diwariskan, dibenarkan, dan akhirnya diterima sebagai bagian dari kewajaran.(*)














