MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Seorang santri Meninggal di pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor 1, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur pada Senin, (22/08/22) pukul 10.20 WIB lalu. Kini, Soimah (44), ibu santri inisial AM masih terus mencari keadilan terhadap meninggalnya AM (17) di Ponpes Gontor, karena merasa meninggalnya tidak wajar.
Kuasa hukum Soimah, Titis Rahmawati SH MH mengatakan, kliennya ingin meminta keadilan terhadap anaknya AM (17) yang meninggal dunia di Pondok Pesantren Gontor tersebut.
“Jadi, ibunya AM (Soimah) sebelumnya mendapatkan surat keterangan kematian dari Dokter RS internal Pondok Pesantren Darussalam Gontor Pusat 1 Ponorogo, Jawa Timur. Surat tersebut dijelaskan bahwa anaknya meninggal dunia karena sakit,” ujar Titis saat ditemui di kantor hukumnya.
Dikatakan Titis, surat kematian tersebut dikirim mungkin untuk memudahkan pengiriman jenazah.
“Bisa jadi, surat kematian dari pihak RS tersebut dikirim untuk memudahkan pengiriman jenazah korban. Karena kan memang dalam kondisi covid 19,” jelasnya.
Diungkapkan Titis, pihaknya saat ini masih menunggu hasil penyelidikan dari Polda Jawa Timur terkait kematian anak Soimah.
“Kita saat ini menunggu penyelidikan dari pihak kepolisian disana, apabila diperlukan maka pihak keluarga akan kesana, karena pihak keluarga masih terkendala biaya,” ungkapnya.
Hingga saat ini, Titis mengaku bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dengan penyidik terkait proses pengungkapan kasus meninggalnya santri asal Palembang yang tidak wajar tersebut.
“Melalui Whatsapp kami sudah berkoordinasi dengan penyidik disana. Kemudian dari Whatsapp yang kami terima saat ini mereka sedang menumpulkan barang bukti dan saksi-saksi,” katanya.
Dari pihak pesantren, Titis mengatakan bahwa keluarga sudah berkomunikasi terkait kematian AM.
“Sudah ada komunikasi, yang melakukan komunikasi masih dari pihak-pihak perwakilan, sehingga pihak keluarga tidak cukup puas,” bebernya.
Ditambahkan Titis, isi komunikasi tersebut bahwa pihak pesantren telah menyatakan surat pengakuan bahwa AM meninggal karena adanya kekerasan.
“Jadi, pihak pesantren mengakui bahwa adanya tindak kekerasan terhadap AM,” kata dia.
Terlihat Soimah, ibu dari AM mengeluarkan air mata, didepan awak media untuk mencari keadilan terhadap anaknya yang meninggal di Ponsel Gontor.
“Cukup anak saya merasakan kekerasan didalam dunia pendidikan, jangan ada lagi korban dan tidak terjadi lagi, jangan ada lagi kekerasan fisik dalam mendidik, untuk hal saya dipanggil ke Polres sana, saya sudah serahkan semua kepihak pengacara mengingat saya masih berduka dan masih sakit,” pungkasnya.[tmreview]














