Reporter : Poppy Setiawan
JAKARTA, Mattanews.co– Di tengah pandemi virus corona baru (Covid-19) yang melanda dunia, muncul wabah bubonic di China. Kasus penyakit yang lebih dikenal sebagai penyakit pes ini dikonfirmasi muncul di sebuah kota di Mongolia Dalam.
Departemen Kesehatan Kota Bayannur, Mongolia pada Minggu (5/7/2020) lalu mengkonfirmasi bahwa ada seorang peternak di wilayahnya yang terinfeksi wabah bubonic atau bisa disebut pes atau maut hitam atau Black Death.
Pemerintah setempat dan China menerapkan sejumlah langkah untuk mencegah penyebaran wabah semakin masif, salah satunya warga dihimbau untuk tidak mengkonsumsi tikus seperti dilansir The New York Times.
Selain peternak tersebut, wabah bubonic juga menyerang seorang anak berusia 15 tahun di kota tersebut. Diketahui ia mengalami demam setelah makan marmut yang diburu oleh seekor anjing.
Ada dua pasien wabah bubonic lainnya terdapat di provinsi Khovd, Mongolia. Kedua pasien itu disebut bersaudara dan mengidap wabah bubonic setelah memakan daging marmut. Setidaknya lima orang telah dinyatakan meninggal dunia akibat terinfeksi wabah bubonic sejak 2014 lalu.
Sementara Melansir dari The Indian Express, Sabtu kemarin (8/8/2020) penyakit tersebut telah menginfeksi setidaknya 60 orang. Awal 2020, dilaporkan ada sebanyak 37 orang didiagnosis SFTS di Jingsu, kemudian disusul 23 orang lainnya di Anhui, China Timur. Peningkatan jumlah pasien pun memicu peringatan dari kalangan pejabat kesehatan setempat.
Penyakit yang menular ke manusia melalui gigitan kutu ini pertama kali diidentifikasi oleh tim peneliti China lebih dari satu dekade lalu. Beberapa kasus pertama dilaporkan di daerah pedesaan di provinsi Hubei dan Henan pada tahun 2009.
Tim peneliti mengidentifikasi virus dengan memeriksa sampel darah yang diperoleh dari sekelompok orang yang menunjukkan gejala serupa. Menurut laporan Nature, virus itu membunuh setidaknya 30 persen dari mereka yang terinfeksi. Menurut Sistem Informasi China untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit tingkat kematian kasus saat ini berada di antara sekitar 16 dan 30 persen.
Karena tingkat penyebaran dan fatalitasnya yang tinggi, SFTS telah terdaftar di antara 10 penyakit prioritas teratas blue print Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Ahli virologi percaya bahwa kutu Asia yang disebut Haemaphysalis longicornis adalah vektor atau pembawa utama virus. Penyakit ini diketahui menyebar antara Maret dan November. Para peneliti telah menemukan bahwa jumlah total infeksi umumnya mencapai puncaknya antara April dan Juli.
Peternak, pemburu, dan pemilik hewan peliharaan sangat rentan terhadap penyakit karena mereka sering bersentuhan dengan hewan yang mungkin membawa kutu Haemaphysalis longicornis. Para ilmuwan telah menemukan bahwa virus sering ditularkan ke manusia dari hewan seperti kambing, sapi, rusa, dan domba. Meskipun terinfeksi oleh virus, hewan umumnya tidak menunjukkan gejala yang terkait dengan SFTSV.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti China pada tahun 2011, masa inkubasi antara tujuh hingga 13 hari setelah timbulnya penyakit. Pasien yang menderita penyakit ini biasanya mengalami berbagai macam gejala, termasuk demam, kelelahan, kedinginan, sakit kepala, limfadenopati, anoreksia, mual, mialgia, diare, muntah, sakit perut, perdarahan gingiva, kongesti konjungtiva, dan sebagainya.
Beberapa tanda peringatan dini penyakit ini termasuk demam parah, trombositopenia atau jumlah trombosit yang rendah dan leukositopenia, yaitu jumlah sel darah putih yang rendah. Faktor risiko yang diamati pada kasus yang lebih serius termasuk kegagalan multi-organ, manifestasi hemoragik dan munculnya gejala sistem saraf pusat (SSP).
Virus ini juga menyebar ke negara Asia Timur lainnya, termasuk Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Sejak virus pertama kali ditemukan, jumlah kasus telah meningkat secara signifikan.
Pada 2013, sebanyak 36 kasus dilaporkan di Korsel. Jumlah itu meningkat tajam menjadi 270 pada 2017. Sementara itu, China mendaftarkan 71 kasus pada 2010 dan 2.600 pada 2016. Jumlah infeksi yang dilaporkan di Jepang meningkat 50 persen antara 2016 dan 2017, laporan Nature menyatakan.
Ketika jumlah kasus mulai meningkat di ketiga negara, pejabat kesehatan masyarakat mulai mendidik dokter lokal dan warga biasa tentang risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh gigitan kutu. Para ilmuwan menyatakan, karena semakin banyak orang yang menyadari virus dan penyakit yang ditimbulkannya, tingkat kematian akibat infeksi mulai turun secara signifikan.
Sementara vaksin untuk mengobati penyakit ini belum berhasil dikembangkan, obat antivirus Ribavirin diketahui efektif untuk mengobatinya.
Untuk menghindari tertular penyakit, berbagai otoritas pemerintah, termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China, mendesak masyarakat umum untuk menghindari mengenakan celana pendek saat berjalan melalui rumput tinggi, hutan, dan lingkungan lain di mana kutu cenderung berkembang.
Editor : Poppy Setiawan














