BERITA TERKINI

Tradisi Mapag Tirta Kahuripan, Pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan

×

Tradisi Mapag Tirta Kahuripan, Pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan

Sebarkan artikel ini
Para pendaki Dines Ciamis Jabar melakukan pendakian ke puncak Karantenan untuk menjalankan tradisi Mapag Tirta Kahuripan (Kayan Manggala / Mattanews.co)
Para pendaki Dines Ciamis Jabar melakukan pendakian ke puncak Karantenan untuk menjalankan tradisi Mapag Tirta Kahuripan (Kayan Manggala / Mattanews.co)

MATTANEWS.CO, CIAMIS – Kembali ke Alam. Seperti itulah yang dilakukan pendaki Dines Ciamis Jawa Barat (Jabar), saat tiba di basecamp pendakian Gunung Sawal. Mereka ikut serta dalam acara Mapag Tirta Kahuripan di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Minggu (22/8/2021) lalu.

Salah satu pendaki Dines Ciamis, Iyus menerangkan, Mapag Tirta Kahuripan adalah tradisi mengambil air dari sumber mata air yang dikeramatkan. Yang digunakan dalam agenda Nyangku di Panjalu yaitu mencuci pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu.

“Di puncak Karentenan Gunung Sawal, ada dua kolam sumber mata air yang dikeramatkan. Untuk itu, setiap sebelum acara Nyangku di Panjalu, akan mengadakan Mapag Tirta Kahuripan dari 7 sumber mata air,” ucapnya.

Sebelum memulai pendakian, terlihat mereka menyantap bakwan dengan perpaduan surabi, yang masih hangat.

Udara berembus tajam menusuk kulit. Mereka semua beristirahat sambil menyeduh kopi, setelah menempuh perjalanan selama hampir 1 jam setengah lamanya.

Semburat jingga matahari mewarnai langit Panjalu di awal pagi. Terkadang kabut muncul membayangi, walau akhirnya disapu angin.

Warga-warga sekitar mulai menyibukkan diri. Ada yang mencari rumput untuk ternak, ada yang berkumpul untuk berbagi beras hasil sumbangan, atau hanya sekadar mencari sarapan pagi.

Para pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan Ciamis Jabar (Kayan Manggala / Mattanews.co)
Para pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan Ciamis Jabar (Kayan Manggala / Mattanews.co)

Desa Panjalu bergeliat. Begitu juga para pendaki bersiap, untuk mulai meninggalkan jalan aspal di desa yang berketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Setengah jam meninggalkan desa, mereka mulai menginjak tanah. Di samping kiri dan kanan, menghampar hijau perkebunan kopi dan pinus.

Sayangnya ada ditemukan penambahan pohon-pohon kopi, di kemiringan yang tidak seharusnya ditanami kopi.

Pada satu kesempatan, para pendaki bertemu seorang nenek yang sedang mengurus tanaman kopi tersebut.

“Permisi nek,” ujar pendaki ketika lewat.

“Mangga. Mari dek,” balasnya sambil melempar senyum.

Keramahan khas pedesaan sebentar lagi akan sirna. Berganti dengan sunyi hutan yang termasuk ke dalam kawasan taman konservasi suaka margasatwa ini.

Setelah jalur masuk ke kawasan suaka margasatwa Gunung Sawal dicirikan, dengan vegetasi tanaman-tanaman yang heterogen. Disuguhi keindahan flora dan fauna yang terjaga kelestariannya, berkat kesadaran masyarakat sekitar.

Kata Iyus, kalau budaya di area Gunung Sawal ini sangat terjaga. Kawasan tersebut termasuk ‘Leuweung Larangan Karantenan’ atau berarti Hutan Larangan. Atas terjaganya kepercayaan leluhur di sana, area hutan konservasi terjaga dengan apik.

Diawali dengan jalur yang sedikit landai dan banyak sekali bonusnya, yaitu jalan datar. Kemudian mulai jalan menanjak saat memasuki kawasan suaka margasatwa.

Para pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan Ciamis Jabar (Kayan Manggala / Mattanews.co)
Para pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan Ciamis Jabar (Kayan Manggala / Mattanews.co)

“Untuk pemula, sangat cocok jalur pendakian Puncak Karantenan Gunung Sawal ini, karena masih banyak bonusnya, dan tetap harus meminta ijin terlebih dahulu ke Simaksi BKSDA Jabar wilayah 3 Ciamis,” ungkap Iyus.

Target pendakian hari ini adalah pencapaian puncak Karantenan. Masih sekitar lima jam perjalanan, untuk sampai ke puncak tertinggi gunung ini.

Jalan mulai meliuk-liuk diwarnai debu yang masuk ke lubang hidung. Badan-badan mulai merunduk, untuk menyeimbangkan langkah.

Alang-alang tumbuh mendominasi. Tumbuhan paku-pakuan juga tak mau kalah. Saat ini panas terik langsung menerjang kepala. Kembali jalur pendakian berubah menanjak setelah beberapa saat.

Debu-debu kembali beterbangan. Angin kencang mengempaskan. Buff atau scarf hanya menutup seadanya. Napas berdengus. Peluh bercucuran. Semua berharap segera mencapai Puncak Karantenan.

Kini, pendaki berjalan di tengah jurang terjal. Perlu kewaspadaan tinggi ketika melewatinya. Itu sedikit lagi. “Ayo semangat. Atur langkah,” salah satu anggota Pendaki Dines berkomentar.

Setelah sampai di Batu Datar, pendaki dapat menikmati jajaran Puncak Gunung Sawal yang tampak dari jarak saat beristirahat. Sebut saja Puncak Bongkok dan lainnya.

Para pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan Ciamis Jabar (Kayan Manggala / Mattanews.co)
Para pendaki Dines Ciamis Daki ke Puncak Karantenan Ciamis Jabar (Kayan Manggala / Mattanews.co)

Belum lagi padang rumput di punggung bukit-bukit. Perpaduan warna hijau dan kuning memanjakan mata. Di ujung punggung bukit, warna putih menyambut.

Di Batu Datar mereka melakukan Tawasulan dulu yang dipimpin langsung oleh kuncen Puncak Karantenan. Setelah selesai mereka melanjutkan kembali berjalan melewati tanah liat dan bebatuan-bebatuan kecil.

“Yuk sedikit lagi sampai puncak. Kita tawasul di atas kemudian makan bersama,” kata Iyus yang juga anggota pendaki Dines Ciamis.

Jalur pendakian yang dilalui merupakan jalur yang ada dari jaman dulu, bukan jalur bukaan baru.

“Di sepanjang jalur wilayah suaka margasatwa vegetasinya masih rapat menutupi jalur pendakian, dari BKSDA juga ikut serta dalam kegiatan ini,” katanya.

Setelah sampai di Puncak Karantenan, mereka menggelar tawasulan dan mengambil Air yang dikeramatkan dari dua kolam yang dikelilingi pohon-pohon tinggi.

Setelah itu, para pendaki menikmati makan bersama dengan beberapa komunitas lain dan kepala desa panjalu yang juga mengikuti pendakian tersebut sampai puncak.