MATTANEWS.CO,TRENGGALEK — SMAN 1 Dongko, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terus memperkuat pendidikan karakter melalui dua program inovasi yang dijalankan secara berkelanjutan, yakni GEMATI (Gerakan Membiasakan Literasi) dan JUBAH (Jum’at Berkah).
Kepala SMAN 1 Dongko, Ary Muhsinin, S.Pd., M.Pd., mengatakan kedua program tersebut dirancang untuk membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian sosial, serta kedalaman spiritual peserta didik.
“Tujuan utama kami menjalankan GEMATI dan JUBAH secara konsisten adalah untuk membentuk ekosistem belajar yang seimbang. Lewat GEMATI kami ingin membangkitkan kebiasaan berpikir kritis sejak dini, sedangkan program JUBAH menjadi wadah penanaman nilai kepedulian sosial, kebiasaan berbagi, serta penguatan mental spiritual,” kata Ary dalam keterangan resmi, Kamis (20/8/2026).
GEMATI Bangun Budaya Literasi
Melalui program GEMATI, seluruh murid dan guru SMAN 1 Dongko meluangkan waktu selama 15 menit setiap Rabu pagi, pukul 07.00–07.15 WIB, untuk membaca buku non-pelajaran sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membangun budaya membaca secara konsisten di lingkungan pendidikan.
Tidak sekadar meningkatkan minat baca, GEMATI juga diarahkan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis murid melalui kebiasaan berinteraksi dengan beragam bacaan di luar materi pembelajaran formal.
Dengan rutinitas tersebut, sekolah berharap literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat dalam keseharian warga sekolah.
JUBAH Perkuat Kepedulian Sosial dan Spiritual
Sementara itu, penguatan karakter sosial dan religius diwujudkan melalui program JUBAH yang dilaksanakan setiap Jumat.
Kegiatan tersebut mencakup penggalangan infaq, baik secara konvensional maupun melalui sistem digital berbasis QRIS.
Selain membangun kepedulian dan kebiasaan berbagi, JUBAH juga menjadi ruang penguatan spiritual bagi warga sekolah. Murid dan guru laki-laki melaksanakan salat Jumat berjamaah, sementara murid perempuan mengikuti tadarus Surah Yasin dengan pendampingan guru.
Menurut Ary, perpaduan antara budaya literasi dan pembinaan mental-spiritual menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang harmonis.
“Penggabungan budaya literasi dan pembinaan mental-spiritual merupakan kunci terciptanya ekosistem belajar yang harmonis,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendidikan karakter tidak cukup hanya diberikan melalui teori di ruang kelas. Nilai-nilai tersebut perlu dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten sehingga perlahan menjadi bagian dari kepribadian murid.
Sekolah Ingin Kebiasaan Baik Terbawa ke Luar Sekolah
SMAN 1 Dongko berharap dampak GEMATI dan JUBAH tidak berhenti ketika murid berada di lingkungan sekolah. Kebiasaan membaca, berpikir kritis, berbagi, peduli terhadap sesama, serta menjalankan nilai-nilai spiritual diharapkan terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, kebiasaan baik ini menjadi karakter yang terus dibawakan dalam kehidupan sehari-hari murid. SMAN 1 Dongko berkomitmen untuk terus merawat dan memfasilitasi program-program ini demi melahirkan generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia dan berdaya saing tinggi,” tegas Ary.
Melalui GEMATI dan JUBAH, SMAN 1 Dongko menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas bukan hanya tentang capaian akademik. Kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan karakter, kepedulian sosial, dan kekuatan spiritual agar sekolah benar-benar mampu menyiapkan generasi yang unggul dan berintegritas.














