MATTANEWS.CO, PURWAKARTA – Perwira Siswa (Pasis) TNI Angkatan Darat dan anggota Kepolisian menggelar latihan terpadu di kawasan Gunung Anaga, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Kamis (16/4/2026).
Selain mengasah kemampuan tempur, latihan ini fokus pada integrasi pembinaan teritorial melalui program agroforestri dan simulasi komunikasi publik.
Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Danseskoad), Mayjen Agustinus Purboyo, menyatakan bahwa profesionalisme prajurit harus dibangun di atas tiga pilar utama: fisik, intelektual, dan karakter.
“Prajurit harus memiliki keseimbangan antara integritas, kecerdasan, dan ketangguhan fisik. Jika ketiganya seimbang, mereka akan mampu menjalankan peran ganda sebagai petarung sekaligus pembina teritorial,” ujar Purboyo di lokasi latihan.
Salah satu aspek krusial dalam latihan ini adalah pengelolaan lahan produktif melalui konsep agroforestri. Purboyo menekankan bahwa ketahanan nasional berakar dari terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, terutama pangan.
“Jika kebutuhan dasar terpenuhi dan gizi masyarakat terjaga, maka ketahanan nasional akan kuat. Ini adalah fondasi yang sedang kita bangun di sini,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, TNI menggandeng pihak swasta untuk mengelola ratusan hektare lahan tidur.
Zakiah, Komisaris PT Buntara Kreasindo (Arinna Farm), mengungkapkan bahwa sinergi ini berhasil mengubah lahan non-produktif menjadi kawasan hijau yang bernilai ekonomis.
Ia menjelaskan, lahan yang sebelumnya tidak produktif kini telah ditanami lebih dari 13.000 pohon buah. Setiap klaster seluas lima hektare dikelola oleh sekitar 14 tenaga kerja lokal.
“Alhamdulillah masyarakat menyambut baik. Tidak ada resistensi karena semua dilakukan dengan pendekatan yang baik, didampingi Babinsa dan unsur TNI lainnya,” katanya.
Menghadapi Era Keterbukaan Informasi
Selain di lapangan, para Pasis juga diuji kemampuannya dalam menghadapi awak media melalui simulasi konferensi pers dan doorstop.
Simulasi ini dirancang agar para perwira piawai menyampaikan informasi publik secara akurat dan etis.
Denny Sopyan, salah satu Pasis yang juga merupakan anggota Paspampres, menyebutkan bahwa kemampuan komunikasi publik adalah keharusan di era digital.
“Kami dilatih menghadapi berbagai jenis pertanyaan, baik positif maupun negatif. Tujuannya agar setiap pernyataan yang keluar tetap menjaga etika dan tidak memicu kesalahpahaman di masyarakat,” pungkas Denny.
Melalui latihan terpadu ini, TNI AD berharap dapat mencetak perwira yang adaptif dan profesional, tidak hanya tangguh di medan operasi, tetapi juga mampu mendukung program strategis nasional secara humanis.(*)














