BERITA TERKINI

Serap Aspirasi, Anggota DPRD Kota Malang Sony Rudiwiyanto Siap Kawal Keluhan Masyarakat

×

Serap Aspirasi, Anggota DPRD Kota Malang Sony Rudiwiyanto Siap Kawal Keluhan Masyarakat

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, MALANG – Anggota DPRD Kota Malang Periode 2024-2029, Sony Rudiwiyanto Serap Aspirasi Masyarakat yang berlangsung di Gedung Widya Bakti, Jalan Guntur No. 1a Klojen Kota Malang, Senin malam (4/8/2025).

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat yang hadir menyampaikan beragam usulan maupun keluhan kepala Sony Rudiwiyanto Anggota Komisi C dari Fraksi PDI-P DPRD Kota Malang.

Berbagai persoalan masyarakat dikupas secara tuntas melalui sesi tanya jawab secara langsung, baik itu tentang insfratruktur, kesehatan, pendidikan, arus lalulintas hingga permasalahan sampah juga tak luput dari sorotan disetiap masing-masing lingkungan masyarakat sehingga kendala tersebut akan dibawa Sony ke DPRD untuk mendapatkan solusi terbaik bagi warga tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Rusdi warga penanggungan terkait dengan saluran air ataupun gorong-gorong yang tersumbat dan tidak mampu menahan debit air ketika hujan deras, apalagi gorong-gorong ini usianya juga sudah sangat tua peninggalan Belanda. Ia menganggapnya sangat berbahaya karena diatas gorong-gorong tersebut dilalui kendaraan berat setiap harinya.

“Gorong-gorong ini diduga peninggalan zaman Belanda. Tidak pernah diganti, hanya ditambal-tambal. Kami minta ada peremajaan total,” kata Rusdi.

Dengan demikian, Sony menanggapi serius persoalan tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya di Komisi C akan mendorong Dinas PUPR untuk melakukan kajian dan perencanaan revitalisasi, khususnya pada titik-titik rawan banjir dan kerusakan infrastruktur dasar.

Selain itu, permasalahan yang sama juga dibicarakan terkait pengelolaan sampah di TPS Malabar, Oro-Oro Dowo. Menurut warga, bau menyengat dan genangan air limbah dari lokasi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan mengganggu kenyamanan warga sekitar, termasuk pedagang dan pengunjung pasar.

Dengan tegas Sony menjawab persoalan tersebut telah disampaikan langsung kepada Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Raymond.

“Penanganan dengan penyemprotan disinfektan memang hanya solusi sementara. Kami sudah mendorong DLH agar mempercepat penataan TPS, termasuk opsi relokasi, dan memperbaiki sistem saluran limbahnya,” tegasnya.

Bahkan, keluhan warga tak berhenti di persoalan fisik. Beberapa orang tua mengeluhkan tingginya biaya pendidikan, terutama untuk jenjang SMP dan SMA, meskipun ada program bantuan.

“Saya punya dua anak sekolah, dan meski katanya gratis, tetap ada iuran ini-itu. Kami bingung, karena tidak semua bantuan sampai,” ujar Julaikah warga sekitaran Oro Oro Dowo gang 5.

Menjawab hal ini, Politisi dari Partai Berlambang Banteng ini mengatakan bahwa dirinya mendorong agar program beasiswa berbasis data kemiskinan lokal diperluas. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan dana BOS dan transparansi alokasi bantuan agar benar-benar menyasar warga yang membutuhkan.

“Pendidikan gratis tidak boleh jadi slogan semata. Kita ingin ada sistem yang memastikan tidak ada anak yang putus sekolah hanya karena tidak mampu beli seragam atau buku,” ujar Sony.

Sony juga menyinggung pentingnya pemerataan kualitas pendidikan antar wilayah. Menurutnya, sekolah-sekolah pinggiran sering kali tertinggal dalam hal fasilitas dan akses teknologi dibanding sekolah di tengah kota.

Dalam forum yang sama, warga juga menyampaikan keluhan soal layanan kesehatan di Puskesmas dan Klinik, yang dinilai masih terbatas, baik dari segi tenaga medis maupun jam operasional. Beberapa warga juga menanyakan soal mekanisme pengajuan bantuan iuran BPJS bagi warga tidak mampu.

Sony menjelaskan bahwa saat ini Pemkot Malang masih membuka jalur bantuan BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) melalui kelurahan. Namun, ia mengakui bahwa prosesnya belum sepenuhnya merata.

“Saya akan komunikasikan ke Dinas Kesehatan agar sistem pendaftaran bantuan BPJS lebih cepat dan terbuka. Jangan sampai ada warga yang sakit tapi tidak bisa berobat karena tidak punya kartu jaminan,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar layanan kesehatan keliling (mobile clinic) diaktifkan kembali di daerah padat dan pinggiran, terutama untuk menjangkau lansia dan warga disabilitas.

Acara reses ini ditutup dengan penampilan seni tari dari Sanggar Mutiara Nusantara, yang menampilkan ragam gerak dan busana daerah dari seluruh penjuru Nusantara. Sanggar tersebut dipimpin oleh anak Sony sendiri sebagai bentuk dukungan keluarga terhadap pelestarian budaya lokal.

“Kita punya ribuan budaya. Lewat tari, kita diingatkan bahwa perbedaan itu bukan ancaman, tapi kekuatan,” ujar Sony.

Ia menutup acara dengan ajakan kepada warga untuk tetap aktif menyuarakan pendapat, kritis terhadap kebijakan, dan tidak takut menyampaikan masalah ke wakil rakyat.

“Suara panjenengan semua sangat berharga. Setiap keluhan malam ini saya catat, dan akan saya kawal di DPRD. Mari kita bangun Kota Malang bukan hanya dengan kebijakan di atas meja, tapi juga dengan suara dan hati dari bawah,” tukasnya.