BERITA TERKINI

Sainima dan Pasutri ini Pasrah Tinggal Dirumah Tak Layak Huni

×

Sainima dan Pasutri ini Pasrah Tinggal Dirumah Tak Layak Huni

Sebarkan artikel ini

Reporter : Heru Kevindra

PALI, Mattanews.co – Kemajuan zaman perkembangan teknologi dan modernisasi masyarakat Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), kian berkembang, namun tidak bagi Sainima (53) istri Alarhum Haron yang tinggal seorang diri sejak suaminya meninggal 2016 dalam insiden perampok, di Desa Babat Kecamatan Penukal, Kabupaten PALI, Sabtu (18/05/2019).

Nenek lanjut usia ini hanya seorang diri mendiami rumah yang tak layak huni tersebut dan juga tak pantas disebut rumah, Sainima memenuhi kebutuhan sehari-hari seorang diri, mulai dari membersihkan rumah sampai mencari nafkah untuk keperluan makannya ia lakukan seorang diri.

“Ia nak saya kan seorang diri semenjak nenek Lanang (suaminya) katek lagi (tidak ada lagi) jadi saya lakukan apapun sendiri, Alhamdulillah ada kebun karet tulah milik tetangga yang diperbolehkan untuk nenek sadap,” ujar Sainima terbata bata.

Dari hasil menyadap karet itu Sainima bisa mengumpulkan uang 150/Minggu dan dia gunakan untuk keperluan makannya sehari-hari, dan tidak pernah cukup untuk membenarkan rumahnya.

“Rumah itu saya diami sudah 25 tahun lebih semenjak saya dan suami baru menikah, dan itu bukan tanahnya kita, tapi yang punya tanah sudah kasi izin untuk tinggal di sana seumur hidup, namun tidak bisa untuk di perjual belikan, jadi kata yang punya rumah nenek boleh tinggal di sini seumur hidup nenet, tapi tanahnya jangan di jual, kami cuma kasi izin pinjam saja,” jelas Sainima menceritakan kisah rumah dan tanah yang dia diami.

Rumah berdinding bambu satu petak itu, dia diami seorang diri tanpa seorang anak dan sanak keluarga, dulu memang sempat dia mempunyai anak namun dari semua anaknya tidak ada yang berumur panjang, belum sempat beranjak besar anaknya sudah meninggal, dari yang meninggal baru umur berapa bulan sampai yang meninggal saat masi usia kanak-kanak.

“Saya itu ada saudara tapi sudah tua juga tinggal di dekat Desa Purun, saya cuma dua bersaudara dengan dia, tapi dia beruntung anaknya hidup semua, dan sampai punya cucu,” tandasnya.

Tak bisa sering saling mengunjungi dengan saudaranya itu karena keterbatasan usia dan sibuk bekerja mencari sesuap nasi.

“Arka pernah bilang habis lebaran nanti rumah nenek mau di renovasi, itu ada atap seng sisa balai desa yang masi bagus dan beberapa papan bisa digunakan untuk memperbaiki rumah nenek,” imbuhnya.

Senada dengan hal itu Kepala Desa Babat Arka Nurawi membenarkan hal tersebut kalau memang benar Desa Babat ada program swadaya masyarakat untuk memperbaiki rumah nenek Sainima dan rumah-rumah tak layak huni lainnya.

“Jadi nanti kita akan kumpulkan dana dari swadaya masyarakat, dan dana tersebut akan di alokasikan untuk renovasi rumah nenek Sainima dan rumah satu lagi jamudin topa dan istrinya,” jelas Arka.

Tidak hanya nenek Sanima yang memiliki rumah tak layak Jamudin topa (45) dan Santi (25)  tinggal di rumah yang nyaris roboh pasangan suami istri ini memili bertahan di sana karena tidak punya tempat tinggal dan hunian yang tak layak di sebut rumah itu pun bukanlah miliknya melainkan milik orang lain yang memberikan izin untuk dia diami bersama istrinya.

“Saya tinggal di sini sudah 3 tahun, sebelumnyo pindah pindah kan kita orang tak punya, saya dan istri sudah menikah 10 tahun yang lalu,” jelasnya.

Menurut Arka kenapa pasanga suami istri ini juga layak menerima bantuan karena sepasang suami istri tinggal di rumah yang tidak layak lagi dan hampir roboh, sedang pasangan suami istri ini bisa dikatakan mengalami keterlambatan mental jadi tidak mungkin bagi mereka untuk berpikir sendiri merenovasi rumah ini. “Maka sebagai kepala desa saya berinisiatif mengajak warga untuk bergotong royong mengumpulkan dana agar bisa merenovasi rumah-rumah tak layak huni ini,” tutupnya.

Editor : Anang