BERITA TERKINIEKONOMI & BISNISHEADLINEPEMERINTAHAN

Warga Lebuh Rarak Pedamaran OKI Olah Limbah Menjadi Produk Bermanfaat

×

Warga Lebuh Rarak Pedamaran OKI Olah Limbah Menjadi Produk Bermanfaat

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, OKI – Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera Selatan menggelar pelatihan pengolahan limbah rumah tangga dan limbah organik pasar di Desa Lebuh Rarak, Kecamatan Pedamaran, Jumat, (1/10).

Kegiatan ini mengajarkan masyarakat cara mengubah sampah organik menjadi eco enzim serta produk turunannya berupa sabun cuci piring, pupuk, dan pestisida nabati.
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari ini diikuti lebih dari 100 peserta, sebagian besar kaum perempuan. Mereka terlihat antusias mengikuti setiap sesi hingga kegiatan berakhir.

Para peserta mempraktikkan langsung proses pembuatan eco enzim dari bahan limbah dapur seperti kulit buah dan sayur, serta cara mengolahnya menjadi produk ramah lingkungan.

Camat Pedamaran Yoes Nursal yang hadir membuka kegiatan menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Forum DAS Sumsel. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan dengan upaya pemerintah daerah mengurangi timbunan sampah dan mendorong pengelolaan limbah berbasis masyarakat.

“Pelatihan ini bukan hanya bermanfaat bagi lingkungan, tapi juga bisa membuka peluang ekonomi baru. Kami mendukung penuh agar pelatihan seperti ini dikembangkan ke desa-desa lain yang belum mendapat kesempatan serupa,” ujarnya.

Kegiatan bagian dari program lingkungan berkelanjutan yang didanai oleh Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan melalui kerja sama Indonesia–Norwegia tahap 2 dan 3 (FOLU – FOLU Net Sink 2030) terdiri dalam empat sesi secara pararel.

Pembuatan eco enzim dipandu oleh Dr. Chuzaimah, S.P., M.Si. Pembuatan sabun cuci piring dipandu oleh Nuniek Handayani, S.Pd. Sedangkan pembuatan pupuk dan pestisida nabati dibimbing oleh Dr. Dewi Meidalima, S.P., M.P. Sesi tanya jawab serta pre dan post test difasilitasi oleh Dr. Ir. Karlin Agustina, M.Si.

Instruktur kegiatan, Nuniek Handayani menjelaskan bahwa eco-enzyme memiliki daya bersih tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan utama sabun cuci piring alami.

“Cairan ini bisa mengurai lemak dan kotoran dengan baik, tanpa menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Sabun dari eco-enzyme juga lembut di tangan, tidak membuat kulit kering,” ujarnya.

Menurut Nuniek, sabun cuci piring berbasis eco-enzyme kini mulai dilirik sebagai alternatif pengganti sabun pabrikan yang banyak mengandung bahan kimia sintetis seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS), paraben, dan pewangi buatan.

“Zat yang terkandung tersebut sering kali menyebabkan iritasi kulit dan berpotensi mencemari lingkungan karena sulit terurai,” jelasnya.

Lalu kemudian, Dr. Chuzaimah menjelaskan bahwa eco enzim merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik yang mengandung enzim alami. “Cairan ini mampu mengurai lemak dan kotoran sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar sabun cuci piring alami. Keunggulannya, tidak menimbulkan residu berbahaya dan ramah terhadap air tanah,” ujarnya.

Selanjutnya, Dr. Dewi Meidalima menjelaskan bahwa pestisida nabati berbahan buah Bintaro (Cerbera manghas). Campuran tersebut difermentasi menggunakan eco enzim sehingga menghasilkan larutan yang efektif mengusir hama tanpa merusak tanah atau air. “Dengan pestisida nabati, petani dapat menjaga keseimbangan ekosistem tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis,” katanya.

Selama kegiatan, peserta juga menerima bibit sayuran, pupuk, dan sabun hasil produksi pelatihan untuk digunakan di rumah masing-masing.

Program ini, sambung Dr. Dewi Meidalima mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi pada pengurangan emisi dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Forum DAS Sumsel berharap pelatihan ini menjadi langkah awal masyarakat Desa Lebih Rarak hingga meluas ke seluruh desa di Kecamatan Pedamaran dalam mengelola sampah secara mandiri dan produktif,” terangnya.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tridinanti Palembang ini juga mengatakan kegiatan yang berlangsung merupakan bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular dan gaya hidup hijau di tingkat desa.

“Tujuan akhirnya adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Dari yang semula dianggap limbah menjadi berkah, yang bisa dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi,” tutupnya.