MATTANEWS.CO, OKI – World Cleanup Day (WCD) 2025 di Ogan Komering Ilir (OKI) digelar Sabtu (20/9/2025). Seluruh OPD turun serentak di seluruh kecamatan dan desa, membersihkan sampah bersama aparat pemerintah, TNI, Polri, organisasi masyarakat.
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata komitmen daerah. “Kebersihan adalah sebagian iman. Lingkungan yang bersih membuat hidup kita nyaman dan tenang,” ucapnya, Sabtu (20/9).
Namun, di balik kemasan kegiatan bersih-bersih, program besutan Kementerian Lingkungan Hidup/Kepala BLH ini sendiri tak bisa dilepaskan dari momentum penilaian Adipura Tahap II yang dijadwalkan November mendatang.
Saat ini, Kabupaten OKI tengah memburu capaian prestisius kebersihan lingkungan, sehingga momentum aksi seperti WCD atau gelar bersih-bersih lainnya dipandang sebagai sekedar strategi mempercantik wajah daerah di hadapan tim penilai.
Adipura memang kerap menjadi tolak ukur keberhasilan pengelolaan lingkungan perkotaan. Namun, kritik publik muncul karena penghargaan ini lebih banyak menilai kebersihan kasat mata ketimbang menyentuh akar persoalan. Tumpukan sampah yang masih ditemukan di pemukiman, bantaran sungai, dan jalan utama OKI menjadi pengingat bahwa persoalan tidak selesai hanya dengan aksi sehari.
Pemerintah Kabupaten OKI telah memasukkan isu sampah sebagai agenda strategis dalam RPJMD 2025-2029. Program penataan kawasan kumuh, pembangunan TPS3R dan TPST, normalisasi sungai, hingga pemantauan kualitas air berbasis digital (onlimo) disiapkan.
Akan tetapi, sejauh ini, implementasinya belum menjangkau seluruh wilayah. Kelemahan ini ditambah dengan rendahnya kesadaran warga untuk mengubah perilaku menjaga kebersihan lingkungan,
“Adipura bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana budaya menjaga kebersihan tertanam dalam keseharian masyarakat,” katanya.
Ketua Lembaga Investigasi Negara Kabupaten Ogan Komering Ilir Hamadi mengutarakan apresiasi llayak diberikan atas partisipasi ASN, aparat keamanan, tokoh agama, hingga pemuda yang turun bersama dalam WCD.
Meneruskan kegelisahan publik, Hamadi meragukan eksistensi dan keberlanjutan program kebersihan.
Menurutnya, tanpa pengelolaan sampah yang sistematis dan berkesinambungan, gerakan serentak ini hanya berlangsung seketika.
“Pertanyaannya, pakah kebersihan di OKI akan bertahan setelah tim penilai Adipura selesai berkunjung?,” tandasnya.














