MATTANEWS.CO, CIAMIS – Jambansari, merupakan salah satu situs Purbakala yang terletak di tengah Kota Ciamis. Meskipun letaknya di tengah kota, suasana di kawasan situs Jambansari sangat tenang dan jauh dari kebisingan.
Tempat tersebut sangat cocok untuk bersantai di sore hari sambil menyaksikan indahnya cahaya senja yang terpancar di atas langit.
Selain itu, kawasan tersebut bisa juga untuk sekadar melepas penat setelah bekerja seharian sambil menyantap makanan ringan, seperti tahu bulat di pinggir danau yang banyak ditumbuhi bunga teratai.
Sedikit cerita tentang sejarah Jambansari. Bagi yang belum pernah mendengar atau membaca, maka di sini akan mengulas tentang bagaimana sejarah situs Jambansari dan kisah perjuangannya RAA Kusumadiningrat.
Situs yang terletak sekitar 300 meter dari Setda Kabupaten Ciamis itu menjadi destinasi wisata bagi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Dalam berwisata, wisatawan banyak yang datang dengan tujuan untuk berziarah. Karena diketahui, di kawasan situs Jambansari terletak makam RAA Kusumadiningrat.
Namun tidak sedikit yang datang hanya ingin mengetahui sejarah singkat situs Jambansari.
Siapakah sosok RAA Kusumadiningrat? Dia adalah Bupati Galuh Ciamis yang mulai berkuasa pada tahun 1839-1886. Ia adalah keturunan Prabu Haur Kuning, Raja dari Kerajaan Galuh Pangauban sebagai kelanjutan Kerajaan Galuh yang berpusat di Kawali.
Setelah resmi menjabat sebagai bupati Galuh Ciamis, RAA Kusumadiningrat tinggal di rumah panggung kokoh terbuat dari kayu jati berukir yang disebut Keraton Selagangga.
Di bawah kepemimpinannya, Galuh Ciamis muncul sebagai kabupaten yang makmur.
RAA Kusumadiningrat berhasil membangun gedung-gedung di pusat kota dan juga berhasil menghilangkan Tanam Paksa di Ciamis.
Di bidang pendidikan, ia juga mendirikan Sekolah Sunda yang terletak di Ciamis dan Kawali.
Kemudian pada tahun 1874, RAA Kusumadiningrat memperoleh tanda kehormatan dari pemerintah Hindia Belanda berupa songsong kuning (payung kebesaran berwarna kuning emas).
Pada tahun 1878, ia dianugerahi Rider Orde van de Nederlandsche Leeuw dari Ratu Belanda. RAA Kusumadiningrat wafat pada tahun 1886 dan dimakamkan di Gunung Sirnayasa, Jambansari.
*Situs Jambansari Tempat Para Leluhur*
Dulu Situs Jambansaari itu adalah Kabuyutan (Tempat Leluhur) dan berupa bukit kecil yang dikelilingi danau, bukit itu bernama Gunung Sirnayasa.
Di atas bukit terdapat semacam tempat pemujaan yang ditandai adanya batu Menhir, dengan bentuknya yang khas setinggi 70 cm dan Batu Dolmen (Batu Datar Bulat) serta Lumpang (Tempat Air dari Batu).
Gunung Sirnarasa dikelilingi mata air sehingga berbentuk Danau, kemudian RAA Koesoemadiningrat memanfaatkan air tersebut untuk keperluan pengobatan, khususnya untuk kegiatan sebelum sunatan Anak-anak.
Setelah itu ia membuat tujuh pancuran untuk anak-anak yang digunakan untuk mandi sebelum disunat.
Dari aktivitas itulah, muncul nama Jambansari dan diabadikan sampai sekarang oleh masyarakat Kabupaten Ciamis.
Selesai dibangun, kemudian RAA Koesoemadiningrat berdakwah Agama Islam dan didampingi ulama dari Cirebon.
Dalam dakwahnya, ia juga mengadakan tatap muka bersama masyarakat dengan kegiatan menyampaikan pengetahuan umum.
Hasil dari dakwah itu, ia mengumpulkan benda-benda pemujaan di sekitar Galuh, seperti Arca Hindu dan Arca Polinesia berjumlah 22 buah, kemudian disatukan dengan benda yang ada di bukit Gunung Sirnayasa.
Seperti yang diungkapkan Kepala Museum Galuh Pakuan, R Ruyat Sudrajat, area Jambansari luasnya 3,8 Hektar, sementara luas area dibangun untuk tempat wisata sejarah, budaya dan religi seluas 1,2 hektar termasuk area keraton Selagangga.
“Letak Keraton Selagangga ada di sebrang makam yang kini dijadikan Museum juga,” ujar Ruyat kepada Mattanews.co, Jumat (30/4/2021).
Museum yang terletak di area Keraton Selagangga dinamai Museum Galuh Pakuan dan diresmikan Wakil Gubernur Jawa Barat pada Tahun 2010.
“Awalnya museum ada di area pemakaman dan rumah penduduk, namun dipindahkan ke tempat yang sekarang karena tempat terdahulu terkena gempa tektonik yang terjadi akhir tahun 2009, sehingga keamanannya menjadi rawan,” ucapnya.
Pada tahun 1970, area pemakaman dikelola oleh Yayasan Sirnayasa, kemudian pada tahun 1994 berubah nama menjadi Yayasan Kusumadiningrat. Sementara area keraton jatuh ke pewaris terakhir yang bernama R Gurdi Kusumawinata.
Ruyat menjelaskan, mengenai hubungan antara Yayasan Kusumadiningrat (Area Pemakaman Jambansari) dengan Yayasan Kusumawinata (Area Keraton) yang dahulu Keraton Selagangga dipakai Rumah Tinggal RAA Kusumadiningrat sekaligus dijadikan tempat kerja.
“RAA Kusumadiningrat dia penerusnya RAA Kusumasubrata 1886-1914 dan dia adalah pewaris raja terakhir,” jelasnya.
Namun karena putra dari RAA Kusumasubrata tidak bersedia melanjutkan tradisi Raja atau Bupati, karena tidak terlalu aktif di budaya dan sudah lanjut usia, sehingga penerus tradisi budaya ia delegasikan kepada Rd Rasich Hanif Radinal.
“Hanif adalah generasi ke-4 dari R Gurdi Kusumawinata yang paling aktif di ranah budaya dan dia dipercaya untuk memegang kedua yayasan tersebut yaitu Yayasan Kusumawinata dan Yayasan Kusumadiningrat,” tandasnya.














