BERITA TERKINIHEADLINEPENDIDIKAN

Siloam Hospitals Group Gelar Simposium Medis

×

Siloam Hospitals Group Gelar Simposium Medis

Sebarkan artikel ini

* Tentang Penyakit Parkinson dan Transplantasi Ginjal

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Siloam Hospitals Group menyelenggarakan simposium medis di Ballroom Diamante I Excelton Palembang. Dengan mengangkat topik “Exploring Insights in Nephrology and Neurology” perkembangan tatalaksana penyakit Parkinson dan Transplantasi ginjal sebagai opsi penangananya, Sabtu (10/08/2024).

Acara ini dihadiri sekitar 70 dokter spesialis, dokter umum dan tenaga medis dari area Palembang dan sekitar, dengan tujuan memperkenalkan, mendiskusikan dan berbagi informasi terkini tentang perkembangan tatalaksana penyakit tersebut.

Maraknya pola hidup dan jenis makanan masa kini yang tanpa kita sadari membuat kerja ginjal menjadi berat, sehingga isu ini menjadi bahan perbincangan yang ramai. Akibatnya, banyak masyarakat, bahkan usia muda dan anak-anak, harus menjalani cuci darah atau hemodialisis.

Selain itu, penyakit Parkinson yang juga berkembang belakangan ini sudah memiliki pilihan penatalaksanaan untuk memperbaiki gerakan motorik dan membantu penderita Parkinson agar lebih stabil dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pada tahun 2019, telah tercatat kenaikan 15% dalam populasi pasien gagal ginjal kronis di dunia, yang menyebabkan 1,2 juta kasus kematian.

Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif (akibat proses penuaan pada sistem saraf) yang menyebabkan penderitanya mengalami gangguan motorik dan keseimbangan tubuh.

Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan tremor, gangguan koordinasi dan kaku otot.

Berdasarkan Data World Health Organization (WHO) menunjukkan insidensi penyakit Parkinson di Asia, yaitu 2-8 kasus per tahun di Cina dan Taiwan.

Sedangkan di Singapura dan Jepang terdapat 6-8 kasus per tahun pada rentang usia 60-70 tahun.

dr Theresia Christine dari Rumah Sakit Siloam Sriwijaya menerangkan, umumnya orang yang berumur 60 tahun ke atas berisiko terkena penyakit Parkinson.

“Selain usia, laki-laki lebih rentan terkena Parkinson dibanding wanita, terakhir efek samping dari mengonsumsi obat yang mengandung antisikotis,” terang dr Theresia, saat ditemui usai acara Clinical Symposium, Exploring Insight in Neuphorology and Neurology di Ballroom Diamante I Excelton Palembang, Sabtu (10/08/2024).

“Faktor resiko cedera kepala yang berat juga berisiko terkena penyakit Parkinson,” tutur dr Theresia.

Theresia mengungkap, penyebab pasti penyakit ini masih belum diketahui.

“Namun, ada yang disebabkan oleh faktor genetik, paparan pestisida, dan lain-lain,” ungkap dr Theresia.

Gejala Parkinson berbeda-beda pada setiap penderitanya. Namun, gejala umum yang kerap dialami oleh penderita antara lain.

Gemetar (tremor), gerakan lambat (bradykinesia), otot kaku, postur tubuh membungkuk, depresi, gangguan menelan, gangguan mengunyah, gangguan berkemih, dan gangguan bicara.

“Penyakit Parkinson ini bersifat progresif, artinya kondisi tersebut dapat berkembang secara perlahan dan memburuk seiring dengan berjalannya waktu,” kata Theresia.

Theresia memberikan beberapa tips untuk penanganan Parkinson, meliputi terapi dopaminergik, terapi bicara serta antidepresan.

“Rutin latihan olahraga untuk menjaga tonus, kekuatan, dan fleksibilitas otot. Nah cara yang paling cepat mengatasi Parkinson adalah pemasangan chip pada otak, tetapi pemasangan chip ini penderitanya harus lebih dari empat tahun. Jangan baru terkena gejala Parkinson lantas mau langsung pasang chip itu tidak bisa,” ujar Theresia.

Untuk range pemasangan chip di otak kisaran Rp 500 hingga Rp 600 juta.

“Pemasangan chip ini tidak menyembuhkan secara total, tetapi hanya mampu mengatasi penderitanya,” tukas Theresia.