BERITA TERKINIMATTA OPINI

“Tantang Status Quo: Firdaus Hasbullah Sebut Politisi Sibuk Rebutan Kepentingan Khianati Hijrah”

×

“Tantang Status Quo: Firdaus Hasbullah Sebut Politisi Sibuk Rebutan Kepentingan Khianati Hijrah”

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALI– Kalender Hijriah baru menapak 1448 Hijriyah. Bagi Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Firdaus Hasbullah, SH., MH, pergantian tahun ini bukan ritual dingin ganti angka. Ia sebut sebagai “jeda sunyi” yang menuntut keberanian menatap cermin, akui kekurangan, dan obarkan api perbaikan nyata.

Dalam pesan reflektif Senin (15/6/2026), Firdaus lontarkan kritik halus sekaligus tantangan ke seluruh elemen PALI. Baginya, Tahun Baru Islam tak boleh berhenti di ucapan “Selamat” yang berseliweran di ruang digital. Ia tuntut transisi kesadaran: dari pasif menuju tanggung jawab sosial kolektif.

*Hijrah sebagai Manifesto Perubahan*

Firdaus ingatkan hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar pindah geografis. Itu perpindahan filosofis. Eksodus dari keterbelakangan menuju peradaban, dari perpecahan menuju persatuan kokoh.

“Hijrah hari ini adalah keberanian untuk menantang status quo. Berani memperbaiki tata kelola, berani mengakui kesalahan, dan berani menempatkan kepentingan rakyat di atas ego sektoral maupun pribadi,” ujar Firdaus.

Di tengah tantangan zaman, dari disparitas ekonomi hingga tuntutan layanan publik, Firdaus tegaskan daerah tumbuh seperti PALI tak bisa cuma andalkan beton dan semen.

“Pembangunan yang sesungguhnya harus menyentuh jiwa. Kita tidak sedang membangun daerah dengan infrastruktur mati, kita sedang membangun masyarakat dengan akhlak yang hidup,” tambahnya.

*Stop Budaya Saling Menyalahkan*

Dengan bahasa tajam, Firdaus soroti retaknya solidaritas sosial akibat beda kepentingan. Ia serukan setop “budaya saling menyalahkan” yang cuma jadi beban sejarah.

“Mari kita tinggalkan residu konflik di tahun 1447 H. Tahun 1448 H adalah waktu yang tepat untuk berhijrah dari sikap pesimis menuju optimisme. Dari cara kerja yang penuh sekat menuju kolaborasi yang inklusif,” seru Firdaus.

Ia tempatkan diri dan DPRD PALI dalam posisi tanggung jawab moral. Baginya kursi jabatan bukan singgasana kekuasaan, melainkan meja kerja penuhi amanah rakyat.

“Politik di tahun ini harus menjadi jalan pengabdian. Jika politisi hanya sibuk dengan perebutan kepentingan, maka mereka telah mengkhianati esensi hijrah itu sendiri,” tegasnya.

*Seruan untuk Masa Depan*

Pesan Firdaus ditutup ajakan menyentuh nurani. Ia harap warga PALI jadikan 1 Muharram momentum “reset” kesadaran. Setiap detik adalah kesempatan jadi pribadi lebih berdaya guna.

Dengan visi PALI religius, maju, dan berkeadilan, Firdaus tutup refleksi dengan harapan besar: semangat hijrah jangan cuma jargon tahunan, tapi energi gerakkan setiap sendi kehidupan di Bumi Serepat Serasan.