MATTANEWS.CO, PALI – Tabir gelap karut-marut Program Cetak Sawah Rakyat (PCSR) Desa Tempirai, Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) akhirnya tembus ke pusat. Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono tegas akan menurunkan tim investigasi khusus membongkar dugaan gurita korupsi yang merampas hak petani kecil di Bumi Serepat Serasan.
Langkah itu diambil setelah gerilya wartawan dan LSM Lidik PALI menyuarakan jeritan petani yang diduga jadi korban konspirasi oknum dinas, kepala desa, dan kelompok tani.
Perjuangan Menembus Kementan
Respon Wamen Sudaryono yang juga Ketua Gerindra Jateng tak datang instan. Laporan awal dikirim awal Maret, sempat tertahan agenda negara. Redaksi kembali mengingatkan pertengahan Mei: program strategis Presiden digerogoti oknum di daerah.
Dua hari terakhir, Sudaryono intens balas pesan WhatsApp redaksi. Komunikasi dua arah ini jadi sinyal kuat Kementan tak akan biarkan ketahanan pangan nasional dinodai praktik koruptif.
Rentetan Skandal Tempirai
Investigasi wartawan bersama LSM Lidik PALI merangkum fakta berdarah-darah di lapangan:
1. *Lahan Fiktif & Gusur Paksa*: LSM LIDIK PALI desak transparansi ke Dinas Pertanian. Ditemukan pola penggusuran lahan warga tanpa izin + dugaan lahan fiktif.
2. *Pupuk Lenyap*: Bantuan pupuk petani hilang “malam buta”. Gudang milik Kades Muhammad Jonot diduga jadi pusat penimbunan. Ketua Kelompok Tani Tempirai Bersatu akui teledor jual pupuk bantuan.
3. *Tanah Adat Dirampas*: Petani Suparin nyaris kehilangan tanah waris. Kades sempat kabur saat sidak, akhirnya terpaksa terbitkan SKT usai ultimatum Wakil Bupati Iwan Tuaji.
*Komitmen Tegas Wamen Sudaryono*
Melihat paparan “program fiktif, pupuk dijual oknum, alsintan disewakan keluar PALI”, Sudaryono langsung tanya: “Apakah sudah dilaporkan ke dinas terkait?”
Setelah dijawab Dinas Pertanian PALI diduga menutup borok dan menolak dikonfirmasi, Wamen beri jaminan:
“Terima kasih masukannya, aspirasi para petani di PALI akan kami atensi lebih lanjut. Mohon ditunggu, tentu memerlukan investigasi untuk memastikan fakta dan data yang ada,” tegasnya via pesan, Selasa (9/6/2026).
Ia menutup dengan apresiasi: “Ya, terima kasih. Sukses dan sehat selalu” + simbol jempol untuk jurnalisme berpihak rakyat.
Kini bola panas di tangan Kementan. Tim investigasi pusat yang dijanjikan turun jadi harapan terakhir petani PALI menyapu bersih mafia tanah & perampok hak rakyat bersembunyi di balik baju birokrasi.














