Reporter : Anang
LAMPUNG, Mattanews.co – Kepala Bagian Riset dan Data The Jakarta Post, Fransiscus Surdiasis mengungkapkan jika untuk menyajikan pemberitaan soal minyak dan gas (Migas) dengan cara menarik perhatian banyak orang tentu tidak mudah, apalagi seorang penulis atau jurnalis harus mampu mendudukan masalah secara tepat dengan bahasa yang sederhana. Ditambah pemberitaan sektor ini memiliki banyak terminology teknis yang bagi kaum awam tidak mudah dipahami.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara media Ghatering SKK Migas dalam season sharing bersama 73 jurnalis serta pengumuman Media kompetisi oleh Satuan Kerja Khusus Minyak Gas (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Wilayah Sumbagsel bersama Forum Jurnalis Migas (FJM) di Swiss-Belhotel Lampung, Kamis (17/10/2019 malam.
Menurutnya, hal diatas menjadi tantangan untuk jurnalis, karena di situlah berlaku prinsip parsimony yakni menyajikan pemberitaan semakin sederhana semakin baik. Paradoksnya, kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu secara sederhana justru mensyaratkan pengetahuan yang luas tentang subjek bersangkutan.
“Mengulik pentingnya liputan tentang Migas, baik dalam penyajian, istilah-istilah migas ataupun soal angka harus benar-benar di kuasi seorang penulis, apalagi sektor ini menempati posisi strategis dalam mata rantai kegiatan perekonomian nasional, ditambah Migas memiliki kontribusi besar pada pendapatan negara,” ungkapnya.
Sambung dia, ada dua elemen penting dalam kerja pelaporan berita, bersikap independent terhadap kepentingan apapun. Selain itu seorang jurnalis di tuntut memiliki pengetahuan yang cukup tentang objek yang diliput, sehingga mampu memilih mana yang penting untuk publik. Namun hingga saat ini, profesi ini terus berjuang untuk meningkatkan kompetensi, khususnya berkaitan dengan angka, data, dan riset.
Dia menilai ada dua arah perbaikan yang bisa ditempuh, yakni apakah pemberitaan yang disajikan sesuai kode etik dan kedua, sejauh mana kemampuan berita mendudukan persoalan dengan baik.
“Arah perbaikan yang pertama bisa dilakukan media dan jurnalis bisa bersikap independen supaya jurnalis mampu menjalankan tugasnya untuk melayani kepentingan publik secara baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, sikap independen dimana ini bermuara dan menjadi tanggung jawab utama seorang jurnalis mewujudkan kebenaran.
“Selain itu, seorang wartawan juga harus mengutamakan prinsip kebenaran dan verifikasi agar produk pemberitaan lebih bermutu,” ungkapnya.
Editor : Anang














