Jembatan Rp 11,7 Miliar Rampung, Anak Sekolah di Tanjung Karang Tak Lagi Bertaruh Nyawa Menyeberangi Sungai MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Anak-anak sekolah di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, kini memiliki akses penyeberangan yang lebih aman. Jembatan Gantung Tanjung Karang senilai Rp 11,7 miliar telah rampung 100 persen, mengakhiri ketergantungan mereka pada perahu untuk menyeberangi sungai, terutama saat banjir dan arus deras. Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, bersama Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan, meninjau langsung jembatan tersebut pada Jumat (23/10/2026). Rampungnya pembangunan infrastruktur ini menjadi kabar penting bagi masyarakat yang selama ini menghadapi risiko saat menyeberangi sungai untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Bagi anak-anak sekolah, keberadaan jembatan bukan sekadar mempersingkat akses perjalanan, tetapi juga memberikan alternatif penyeberangan yang lebih aman ketika kondisi sungai membahayakan. Lasarus menjelaskan, pembangunan Jembatan Gantung Tanjung Karang menelan anggaran Rp11,7 miliar melalui skema kontrak tahun jamak (multiyears) untuk tahun anggaran 2025 – 2026. Jembatan yang berada di Desa Tanjung Karang tersebut menjadi penghubung penting bagi masyarakat di sejumlah desa. Kehadirannya diharapkan memperlancar mobilitas warga sekaligus mengurangi hambatan akses pendidikan bagi anak-anak yang tinggal di seberang sungai. “Dulu anak-anak sekolah harus naik perahu untuk menyeberangi sungai. Kalau sudah banjir, air di Sungai Mendalam deras sekali. Puji Tuhan, sekarang jembatan sudah jadi, sehingga anak-anak bisa menyeberang dengan aman tanpa harus menggunakan perahu lagi,” ujar Lasarus. Pernyataan itu menegaskan persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat. Ketika debit air meningkat dan arus sungai menguat, perjalanan menuju sekolah bukan lagi sekadar persoalan jarak, melainkan juga menyangkut keselamatan anak-anak. Dengan jembatan yang telah selesai dibangun, masyarakat kini memiliki akses penghubung yang lebih memadai untuk mendukung aktivitas pendidikan, ekonomi, dan kebutuhan sehari-hari. Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Ketua Komisi V DPR RI Lasarus, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta seluruh pihak yang telah mendukung dan melaksanakan pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, penyelesaian jembatan ini merupakan bentuk pembangunan infrastruktur yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Fransiskus mengatakan, sebelum jembatan tersedia, anak-anak sekolah yang tinggal di kampung seberang harus menggunakan perahu untuk menuju sekolah. Kondisi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua, khususnya ketika debit air meningkat dan arus sungai menjadi deras. “Dengan terbangunnya jembatan ini, tentu sangat membantu masyarakat, khususnya anak-anak sekolah yang beraktivitas di seberang sungai,” ungkapnya. Ia berharap keberadaan jembatan tersebut dapat memperlancar aktivitas warga dan mendukung akses pendidikan agar anak-anak tidak lagi menghadapi kendala penyeberangan seperti sebelumnya. Sementara itu, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Barat, Chandra Syah Parmance, menjelaskan bahwa Jembatan Gantung Tanjung Karang memiliki panjang bentang 100 meter dan lebar 1,8 meter. Konstruksinya menggunakan jenis pondasi bored pile. Meski telah rampung dan dapat mendukung mobilitas masyarakat, Chandra mengingatkan warga agar tidak mengabaikan batas kapasitas beban jembatan. “Perlu bapak, Ibu, dan adik-adik ketahui, kapasitas jembatan ini kurang lebih untuk 40 orang, atau beban maksimal dua ton. Ini perlu diperhatikan agar jembatan tetap kuat dan tahan lama,” jelasnya. Peringatan tersebut menjadi perhatian penting agar masyarakat menggunakan jembatan sesuai kapasitas yang ditetapkan. “Kepatuhan terhadap batas beban diperlukan untuk menjaga keamanan pengguna sekaligus mempertahankan kondisi konstruksi dalam jangka panjang, “tutur Candra. Kemudian, rampungnya Jembatan Gantung Tanjung Karang diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan akses yang selama ini dihadapi warga. “Lebih dari sekadar bangunan penghubung, jembatan ini membuka jalan bagi anak-anak untuk pergi dan pulang sekolah dengan akses yang lebih aman, tanpa harus bergantung pada perahu ketika menyeberangi Sungai Mendalam, “pungkasnya mengakhiri. (*)