MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Sebanyak 12 perwakilan desa di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, memberikan persetujuan atas rencana kegiatan penelitian aksi Sustainable Landscapes for Climate Resilient Livelihoods (Land4Lives atau Lahan untuk Kehidupan). Kegiatan ini bertujuan
untuk pengelolaan bentang lahan yang lebih baik dan peningkatan penghidupan berketahanan iklim.
Persetujuan dituangkan dalam dokumen yang ditandatangani oleh masing-masing perwakilan lima desa yang hadir di KPH Lalan Mendis – MUBA, yakni Desa Muara Medak, Mendis Jaya, Desa Mangsang, Desa Kepayang, dan Sukadamai, bersama Perwakilan World Agroforestry (ICRAF) Indonesia sebagai
pelaksana Land4Lives, Kepala KPH Lalan Mendis, serta perwakilan Kecamatan Bayung Lencir juga turut menandatangani dokumen tersebut.
Desa-desa lainnya di Kabupaten Banyuasin, melaksanakan penandatanganan secara langsung bersama empat desa yang hadir di Aula Kecamatan Muara Sugihan, yakni Desa Daya Murni, Jalur Mulya, Bringin Agung, dan Ganesa Mukti, beserta Perwakilan Bappeda Litbang Kab. Banyuasin, DPMD Kab. Banyuasin,
TRGD Sumsel, World Agroforestry (ICRAF) Indonesia sebagai pelaksana Land4Lives, serta Camat Muara Sugihan.
Sementara untuk tiga desa lainnya yang berhalangan hadir secara langsung pada kedua
seremoni penandatanganan, akan menggelar acara penandatanganan kesepakatan di desa masing-masing.
Sebelumnya kegiatan sosialisasi rencana kegiatan Land4Lives telah dilaksanakan ditingkat desa sejak 11 – 16 Agustus 2022, dengan pemaparan terkait kegiatan projek yang akan dilakukan di desa yang menjadi lokus kegiatan Land4Lives.
Kepala KPH Lalan Mendis, Ir. Salim Jundan, MSi, dalam sambutannya menyampaikan, “Land4Lives merupakan kegiatan positif yang hadir untuk mempersiapkan masyarakat dengan kegiatan pemberdayaan bagi peningkatan kapasitas masyarakat, ICRAF telah didukung oleh Pemerintah Canada
sehingga masyarakat desa tinggal menyiapkan lahan dan SDM nya.”
Menurutnya, semua desa yang terpilih adalah desa-desa yang termasuk dalam kawasan KPH Lalan-Mendis, karenanya KPH akan
berkolaborasi dengan ICRAF dalam kegiatan Land4Lives ini.
Sementara itu, Kabid Perencanaan Perekonomian dan SDA, Bappeda Litbang Kab. Banyuasin, Pipi Oktorini, SE, MSi, yang hadir dalam penandatanganan di Kec. Muara Sugihan mengatakan, “Kita berbahagia karena Muara Sugihan terpilih dengan desa terbanyak, harapannya agar pihak desa dapat
mensupport kegiatan Land4Lives ini yang merupakan pemberdayaan masyarakat untuk lahan penghidupan. Land4Lives terkait dengan masalah kerentanan pangan dan perubahan iklim, dimana masyarakatlah yang selama ini paling terdampak, khususnya masyarakat miskin, perempuan, dan anak.”
Lebih lanjut Pipi menyatakan bahwa Bappeda juga mengajak OPD terkait untuk mendukung
kegiatan ini, agar nantinya dapat berkelanjutan.
Peneliti senior ICRAF Indonesia Gerhard Sabastian Manurung mengatakan bahwa persetujuan dari desa merupakan tahap penting dalam pelaksanaan rencana kegiatan Land4Lives, karena persetujuan ini adalah bukti penghormatan terhadap hak-hak masyakarat desa atas nasib mereka sendiri.
Menurut Gerhard, tahapan ini dikenal juga dengan PADIATAPA atau persetujuan atas dasar informasi tanpa paksaan (FPIC atau Free, Prior, Informed, Consent) yang diharapkan akan menumbuhkan rasa kepemilikan desa atas kegiatan yang akan dilaksanakan bersama dengan para peneliti ICRAF.
Land4Lives adalah proyek riset aksi yang berlangsung hingga 2026 dan merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas dan Pemerintah Kadana melalui Global Affairs Canada. Proyek ini dilaksanakan oleh ICRAF di 3 Provinsi Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Adapun tujuan dari Land4Lives adalah untuk perbaikan pengelolaan bentang lahan yang peka gender, ketahanan pangan, mata pencaharian dan ekonomi lokal yang tahan perubahan iklim, terutama bagi
kelompok rentan, termasuk di dalamnya perempuan dan anak perempuan di Indonesia.
Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di tingkat desa, tetapi juga dilakukan di tingkat bentang lahan. Di Provinsi Sumatera Selatan, jumlah desa yang akan terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 12 Desa, yakni 6 Desa di Kabupaten Banyuasin dan 6 Desa di Kabupaten Musi Banyuasin.
Masing-masing desa tersebut berada di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Lalan Mendis dan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Saleh-Sugihan. Khusus di Sumatera Selatan, kegiatan juga akan berfokus pada mitigasi
dampak perubahan iklim, sedangkan di dua provinsi lain, fokus kegiatan pada adaptasi dampak perubahan iklim.
Proses pemilihan Desa di Kabupaten Banyuasin telah dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2022 dan disepakati bersama beberapa pihak antara lain, TRGD Sumsel, Bapppeda Sumsel, DLHP Sumsel, BRGM, DPMD Sumsel, dan Bappeda Litbang Kabupaten Banyuasin. Sedangkan pemilihan desa terpilih di KPH Lalan Mendis, Kabupaten Musi Banyuasin telah disepakati pada tanggal 15 Juli 2022.















