BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARA

Workshop Keluarga Sakinah Digelar: Upaya Tekan Perceraian dan Pernikahan Anak di Ciamis

×

Workshop Keluarga Sakinah Digelar: Upaya Tekan Perceraian dan Pernikahan Anak di Ciamis

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, CIAMIS – Program pembinaan bertajuk Workshop Keluarga Sakinah resmi digelar selama dua hari dua malam di aula pondok pesantren miftahul ulum bangun bangunsirna Ciamis, sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga dan menekan tingginya angka perceraian serta pernikahan anak di Kabupaten Ciamis, Sabtu (29/11/2025)

Kegiatan yang diikuti 35 peserta dengan dukungan panitia dan fasilitator hingga total mencapai sekitar 50 orang ini menyasar remaja usia 19 tahun hingga di bawah 30 tahun yang belum menikah dan sedang mempersiapkan diri menuju kehidupan rumah tangga.

Narasumber kegiatan, Sumadi, menjelaskan bahwa workshop ini bukan sekadar memberikan teori, tetapi membangun pemahaman mendalam tentang konsep keluarga sakinah dan maslahat.

“Ini workshop keluarga Sakinah. Kita ingin membentuk calon keluarga yang bahagia, harmonis, dan mampu memberi dampak maslahat bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Menjawab Masalah Serius: 5.000 Kasus Perceraian dan Pernikahan Anak Tinggi.

Sumadi mengungkapkan bahwa pelatihan ini menjadi bentuk kontribusi nyata dalam menjawab problem ketahanan keluarga di Ciamis.

“Kita punya persoalan serius. Hampir 5.000 perkara perceraian terjadi setiap tahun. Jika 4.000 di antaranya inkrah, kemudian tiap pasangan memiliki dua anak, maka ada minimal 8.000 anak yang berpotensi mengalami keterlantaran psikologis dan ekonomi,” katanya.

Selain perceraian, Ciamis juga tercatat sebagai salah satu daerah dengan angka pernikahan anak tertinggi di Indonesia, bahkan melampaui beberapa daerah lain seperti Indramayu dalam aspek tertentu. Kondisi ini dinilai sebagai ancaman masa depan yang harus segera diantisipasi.

Dukungan Berbagai Pihak

Workshop ini terselenggara melalui kerja sama dengan berbagai lembaga, di antaranya Kementerian Agama, PBNU, PCNU Ciamis, Universitas Islam Darussalam, Ansor, Fatayat, serta sejumlah pesantren dan lembaga masyarakat lainnya.

Sumadi berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan direplikasi di komunitas maupun lembaga lainnya.

“Mudah-mudahan pelatihan seperti ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh berbagai komunitas. Pemerintah juga perlu membuat program sistematis untuk membangun keluarga tangguh dalam perspektif Islam: sakinah dan maslahat,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan keluarga merupakan “bahaya laten” yang tidak terlihat, tetapi berdampak nyata bagi masa depan daerah jika tidak ditangani secara serius.