BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHAN

Serapan Pupuk Subsidi di Tulungagung Tembus 30 Persen pada Triwulan I 2026, Petani Padi Jadi Penyerap Terbesar

×

Serapan Pupuk Subsidi di Tulungagung Tembus 30 Persen pada Triwulan I 2026, Petani Padi Jadi Penyerap Terbesar

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada triwulan pertama 2026 menunjukkan tren positif. Hingga akhir Maret, serapan pupuk subsidi telah menyentuh kisaran 30 persen dari total kuota tahunan, dengan petani padi menjadi penyerap terbesar seiring dimulainya musim tanam di berbagai wilayah.

Data tersebut dicatat Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung dan dinilai menjadi sinyal bahwa kebutuhan sarana produksi pertanian di daerah itu mulai bergerak aktif sejak awal tahun.

Kepala Dinas Pertanian Tulungagung, Drs. Suyanto, M.M., mengatakan pemerintah telah menyiapkan lima jenis pupuk subsidi untuk mendukung kebutuhan petani selama tahun 2026, yakni urea, NPK, NPK formula khusus, ZA, dan pupuk organik.

“Penyerapan pupuk bersubsidi pada triwulan pertama ini cukup baik. Yang paling besar masih dari komoditas padi karena petani mulai masuk musim tanam,” ujar Suyanto dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).

Menurut dia, kebutuhan pupuk di Tulungagung hingga kini masih didominasi oleh urea dan NPK, sejalan dengan pola usaha tani masyarakat yang mayoritas menggarap komoditas padi dan jagung.

Alokasi Pupuk Subsidi Tulungagung 2026 Capai 48 Ribu Ton

Untuk tahun 2026, total alokasi pupuk subsidi di Kabupaten Tulungagung mencapai sekitar 48 ribu ton. Dari jumlah tersebut, porsi terbesar dialokasikan untuk dua jenis pupuk utama yang paling banyak digunakan petani.

Rinciannya, urea dialokasikan sebanyak 25.554 ton, sedangkan NPK mencapai 22.736 ton. Sementara itu, NPK formula khusus disediakan dalam jumlah terbatas, serta ZA dan pupuk organik sekitar 328 ton.

Besarnya alokasi tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan pupuk bagi sektor pertanian Tulungagung yang masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat pedesaan.

Urea dan NPK Jadi Tulang Punggung Distribusi

Suyanto memaparkan, hingga akhir Maret 2026, penyaluran pupuk urea telah mencapai lebih dari 7.400 ton atau sekitar 30 persen dari total alokasi. Sedangkan pupuk NPK sudah tersalurkan sekitar 6.000 ton atau sekitar 26 persen.

Angka itu menunjukkan bahwa distribusi pupuk untuk komoditas pangan utama berjalan relatif lancar pada awal tahun.

“Kebutuhan terbesar memang masih ada pada urea dan NPK. Itu sejalan dengan pola tanam petani kita yang mayoritas fokus pada padi dan jagung,” jelasnya.

Ia menambahkan, capaian distribusi pada triwulan pertama ini cukup menggembirakan karena tidak ada hambatan berarti di lapangan, baik dari sisi stok maupun penyaluran ke petani penerima.

Musim Tanam Dongkrak Serapan di Sejumlah Kecamatan

Tingginya realisasi penyaluran pupuk subsidi pada awal 2026 juga dipicu meningkatnya aktivitas tanam di sejumlah kecamatan. Kondisi ini membuat kebutuhan pupuk langsung bergerak naik sejak awal musim.

Dinas Pertanian menilai pola distribusi yang stabil sangat penting untuk menjaga ritme tanam petani, terutama agar tidak terjadi keterlambatan pemupukan yang bisa berdampak pada produktivitas hasil panen.

“Secara umum distribusi berjalan lancar dan sejauh ini tidak ditemukan kendala berarti. Ini penting agar petani bisa tetap menanam sesuai jadwal,” katanya.

Pupuk Organik Masih Sepi Peminat

Di tengah tingginya penyerapan pupuk kimia bersubsidi, kondisi berbeda justru terlihat pada pupuk organik. Hingga triwulan pertama 2026, serapannya masih tergolong rendah.

Menurut Suyanto, kondisi ini bukan hal baru. Pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian petani di Tulungagung juga cenderung memproduksi pupuk organik secara mandiri, sehingga permintaan terhadap pupuk organik subsidi tidak setinggi jenis pupuk lainnya.

“Untuk pupuk organik memang penyerapan masih rendah. Salah satu penyebabnya karena banyak petani yang sudah mulai membuat pupuk organik sendiri,” ujarnya.

Fenomena ini, di satu sisi, menunjukkan adanya kesadaran petani untuk memanfaatkan sumber daya lokal. Namun di sisi lain, pemerintah tetap perlu memastikan agar alokasi pupuk organik yang tersedia tidak mengendap terlalu lama.

Pemkab Siapkan Strategi Agar Kuota Terserap Maksimal

Pemerintah Kabupaten Tulungagung menargetkan seluruh alokasi pupuk subsidi tahun 2026 dapat tersalurkan secara maksimal. Karena itu, Dinas Pertanian menyiapkan langkah antisipatif, terutama untuk mendorong distribusi pupuk organik agar lebih optimal.

Strategi tersebut dinilai penting agar seluruh jenis pupuk subsidi yang sudah dialokasikan pemerintah benar-benar memberi manfaat bagi petani dan mendukung produktivitas pertanian daerah.

Di tengah tantangan efisiensi dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, keberhasilan distribusi pupuk bukan hanya soal angka serapan, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan daerah.

Jika distribusi tetap lancar dan serapan terus bergerak naik pada triwulan berikutnya, Tulungagung memiliki modal kuat untuk menjaga produksi pertanian tetap stabil sepanjang 2026. Kuncinya satu: pupuk harus tepat sasaran, tepat waktu, dan benar-benar sampai ke tangan petani.