MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Sumatra Selatan menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Apalagi pandemi ini sudah terjadi sekitar dua tahun melanda Tanah Air, tak sedikit UMKM di Sumsel terpaksa gulung tikar dan tutup operasional sementara.
Kondisi yang menyulitkan para pelaku UMKM seperti ini sangat membutuhkan peran serta semua pihak, bukan hanya pemerintah namun elemen lain untuk turut membangkitkan geliat bisnis bagi para pelaku UMKM tersebut. Salah satunya yakni Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatra Selatan yang terus berkomitmen membangkitkan sektor UMKM di wilayahnya.
Hari Widodo, Kepala Perwakilan BI Sumsel menjelaskan, UMKM menjadi faktor penting dalam penggerak ekonomi perekonomian. Dengan kondisi pandemi seperti ini tentunya berpengaruh besar pada operasional UMKM di Sumsel, bukan hanya untuk UMKM di bidang fesyen, namun UMKM di bidang lain seperti kuliner, kerajinan dan sebagainya.
Bahkan berdasar data statistik, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baru sebesar 14,74 persen. “Geliat UMKM harus dimaksimalkan, ini salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat dan juga daerah. Jika dilihat dari PDRB, artinya masih besar peluang untuk UMKM di Sumsel dalam meningkatkan produktivitasnya,” ucap Hari, belum lama ini.
Sebagai upaya meningkatkan produktivitas tersebut, diantaranya yakni melalui peningkatan kapasitas produk dan usaha, nilai tambah, serta akses pemasaran. Hari menjelaskan, pihaknya terus berupaya mendongkrak pelaku UMKM yang telah melakukan berbagai upaya untuk naik kelas. “Bank Indonesia ini berfungsi sebagai fasilitator bagi UMKM, kami memberikan ruang bagi mereka (para pelaku UMUM) untuk lebih meningkatkan produktivitasnya melalui seminar, webinar, pelatihan, hingga pengurusan sertifikasi halal,” jelasnya.
Pihaknya pun telah melaksanakan on boarding UMKM bersama dengan e-commerce. Hal itu dilakukan sebagai upaya mengembangkan pengetahuan bagi UMKM yang ingin menggandeng e-commerce. “Upaya kita bukan hanya sekedar pelatihan saja, namun kita juga menggandeng market place untuk membantu para pelaku UMKM. Jadi mereka (para pelaku UMKM) juga didorong untuk membuka usaha di market place,” jelasnya.
Diketahui saat ini ada 170 UMKM binaan Bank Indonesia yang sudah bergabung di e-commerce dan pihaknya terus mendorong agar semakin banyak UMKM memanfaatkan hal ini. Sebagai upaya mendorong meningkatnya UMKM di Sumsel, Bank Indonesia juga gencar melaksanakan even-even yang melibatkan mereka, diantaranya menggelar Semarak UMKM Sriwjaya (Seru Sriwijaya) 2021 pada akhir Oktober 2021 lalu.
Kegiatan ini merupakan upaya Bank Indonesia dalam mengembangkan UMKM di Sumsel. Dalam kegiatan Seru Sriwijaya ini tidak hanya menampilkan produk-produk UMKM di Sumsel juga membentukan karakter bulding dari pelaku UMKM dalam bentuk webinar kepada para pelaku UMKM.
Juga ada kegiatan pembentukan karakter bulding pelaku UMKM dengan Webinar UMKM Go Ekspor bertema Menjadi Andal di Pasar Global.
“Kita ingin mendorong pengembangan UMKM di Sumsel, khususnya produk fesyen, kerajinan/kriya, dan kuliner kepada pasar domestik maupun ekspor, serta sebagai katalisator bagi pelaku usaha industri kreatif dalam meningkatkan kualitas produk sesuai trend pasar sekaligus mendorong peningkatan nilai tambahnya,” jelas Hari.
