MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Image museum yang terkesan kuno, kaku dan membosankan sepertinya tidak terlihat di Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel). Hal itu diungkapkan beberapa pengunjung museum dari generasi terkini atau lebih dikenal dengan sebutan kaum mileneal.
Kamal, siswa SMK Negeri 2 Palembang mengatakan, ia terkejut dengan keramahan resepsionis di lobby Museum Negeri Sumsel yang menyambutnya dengan ucapan selamat datang, serta menginstruksikan untuk mengisi buku tamu.
Sambil tersenyum, siswa SMK di Palembang yang datang bersama temannya itu, seperti diberikan energi tambahan untuk masuk dan mengenal Museum Negeri Sumatera Selatan.
“Jadi asyik kalau petugas museumnya ramah seperti itu. Saya dulu pernah ikut orang tua ke museum di kota lain, tapi tidak seramah ini,” ucap Kamal sambil tersenyum kepada MATTANEWS.CO, Jumat (19/11/2021).
Ia juga menambahkan bahwa kunjungannya itu merupakan kali kedua. Saat kunjungan pertama ia mengatakan tidak terlalu fokus dengan pelayanan petugas Museum Negeri Sumsel, karena ia bersama temannya terburu-buru ingin mengikuti Seminar Sehari Hasil Kajian Museum Negeri Sumsel bertema ‘Ikat dan Penutup Kepala Laki-laki Sumsel Berdasarkan Pengaruh Islam, Kolonial Belanda dan Penduduk Jepang’ yang diadakan Museum Negeri Sumsel.
Saat ditanya mengenai seminar tersebut, ia mengatakan bahwa selama ini cuma tahu tentang penutup kepala laki-laki Sumsel atau yang biasa disebut Tanjak. Namun ia tidak paham akan sejarah dan fungsional Tanjak tersebut.
“Saya orang Palembang asli, kalau Tanjak saya tahu, tapi tidak tahu betul sejarahnya,” katanya.
Dalam kegiatan yang diadakan pada tanggal 22 September 2021 itu, Kamal beserta temannya, Kevin sangat antusias untuk mengikuti seminar itu.
Hal itu karena dorongan dari orang tuanya yang menginginkan Kamal sadar sejarah.
“Ibu saya yang menyuruh saya datang. Kebetulan pulang sekolah sedikit lebih cepat, jadi bisa ikuti seminarnya,” ucap siswa Kelas XII SMK Negeri 2 Palembang itu.
Dengan masih menggunakan seragam sekolahnya, kedua pelajar asal Talang Keramat Sumsel itu, sengaja datang ke Museum Negeri Sumsel untuk melihat kemegahan peninggalan sejarah, yang biasanya hanya diketahuinya dari buku pelajaran Sejarah.
Keduanya menceritakan pengalamannya ketika pertama kali mengunjungi Museum Negeri Sumsel dengan ceria, terlihat dari keduanya bercerita sambil tertawa.

Satu per satu ruangan pameran di Museum Negeri Sumsel dikunjungi keduanya untuk melihat lebih dekat peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan zaman prasejarah.
Kevin menceritakan kekagumannya ketika melihat benda-benda bersejarah yang dimiliki Museum Negeri Sumsel.
“Alat perang zaman dahulu ternyata keren. Seperti pedang, ada ukiran dan ukurannya sangat besar,” ucap siswa Kelas IX SMA Bina Warga 2 Palembang itu sambil tersenyum.
Kevin menjelaskan, biasanya ia mengetahui hal seperti itu hanya dari buku pelajaran Sejarah saja.
“Biasanya baca di buku Sejarah tentang sejarah Sumsel, sekarang bisa lihat secara langsung. Petugas Museumnya juga asyik,” ucapnya sambil tersenyum.
Ia juga mengatakan, keinginannya untuk berkunjung ke Museum Negeri Sumsel bersama Kamal sudah diagendakan mereka. Namun karena pandemi Covid-19, mereka harus menundanya.
Kevin juga mendapat kabar dari Kamal jika ada beberapa event di Museum Negeri Sumsel, keinginannya untuk ke museum pun tak tertahan lagi.
Hingga akhirnya keduanya saling berjanji untuk berkunjung ke Museum, yang dulunya bernama Museum Bala Putra Dewa.
“Awalnya tahu dari teman, kalau museum sudah buka dan menggelar berbagai acara. Salah satunya kegiatan Sang Juara di awal bulan November 2021 lalu. Teman-teman juga menceritakan, tentang koleksi museum yang begitu banyak dan bisa menambah wawasan sejarah,” ujarnya.
Kevin menambahkan, ini kali kedua dirinya datang ke Museum Negeri Sumsel. Karena sebelumnya, dia sempat menghadiri acara Seminar Sehari Hasil Kajian Koleksi Museum Negeri Sumsel, pada Rabu (22/9/2021) lalu.
Keduanya sepakat mengatakan pelayanan petugas Museum Negeri Sumsel sangat ramah.
