MATTANEWS.CO, PEMALANG,– SMPN 4 Ulujami, Kabupaten Pemalang, kembali dilanda banjir rob, sebuah kejadian yang telah menjadi agenda rutin tahunan sekolah ini.
Meski pihak sekolah telah berupaya melakukan penimbunan secara swadaya, halaman dan sebagian besar ruang di sekolah masih sering tergenang saat banjir rob datang.
Ketika ditemui media, Kepala Sekolah Ayu Marlina, S.Ag., melalui Akhmar, S.Pd., selaku pembantu pelaksana urusan sarana dan prasarana menjelaskan, kejadian ini sudah berlangsung sejak lama.
“Pada 2022, genangan air sering terlihat di halaman tengah sekolah, yang sampai ada ikan-ikan yang berkeliaran di area tersebut. Saat itu, seluruh ruangan sekolah hampir terendam air,” jelas Akhmar, Sabtu (26/10/2024), di ruang kerjanya.
Akhmar menambahkan, tahun lalu, pihak sekolah mengajukan proposal bantuan kepada Dinas Pendidikan dan berhasil mendapatkan bantuan untuk menaikkan 11 ruang kelas setinggi 80 centimeter (cm).
“Tahun ini kami kembali menerima bantuan untuk meninggikan tiga ruang kelas lagi, tetapi kami tetap fokus pada kelancaran kegiatan belajar-mengajar siswa,” ujarnya.
Terkait dengan halaman tengah yang sering terendam, Akhmar menyebutkan bahwa sekolah telah mengajukan proposal bantuan, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari pihak terkait.
“Sudah ada tim dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang meninjau, tapi untuk halaman tengah kami masih menunggu rekomendasi lebih lanjut,” lanjutnya.
Situasi banjir rob yang terus-menerus ini membuat sekolah berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih.
Kondisi ini berdampak pada terganggunya kegiatan belajar-mengajar, terutama karena halaman tengah tidak dapat digunakan untuk kegiatan upacara.
Lebih lanjut, Akhmar menjelaskan, sejak 2022, pihak sekolah bersama para guru telah berinisiatif untuk melakukan iuran guna meninggikan ruangan kantor TU dan ruang guru hingga 40 cm.
“Kami secara swadaya meninggikan ruang guru dan TU untuk mengurangi dampak genangan air,” katanya.
Dengan kondisi ini, pihak sekolah berharap agar masalah banjir rob bisa segera diatasi.
“Kasihan anak-anak, mereka kehilangan tempat belajar yang layak, dan dari sisi kesehatan pun ini berisiko. Kami berharap ada solusi dari pihak berwenang,” tutup Akhmar.














