Reporter : Rachmat
KAYUAGUNG, Mattanews.co – Pemerintahan Kabupaten Ogan Komering Ilir instruksikan kepada Forum Komunikasi Kecamatan (Forkomcam) dan perusahaan untuk segera melakukan revitalisasi kelompok masyarakat peduli api beserta posko-poskonya, membuat sekat kanal, sumur bor dan memenuhi sarana dan prasarana Kebakaran hutan dan lahan.
Sekda OKI Husin mengatakan, Pemkab saat ini menitikberatkan fokus pencegahan karhlutla. Ia mengatakan antisipasi pencegahan dan pengendalian dini bahaya kebakaran hutan, kebun dan lahan tetap menjadi prioritas utama.
“Tetap waspada karhutlah dengan jalan segera ditetapkan status siaga darurat, mengaktifkan posko-posko siaga, Inventarisir kelompok peduli api, masyarakat peduli api,” terangnya saat Rapat Koordinasi Khusus Karhutlah Tahun 2019 di Kantor Bupati OKI, Kamis (04/04/2019).
Ia menuturkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), intensitas hujan sepanjang bulan April akan menurun, sedangkan bulan Mei hingga Oktober diperkirakan awal musim kemarau.
“Sedangkan puncak kemarau terjadi pada bulan Agustus,” ungkapnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Listiadi Martin mengaku insiden kebakaran lahan pada tahun sebelumnya secara tidak langsung menciptakan pengalaman dalam menangani Karhutla.
Ia meneruskan, Pemkab akan lebih fokus pada wilayah potensi kebakaran pada wilayah rawan dan sangat rawan melalui upaya preventif.
“Kondisi sangat rawan seluas 554.179 hektar, sedangkan Rawan seluas 603.175 hektar, tersebar di 63 desa,” jelasnya.
Mantan Kepala BKD ini juga membeberkan kebakaran hutan dalam tiga tahun terakhir. Ia menyebutkan, tahun 2018 merupakan kebakaran terparah. Amukan si jago merah ini telah menghanguskan lahan seluas 864 hektar
“Pada tahun 2016 sebelumnya kebakaran hutan hanya seluas 213 hektar, lalu tahun 2017, seluas 179 hektar,” bebernya.
Kabag Ops Polres OKI, Kompol Yudha Widyatama Nugraha menambahkan, optimalisasi pencegahan juga dapat melalui mitigasi.
Ia menyebutkan, sepanjang tahun 2018 terpantau 257 fire spot dominan yang tersebar pada sejumlah kecamatan diantaranya, Pangkalanlampam, Cengal, Sungai Menang dan Tulung Selapan.
“Belajar dari tahun sebelumnya, perlu penajaman pembuatan posko. Posko yang dibuat jangan terlalu jauh dengan fire spot” ujarnya.
Penanggulangan karhutla dinilainya membutuhkan sinergi antar pemangku kepentingan. Ia menilai, pencegahan karhutlah bukan hanya berkutat di pemadaman, namun juga diperlukan upaya pencegahan.
Ia juga menyebutkan, upaya pencegahan dan pengendalian dilapangan seringkali terkendala dengan sulitnya akses yang sulit dijangkau serta terbatasnya sumber air, termasuk kemampuan pemadaman di malam hari
“Masih adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar inilah yang harus diubah, tentunya dengan sejumlah penyuluhan dan lain sebagainya bagi masyarakat,” tandasnya.
Editor : Anang