“Pas untuk kaum mileneal, jadi tidak kaku. Karena biasanya kalau dengar kata museum langsung terpikir kaku. Tidak enak rasanya kalau lihat hal-hal berbau sejarah dengan keadaan yang kaku dan membosankan,” ucap keduanya.
Di bulan September tepatnya Rabu (22/9/2021), Museum Negeri Sumsel mengadakan seminar Seminar Sehari Hasil Kajian Koleksi Museum Negeri Sumsel.
Atmosfer seketika berubah ketika agenda tersebut berlangsung. Hal tersebut terlihat dengan hadirnya beberapa peggiat sejarah dan sejarahwan Sumsel.
Salah Budayawan dan Sejarahwan Sumsel Raden Muhammad Ali Hanafiah dan Muhammad Idris turut hadir untuk menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut.
Selain sejarahwan dan budayawan, kegiatan tersebut memancing hasrat dosen, mahasiswa, pelajar dan peggiat sejarah di Sumsel untuk duduk berdiskusi terkait sejarah dan budaya Sumsel.
Ikat kepala menjadi salah satu topik hangat dalam seminar yang diadakan Museum Negeri Sumsel.
Terkait ikat kepala, budayawan Sumsel Muhammad Idris memberikan penjelasan terkait ikat kepala.
Ia mengatakan, mengikat kepala merupakan tradisi yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Hal itu dapat dilihat dari penemuan benda sejarah yang memperlihatkan laki-laki dengan ikat kepala. Terutama di masa Hindu Buddha.
“Tradisi ikat kepala sejak ada ribuan tahun lalu. Penggunaan tanjak mengarah ke depan, sebagai bentuk perlawanan Melayu untuk melawan tradisi Jawa di masa itu,” katanya.
Sementara Budayawan Palembang, Raden Muhammad Ali Hanafiah mengatakan pembuatan tanjak dilakukan secara turun temurun secara tradisional di keluarganya.
“Koleksi museum didapatkan dari membeli, untuk pengadaan koleksi museum. Bisa didapatkan dari hibah atau penitipan,” katanya.
Tanjak tanjang belang kembang, kepudang, ikat-ikat dan lainnya juga bisa dilihat di koleksi benda sejarah di Museum Negeri Sumsel.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Museum Negeri Sumsel Chandra Amprayadi mengungkapkan, kegiatan Seminar Sehari Hasil Kajian Koleksi Museum Negeri Sumsel, menjadi salah satu rangkaian dari edukasi pihaknya, untuk generasi muda agar lebih tertarik dengan sejarah lokal.
Salah satunya yang menarik untuk diangkat yakni, mengenai ikat dan tutup kepala yang juga menjadi koleksi di Museum Negeri Sumsel.
“Kita mempunyai koleksi tutup kepala dari zaman megalit sampai zaman Krio dan berakhir di masa Pesirah. Semua yang kita kaji itu, adalah koleksi Museum Negeri Sumsel. Ada juga tutup kepala di zaman prasejarah, peralihan Kerajaan Sriwijaya, Agama Buddha, Hindu, Kesultanan Palembang Darussalam, kolonial Belanda hingga Kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Ia mengakui, ada sebagian koleksi tutup kepala tanjak yang merupakan hibah dari masyarakat, ada juga dari beberapa pengrajin dan kolektor yang menghadiahkan tanjak bersejarah ke Museum Negeri Sumsel.
“Jumlah tidak ingat, karena tanjak termasuk peninggalan tak benda. Tanjak bisa berubah benda dan bisa berupa tak benda. Jika koleksi museum, sudah menjadi aset berharga bagi museum. Jadi aset yang luar biasa dan sulit untuk dipindahtangankan,” katanya.
“Saat ini ada sekitar 15.000-an koleksi di museum, yang terus dipelihara, direstorasi, reparasi dan konservasi,” ungkapnya.
Penerapan Terapkan Prokes Ketat di Kawasan Museum Negeri Sumsel
Setelah kunjungan Museum Negeri Sumsel dibuka, berbagai kegiatan diadakan sejak awal bulan September 2021 lalu. Kegiatan tersebut pun menggandeng anak muda di Sumsel.
Chandra mengatakan, di awal pandemi Covid-19, kunjungan Museum Negeri Sumsel sempat ditutup untuk dikunjungi, agar tidak menyumbangkan klaster baru COVID-19 di Sumsel.
Setelah dibuka, terkait protokol kesehatan disiapkan oleh pihak Museum Negeri Sumsel. Anjuran untuk tidak berkumpul pun tetap menjadi pengawasan pihak Museum Negeri Sumsel.
Selain itu, membenahi pelayanan pengunjung menjadi hal utama guna meningkatkan minat kunjungan. Hal itu merupakan cara agar anak muda atau kaum mileneal menjadi peka akan sejarah, terutama sejarah Sumsel sendiri.














