MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Jatuh bangun dalam menekuni sebuah usaha itu hal biasa bagi seorang Pengusaha.
Kisah serupa diceritakan oleh salah satu peternak ayam petelur Ali Imron (38) asal Desa Buntaran Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Memulai merintis beternak di tahun 2007 dengan modal 500 ekor ayam petelur, perlahan tapi pasti populasi ayam ia miliki meningkat, namun kembali jatuh pada tahun 2015.
“Pengalaman pahit itu dirasakan sekira 2015 hingga 2018 usaha yang ditekuni mengalami pailit (bangkrut red.) dan banyak meninggalkan hutang dimana-mana,” kata Kaji Ali lebih akrab disapa sembari mimik berkaca-kaca.
“Dalam kondisi pailit tersebut, istri dan saudara terus memberikan motivasi bahkan teman selalu mencarikan solusi untuk melewati masa-masa kelam tersebut,” kenangnya.
Kata Kaji Ali, setelah melewati masa tersebut ia mencoba bangkit kembali hingga kini memiliki populasi ayam petelur 10.000 ekor.
“Alhamdulilah, doa selalu ikhtiar dan tekun, gigih tetap ulet serta jangan putus asa ia anggap kunci seorang Pengusaha peternak ayam petelur,” ujar Pria memiliki dua putra ini menambahkan.
Lebih lanjut tutur Dia menjelaskan selain peternak ayam petelur ia sebagai supplier telur dan melayani permintaan pelanggan hingga di pulau Kalimantan.
Adanya Pandemi melanda sempat membuat terpuruk, namun meski demikian omset penjualan telur memang berpengaruh tapi tidak begitu signifikan.
“Awal pandemi memang ia akui, tapi sekarang sudah kembali normal, buktinya kiriman telur ke Kota Jakarta dalam sehari 3-4 truk colt diesel,” ucap bangga Pria juga sebagai Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung sembari tersenyum.
“Menurutnya, dalam sebulan dapat meraup omset hingga 600 Ton dengan asumsi (taksiran red.) perhari 20 Ton,” sambungnya.

Selaku Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur (PPAP) Kecamatan Rejotangan, Tulungagung hingga kini menjadi kendala adalah harga telur murah sedangkan harga pakan semakin melambung tinggi.
“Iya benar, mewakili teman-teman semoga Pemerintah melalui dinas terkait dapat membantu mencarikan solusi terkait harga telur murah sedangkan harga pakan kian mahal,” ungkap Kaji Ali.
“Begini perkilo saat ini harga Rp.18.000 rupiah ( isi 15-16 butir telur red.) beli dari kandang langsung. Salah satu keluhannya hal tersebut menjadi jeritan mayoritas peternak ayam telur khususnya di wilayah Kecamatan Rejotangan,” akuinya polos.
Namun meski demikian, dengan usaha yang ia tekuni sebagai peternak ayam petelur lebih dalam papar Dia masih melanjutkan ia bangga dan tetap bersyukur omset penjualan semakin stabil.
“Jujur saja saat ini menggaji karyawan ada 15 orang, dan sekarang sudah memiliki armada Truk colt diesel ada 3 untuk pengiriman telur,” Kaji Ali memaparkan.
“Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir kita semua terbebas dari wabah ini, roda perekonomian kembali sedia kala,” tukas Pengusaha Muda kelahiran Tulungagung 38 Tahun lalu.














