MATTANEWS.CO, SULBAR – Pengguna jalan keluhkam proyek pengerjaan pelebaran jalan poros Trans Sulawesi, karena mengakibatkan macet dan lokasi pengerjaan minim rambu lalu lintas bisa memakan korban.
Sejumlah kendaraan termasuk angkutan umum terperosok masuk galian di lokasi pelebaran jalan, beruntung tidak ada korban jiwa namun pengguna jalan terpaksa menunggu antrean hingga berjam-jam baru bisa melintas.
Ketua DPW LSM Tameng Perjuangan Rakyat Anti Korupsi (TAMPERAK) Sulawesi Barat (Sulbar), Amiruddin menilai kontraktor tidak profesional mengatur dan menertibkan ratusan kendaraan yang melintas di malam hari sehingga terjadi kemacetan berkepanjangan.
“Ini kelalaian yang dilakukan pemborong karena tidak mampu mengatur kendaraan yang melintas, dan berisiko tinggi mendatangkan kecelakaan. Seharusnya, usai menggali diberi police line sebagai pengingat dan pengaman bagi pengguna jalan, kalau seperti ini sangat membahayakan,” katanya, Kamis (24/3/2022).
Selain itu, lanjutnya, pengerjaan yang dilakukan di siang hari juga membuat kemacetan panjang. Arus kendaraan dari Kota Majene menuju ibu kota Kabupaten Mamuju harus bergantian melintas. Jika dalam 24 jam kontraktor tak mengawasi, berarti ada pembiaran dan kelalaian.
“Apalagi sekarang curah hujan sangat tinggi serta susah diprediksi. Jangan sampai galian tanah di atas gunung longsor ke jalan, karena bisa menimbun kendaraan yang menunggu antrean untuk melintas,” ujarnya.
Selain itu Amiruddin juga meminta kepada Balai Besar Pelakasanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah I Sulbar, harus bertanggung jawab sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pemberi pekerjaan terhadap rekanan.
“Selaku PPK, satker ini harus bertanggungjawab terhadap keselamatan pengguna jalan, sebagaimana yang diatur dalam dokumen lelang sesuai Kerangka Acuang Kerja (KAK),” bebernya.
Kemudian, sambungnya, dalam metode pelaksanaan pekerjaan yang diajukan oleh pihak perusahaan semestinya dilaksanakan semua.
“Karena itu biasanya tertuang dalam pakta integritas kesanggupan kerja, ini juga menjadi pertanyaan seperti apa metodenya dan itu harus safety,” pungkasnya. (*)














