[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Penertiban bangunan liar di seputaran Patung Rotunda Jakabaring Palembang, yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sumatera Selatan (Sumsel) bersama tim gabungan, pada Senin (15/3/2021) pagi berakhir ricuh.
Selain warga yang menolak digusur, turut hadir Panglima Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Merah Putih David Sanaki, yang juga membangun bangunan liar di lokasi penggusuran tersebut.
Menurutnya, para warga yang digusur merasa tertindas dengan Kasat Pol-PP Sumsel, yang diduga memalsukan tandatangan Sekda Sumsel Nasrun Umar yang menginstruksikan penertiban bangunan liar tersebut.
“Kami menduga, tanda tangan sekda dipalsukan. Di mana keadilan, ini diduga ditunggangi mafia tanah. Bagaimana rakyat kecil mau mencari makan, tolong rekan-rekan media biar dunia tahu begini jalannya birokrasi,” ujar David Sanaki di Jakabaring Palembang.
Setelah penggusuran tersebut, LSM Merah Putih akan membuat laporan 170 KUHP Ayat (2) ke Polrestabes Palembang, Polda Sumsel hingga ke Mabes Polri.

Bahkan dia menantang akan mengajak warga beramai-ramai, untuk menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Insyaallah kami akan menghadap ke (Presiden) Jokowi. Jokowi itu bapak kami. Kami ini rakyat, biar presiden tahu. Ini mafia tanah, ini bentuk arogansi,” ucapnya.
Dia kecewa karena mereka tidak pernah diajak untuk rapat penggusuran tersebut dan tidak berdialog dengan warga sekitar. Tiba-tiba, tim gabungan melakukan pembongkaran bangunan liar tersebut.
Menurutnya, kerugian yang dialami para warga yang tergusur cukup banyak. Bahkan dirinya pun sudah membeli tanah tersebut senilai Rp250 juta.
Dia juga sudah menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah untuk menimbun lahan tersebut dan rutin membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
“Kenapa tidak dari dulu di eksekusi, berdasarkan dokumen tahun 1990-1996 letak tanahnya di mana. Yang pasti kita sudah membuat surat dukungan, untuk membangun rumah demokrasi rakyat,” katanya.
Protes keras juga dilakukan oleh seorang ibu berpakaian putih, yang terus berteriak menolak penggusuran di depan tim gabungan.
“Bangunan ini liar semua. Itu (sambil menunjuk sebuah bangunan) punya pejabat, bongkar semua,” ujarnya.
Kericuhan kembali terjadi saat David Sanaki mendorong tubuh Kabid Ketertiban Umum (Tibum) Pol-PP Sumsel Fedrian. Kendati tidak ada adu fisik, namun petugas Satpol-PP Sumsel berusaha membawa David ke tepian jalan dan menenangkannya.
Sementara Itu, Kasat Pol PP Sumsel Aris Saputra menuturkan, protes penertiban bangunan liar menjadi hal yang lumrah. Namun, pihaknya tidak melarang berdagang untuk mencari rezeki dan berusaha, namun dengan tertib sesuai aturan.
“Kalau ada yang keberatan, silakan lakukan itu dengan baik. Jika ada kelemahan-kelemahan, kita siap menerima kritikan mereka. Kami imbau, dari Satpol PP Sumsel untuk tetap patuh dan taat aturan,” katanya di Palembang.














