Oleh: Gatot Sultan
MATTANEWS.CO – Palembang bukan sekadar titik koordinat di peta Sumatera Selatan, ia adalah sebuah prasasti hidup yang terapung di atas dialektika air. Sebagai pewaris imperium kelautan Sriwijaya, kesadaran kolektif masyarakatnya dibentuk oleh alur Sungai Musi yang ritmis, sebuah simbol aliran waktu yang membawa hulu (asal-usul) menuju hilir (tujuan akhir). Di tengah riuh rendah modernitas yang seringkali kering akan makna, muncul sebuah ritus kecil namun bermakna raksasa yaitu Tepung Tawar.
Secara sosiologis, Tepung Tawar seringkali hanya dipandang sebagai seremoni tolak bala atau ucapan syukur. Namun, jika kita membedahnya dengan pisau bedah fenomenologi, Tepung Tawar adalah sebuah “Seni Kesadaran” (Art of Consciousness) yang menghubungkan manusia Palembang dengan mikrokosmos dan makrokosmosnya.
Simbolisme Materi “Antara Bumi dan Langit”
Tepung Tawar menggunakan elemen-elemen alam yang tidak dipilih secara serampangan. Di dalamnya terdapat perpaduan air, dedaunan (seperti daun setawar, sedingin), dan bedak cair.
Air (Substansi Kehidupan)
Dalam filosofi Palembang, air adalah guru. Ia menyesuaikan diri namun tetap konsisten pada sifatnya yang jernih. Memercikkan air dalam Tepung Tawar adalah tindakan membasuh ego, mendinginkan “api” amarah atau ambisi yang berlebihan yang seringkali membakar jiwa manusia urban.
Dedaunan (Keseimbangan Organik)
Penggunaan daun setawar dan sedingin adalah metafora dari fungsi manusia sebagai khalifah yang harus membawa kesejukan bagi lingkungannya. Ia adalah manifestasi dari konsep Rahmatan lil ‘Alamin yang dibalut dalam estetika lokal.
Warna Putih (Kesucian Asal)
Tepung yang memutih melambangkan kembalinya manusia ke titik nol (fitrah). Di tanah yang pernah menjadi pusat pembelajaran Buddhisme dunia dan kemudian menjadi kesultanan Islam yang taat, warna putih adalah jembatan yang menghubungkan kedua garis sejarah tersebut dalam satu tarikan napas spiritual “kemurnian hati”.
Point of View:
Sejarah yang Tak Berhenti Mengalir
Dari sudut pandang sejarah budaya, Tepung Tawar adalah penyulingan dari nilai-nilai Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah. Ia adalah “teknologi batin” yang diciptakan leluhur Palembang untuk menjaga kewarasan kolektif.
Ketika seorang bangsawan atau rakyat jelata di Palembang menjalani prosesi ini, sejarah seolah hadir kembali. Ada gema dari Bukit Seguntang yang sakral, tempat di mana raja-raja turun membawa tuah.
Tepung Tawar adalah cara kita menawar (menegosiasikan) takdir. Kita sadar bahwa hidup penuh dengan gesekan (hot friction), dan kita membutuhkan penawar agar tidak patah dalam arus zaman.
Tepung Tawar sebagai Seni Kesadaran
Mengapa kita menyebutnya seni kesadaran? Karena di saat percikan air itu mengenai kening, terjadi sebuah interupsi terhadap kesibukan duniawi. Itu adalah momen mindfulness ala Melayu-Palembang.
Di sana ada pengakuan akan ketidakberdayaan manusia di hadapan Sang Pencipta, sekaligus penegasan atas harapan yang luhur. Ia adalah simbol pembersihan diri dari “debu-debu” sengketa sosial dan polusi batin. Dalam konteks Sumatera Selatan yang agraris sekaligus maritim, Tepung Tawar adalah jalinan harmoni antara hasil bumi dan kesucian air.
Penutup
Menawar Masa Depan
Kita tidak boleh membiarkan Tepung Tawar terjebak menjadi sekadar fosil tradisi yang dipentaskan demi pariwisata. Kita harus memaknainya sebagai sebuah manifesto intelektual: bahwa kemajuan teknologi di tepian Sungai Musi tidak boleh menggerus kelembutan jiwa manusia Palembang.
Menjalankan ritual Tepung Tawar berarti kita berjanji untuk menjadi pribadi yang “tawar” terhadap godaan keserakahan, namun “manis” dalam pergaulan sosial. Inilah warisan budaya Palembang yang sesungguhnya, sebuah kesadaran tinggi untuk tetap dingin di tengah dunia yang kian memanas.
Sebagaimana air Musi yang tak pernah berhenti mengalir, biarlah kesadaran Tepung Tawar ini terus membasuh wajah peradaban kita, agar kita tidak lupa cara menjadi manusia yang utuh di tanah para raja.
Salam Budaya
Seni Kesadaran
RUMAH ASPIRASI BUDAYA