Hari menerangkan hal ini masih memberikan ruang kepada UMKM untuk mendorong produktivitasnya lebih tinggi lagi melalui peningkatan kapasitas produk dan usaha, nilai tambah, serta akses pemasaran.
Anggota Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro mengatakan, UMKM harus didorong untuk bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas produknya. “Kegiatan yang digelar Bank Indonesia seperti ini akan mendorong bangkitnya UMKM di Sumsel. Kami berharap dapat dilakukan klasterisasi dan digitalisasi UMKM sehingga UMKM dapat lebih berkembang,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru menegaskan saat ini jumlah UMKM yang ada di daerah itu mencapai 644.000 usaha. Sementara jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64 juta.
“Hal ini berarti pelaku usaha dari Sumsel ini baru satu persen dari total nasional. Masih sedikitnya jumlah UMKM tak terlepas dari terbatasnya pengetahuan, keterampilan hingga mindset masyarakat,” jelasnya.
Menurut Herman, pola pikir masyarakat produktif di Sumsel yang utama adalah pekerja, bukanlah menjadi wiraswasta. “Kita semua punya tugas ekstra untuk mengubah mindset itu, dan tentu butuh waktu hingga pembiayaan,” katanya.
Diakuinya, pendanaan itu diperlukan untuk menunjang upaya meningkatkan keterampilan calon wirausahawan. Masalahnya, kata dia, banyak Balai Latihan Kerja yang kurang optimal untuk meningkatkan keahlian pelaku usaha.
“Saya harap Bank Indonesia maupun pihak terkait lainnya bisa masuk ke BLK, untuk peningkatan kapasitas pelaku usaha,” katanya.
Ia menjelaskan, peluang Sumsel untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas UMKM sudah terbuka lebar. Salah satunya menyangkut permodalan. menurtnya, alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp4,4 triliun pada 2020 di Sumsel sudah sepenuhnya terealisasi.
“Kredit program pemerintah itu memang ditujukan untuk mendukung UMKM. KUR terserap semuanya bahkan dengan tingkat NPL yang rendah di bawah 1%. Tetapi saya kok masih ingin UMKM ini lebih kencang lagi,” katanya.

Dorong UMKM Go Ekspor
Herman Deru berharap nantinya semua UMKM di Sumsel bisa melek teknologi dan juga berhasil menjual produknya hingga kelas ekspor. Sehingga laju daya saingnya bisa semakin tinggi, dan dapat memberikan hasil positif untuk pertumbuhan ekonomi di Sumsel.
“Kita melakukan kurasi beberapa UMKM Bina Bank Indonesia yang telah memperoleh kurasi dan berpartisipasi dalam pameran baik ditingkat nasional maupun internasional. Kemarin ada salah satu UMKM di Sumsel untuk kriya bergerak di perhiasan itu mengikuti pameran internasional di Singapura, dan juga di New york dan juga Kopi kita membawa ke pameran internasional di Singapura dan Jepang, sebenarnya kita terus mendorong pelaku UMKM ini,” tuturnya.
Ditambahkan Hari Widodo lagi, pihaknya mendorong agar kerajinan tangan Sumsel mampu menembus pasar global. BI menyebut permintaan produk khas daerah dari luar negeri masih tinggi, namun hal ini kurang diminati oleh pelaku UMKM di Sumsel.
“Tidak semua produk bisa diekspor, karena sebenarnya permintaan domestik juga tinggi di sini, tapi kenapa tidak melirik ekspor padahal ada demand-nya juga,” ujar Hari.
Ia menjelaskan, pihaknya mendorong UMKM bisa menembus pasar global karena nilai ekspor merupakan salah satu komponen yang berpengaruh pada pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), selain konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga dan investasi.
“Untuk produk kriya Sumsel, peluang menembus pasar ekspor itu sangat terbuka karena memiliki beragam produk lokal bernilai jual tinggi yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan,” pungkasnya.














