MATTANEWS.CO, OKI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Selatan dari Daerah Pemilihan III Kabupaten Ogan Ilir–Ogan Komering Ilir, Aziz Ari Saputra, menuntaskan rangkaian reses Masa Sidang V pada 10–17 Februari 2026.
Agenda ini bukan sekadar kunjungan rutin. Di desa Sukamukti, Kecamatan Mesuji Kabupaten OKI, warga menyampaikan langsung kebutuhan paling mendasar yakni jalan, drainase, air bersih, listrik, dan penerangan.
Salah satu usulan utama adalah pengecoran jalan poros C3 sepanjang 5.000 meter. Ruas ini menjadi jalur utama mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian.
Saat musim hujan, jalan berubah licin dan sulit dilalui. Biaya angkut naik. Waktu tempuh bertambah. Dampaknya terasa hingga ke dapur rumah tangga.
Aziz menyatakan perbaikan jalan tersebut harus masuk prioritas. Menurut dia, akses yang layak bukan hanya soal kenyamanan, tetapi soal keberlangsungan ekonomi desa.
“Kalau jalannya bagus, ekonomi bergerak. Anak sekolah juga lebih aman,” ujarnya di hadapan warga Selasa (16/2/2026).
Selain jalan, masyarakat meminta pembangunan siring atau parit sepanjang 1.000 meter. Tanpa saluran air memadai, genangan kerap merusak badan jalan dan pekarangan rumah.
Masalah ini berulang tiap tahun. Warga menilai solusi permanen harus segera diambil, bukan tambal sulam.
Aziz menyebut persoalan drainase akan dikawal dalam pembahasan program infrastruktur tingkat provinsi. Ia menegaskan aspirasi tersebut tidak boleh berhenti di catatan reses.
Kondisi jalan arah Sukamukti–Makarti Mulya juga menjadi keluhan utama. Ruas ini dilaporkan rusak dan sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Bagi petani, kerusakan jalan berarti hasil panen terhambat keluar desa. Bagi warga, itu berarti risiko kecelakaan meningkat.
Aziz mengaku menerima banyak laporan terkait kondisi tersebut. Ia berjanji akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar penanganan dilakukan secara bertahap namun terukur.
Di Dusun I, warga mengusulkan program Pamsimas untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Sebagian masyarakat masih bergantung pada sumber air yang kualitas dan kuantitasnya terbatas.
Sementara di Dusun IV, persoalan berbeda muncul. Warga meminta penambahan daya trafo PLN. Beban listrik yang meningkat membuat pasokan kerap turun, terutama pada malam hari.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah penerangan jalan umum. Minimnya lampu jalan dinilai mengganggu keamanan dan keselamatan warga saat beraktivitas di malam hari.
Dalam setiap pertemuan, Aziz menekankan bahwa reses bukan sekadar formalitas politik. Ia menyebutnya sebagai ruang akuntabilitas tempat wakil rakyat mendengar dan membawa pulang tanggung jawab.
Reses Masa Sidang V di Dapil III memperlihatkan satu benang merah, warga menuntut percepatan pembangunan infrastruktur dasar. Jalan yang layak, air bersih yang tersedia, listrik stabil, dan penerangan memadai bukan lagi janji kampanye. Itu kebutuhan sehari-hari.
Ia menyatakan akan memperjuangkan usulan tersebut melalui mekanisme anggaran dan koordinasi lintas sektor di tingkat provinsi.
“Aspirasi ini bukan sekadar daftar. Ini kebutuhan nyata. Saya akan kawal sampai ada realisasi,” tandasnya.














