Reporter : Adi
PALEMBANG, Mattanews.co – Sebuah potongan kisah pada masa orde baru yang dikemas dalam bentuk tulisan dengan judul “Lelaki ditengah hujan” mengambarkan sebuah kisah seseorang dimasa tersebut. Buku ini juga memuat beberapa petikan kejadian yang dialami langsung oleh sang penulis pada massa tersebut.
“Saya berharap dengan adanya novel ini memancing para penulis lainnya untuk bisa menceritakan kembali sejarah. Tentu hal ini akan menjadi sebuah cerita tersendiri bagi orang lain untuk dapat mengali beberapa pengalaman pada masa itu,” jelas antropolog UI Rulas usai membahas mengenai buku tersebut di gedung Universitas Tridinati Palembang (UTP), Selasa (09/04/2019).
Ini merupakan sebuah cerita sejarah yang perlu dipertimbangkan serta diambil beberapa hikmah didalamnya. Ini hanya dari satu orang saja. Bayangkan jika ada beberapa orang atau beberapa puluh orang yang mengambarkan sejarah pada masa tersebut. Tentunya masyarakat akan memiliki berbagai ilmu pengetahuan dari sumber yang berbeda.
“Buku ini hanya satu orang saja, nanti akan banyak lagi buku yang menceritakan berbagai hal lainnya,” harapnya.
Buku ini juga menggambarkan berat pada tahun 1998 bagi seorang jurnalis. Lalu bagaimana pada masa sekarang ini. Tentu tantangan selalu ada seperti saat ini ada media juga yang perlu dikritisi yaitu media menstrem. Media online ini juga bagaimana pisau bermata dua disatu sisi ia merupakan sumber berita. Tapi bisa juga media itu justru menyebarkan kebohongan.
“Jurnalis juga harus pandai menyikapi problematika ini. Jangan sampai sebagai orang yang membuat berita malah termakan dengan berita bohong dari sumber yang tidak jelas,” bebernya.
Sementara itu aktivis 98 Tumpal Simaremare mengatakan, ini merupakan sebuah karya yang sangat baik. Sebab bisa mengungkapkan kembali sejarah, jejak yang diingatnya. Bagi orang lain, kita ketahui sejarah dari sisi lainnya. Sejarah yang menurut kacamata sang penulis yang mengabarkan beberapa peristiwa yang dialaminya.
“Ada beberapa sisi dari dirinya yang bisa diungkapkan. Serta diambil pelajaran mengenai hal tersebut yang dapat menjadi pelajaran bagi kita saat ini,” kata dia.
Lebih jauh ia berkata, jadi bisa diketahui bersama mengenai sejarah di 98 itu. Bukan hanya sebatas konon katanya pada saat itu seperti ini.
“Kita perlu verifikasi apakah benar tidaknya mengenai tulisan ini maka dari itu berbagai pihak hadir disini untuk membedah buku ini,” ungkapnya.
Buku ini juga mengambarkan pergerakan mahasiswa pada masa itu. Ada keinginan bergerak yang tentu saja tidak sebebas saat ini. Namun sekarang apakah semua sudah tergantikan. Tentu ada beberapa digantikan oleh medsos. Pada masa itu jika tidak bertemu maka tidak bisa mengobrol bebas namun sekarang semua sudah berbeda. Interaksi antar mahasiswa sudah semakin jarang bahkan hampir hilang. Cukup melalui diskusi grup WA saja dan sebagainya.
” Saya juga berharap pada beberapa mahasiswa universitas untuk selalu aktif menjalani komunikasi secara langsung. Jangan sampai semua waktu habis hanya untuk main gendget saja,” harapnya.
Editor : Anang














