BERITA TERKINI

Willy Eka Permana Simbol Perubahan Desa Sukaraja Lebih Maju

×

Willy Eka Permana Simbol Perubahan Desa Sukaraja Lebih Maju

Sebarkan artikel ini

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]

MATTANEWS, OKI – Berkeinginan memajukan Desa Sukaraja, Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Willy Eka Permana terpanggil untuk ambil bagian dalam perhelatan pemilihan kepala desa serentak pada 25 Agustus 2021 mendatang.

Sosok baru dalam konstelasi memilih putra terbaik desa, dengan mengantongi nomor urut 4, Willy secara pasti dapat memberikan pilihan alternatif bagi warga, untuk bersama membangun desa bersama putra pasangan Muhammad Syafik dengan Romziah tersebut.

Modal terbesar calon kades, menurut Willy harus memiliki karakter individual positif ditengah warga. Dirinya beralasan, para calon kepala desa merupakan penduduk setempat yang kesehariannya dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat. Jiwa sosial, sopan santun, kepedulian, bahkan keagamaannya dapat menjadi gambaran bagi masyarakat untuk menentukan pilihan.

“Dengan amanah yang diberikan warga, serta integritas kami beserta keluarga, yang terus berinteraksi ditengah masyarakat selama ini, merupakan modal awal bagi saya untuk maju sebagai kades,” ujarnya, saat diwawancarai wartawan online media ini di Kayuagung, Senin (27/8/2021).

Pelaksanaan pilkades Desa Sukaraja, meninggalkan catatan sejumlah dugaan kecurangan hingga sempat memicu polemik. Kendati harus melalui berbagai tahapan pilkades terbilang cukup dramatis tersebut, dimana saat itu sempat terjadi permasalahan terkait hasil tes kesehatan mendera salah satu dari lima calon hasil yang ditetapkan panitia pemilihan. Akan tetapi, menurut Willy, hal tersebut tidak lantas menyurutkan langkahnya untuk mengabdikan dirinya dalam memajukan desanya melalui visi, menuju desa Sukaraja maju, religius dan sejahtera.

“Visi tersebut sejalan dengan sejumlah program yang tertuang dalam 7 misi, yakni peningkatan iman dan ketakwaan, peningkatan perekonomian dengan mengembangkan industri kreatif berupa pariwisata bahari yang memanfaatkan potensi sungai, serta peningkatan infrastruktur sebagai pendukung kesejahteraan warga,” terangnya.

Diteruskannya, dalam pergerakan politik yang tengah dibangun bersama tim sukses, dirinya mengaku mengharamkan politik uang demi hanya untuk mendulang suara warga.

Secara lugas ia beralasan, pihaknya tidak berkeinginan memaksa warga terjebak dalam kepentingan dirinya melalui pemberian sejumlah uang.

“Sejujurnya, kami lebih mempercayai penilaian warga dari tinjauan kredibilitas, kecakapan kepemimpinan, gelar akademisi, dan faktor individu lainnya, dari masing-masing calon. Menjebak warga dengan pemberian uang, selain melanggar aturan, juga cerminan buruk sebagai calon pemimpin,” tegasnya.

Lebih jauh diungkapkannya berdasarkan logika bila pilkades berlangsung dengan pendekatan politik uang. Dimana warga hanya diuntungkan dalam sehari saja. Selebihnya, menurut dia, jangankan ikut mengawasi program kades. Lebih buruk dari itu, warga tidak dapat menuntut lebih banyak lagi, karena suara mereka sudah tergadai dari awal pemilihan.

Hal seperti itu sekarang harus dihindari. Ia yakin, warga tentu sudah lebih cerdas dari mengamati sejumlah peristiwa viral di media sosial, maupun dari pengalaman yang dirasakan langsung terkait efek negatif bila memilih pemimpin berdasarkan politik uang semata.

“Kualitas pemimpin dapat ditentukan dari seberapa banyak mendulang kepercayaan warga tanpa menjanjikan imbalan apapun, terkecuali janji kampanye yang tertuang dalam visi dan misi yang harus diwujudkan,” ungkapnya.

Merunut sejenak ke belakang, keprihatinan Willy diakuinya disaat melihat kemajuan desanya yang selama ini menurut sejumlah tokoh masyarakat yang berasal dari berbagai unsur desa menilai pembangunan belum terwujud secara signifikan.

Sebaliknya, dalam kalkulasinya, ia yakin dengan sejumlah bantuan keuangan hampir mendekati Rp.1 Miliar yang digelontorkan setiap tahun, semestinya desa Sukaraja mampu berbuat banyak hal, seperti diantaranya, meningkatkan perekonomian warga dan infrastruktur.

Dikatakan dia, meski mengaku tidak terlalu berambisi. Menurut dia, siapapun kades pilihan warga nantinya, ia menuturkan sejumlah catatan penting yang harus tersampaikan ke ruang publik, dengan tujuan agar warga desa dapat turut mengawasi kinerja aparatur pilihan mereka seperti apa nantinya.

Lebih jauh dikatakan Willy, dalam pembangunan desa, banyak celah yang dapat digunakan untuk membangun desa, yakni melalui berbagai sumber pendanaan, baik berasal dari APBN atau APBD, maupun PAD desa melalui BUMDes. Tentu, instrumen tersebut merupakan daya dorong utama dalam menggerakkan sejumlah program pro kepentingan warga.

Kendati sering dikeluhkan nilainya terbatas, bila dijalankan dengan jujur serta mengutamakan kepentingan khalayak umum. Bukan untuk kepentingan kades dan kroni. Hal itu juga, menurut calon dengan jargon “Nomor Empat, Pilihan Tepat” ini sendiri tentunya akan membawa keberkahan yang berguna bagi masyarakat banyak. Bukan melulu hanya tergantung dari jumlah uang yang diterima,

“Pesan seperti itu, yang harus sampai ditengah warga. Hal itu juga alasannya mengapa pemimpin amanah merupakan pilihan tepat, layaknya calon nomor empat,” tukasnya.