MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Program beras SPHP (Stabilisasi pasokan dan harga pangan) terus digelontorkan oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Wilayah Sumatra Selatan dan Bangka Belitung (Perum Bulog Sumsel dan Babel) secara masif ke pasar, outlet binaan dan ritel modern. Termasuk ppula dalam kegiatan pasar murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) bekerjasama dengan Pemda.
Pimpinan Perum Bulog Wilayah Sumsel Babel, Mohamad Alexander mengatakan, tidak ada pembatasan permintaan beras SPHP di wilayah Sumsel Babel. Apalagi pembelian langsung oleh konsumen akhir atau masyarakat. “Tidak ada pembatasan pembelian beras SPHP asalkan dibeli secara wajar,” ujarnya, Kamis (5/10).
Ia mencontohkan, pembelian secara wajar jika 1-2 karung saja. Namun, jika 5-8 karung dianggap sudah tidak wajar, sementara kebutuhan rumah tangga normal tidak mungkin sebanyak itu. “Pembatasan dilakukan jika pembelian beras SPHP secara tidak wajar untuk kebutuhan rumah tangga normal,” jelasnya.
Hal itu lantaran masih banyak masyarakat lain juga membutuhkan beras ini. “Yang pasti stok beras di gudang Bulog aman. Karenanya masyarakat diminta tidak membeli berlebihan dan membelanjakan kebutuhan pangannya secara bijak,” katanya.
Saat ini, stok beras Bulog di Kanwil Sumsel dan Babel sekira 24 ribu ton. Selain menggencarkan program SPHP, pihaknya juga menggulirkan beras bantuan pangan nasional tahap dua untuk September, Oktober dan Nopember. “Alokasi September sudah selesai disalurkan kepada Penerima Bantuan Pangan (PBP) dan alokasi Oktober sedang berjalan,” jelasnya.
Ia menjelaskan, saat ini permintaan beras SPHP dari daerah cukup tinggi. Lantaran, Pemda juga mengelar GPM. Diantaranya di Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Banyuasin dan lainnya. “Selain operasi pasar, kami juga intensif mendistribusikan beras SPHP ke pasar tradisional dan RPK,” tambahnya.
Setiap pedagang pengecer beras SPHP juga diminta memasang spanduk untuk menginformasikan kepada masyarakat. Termasuk informasi HET beras SPHP, sehingga masyarakat mengetahuinya. Hingga kini, beras SPHP yang sudah dikeluarkan Bulog sekira 30 ribu ton sejak awal 2023. “Kami minta masyarakat jangan panic buying sebab stok di gudang masih melimpah,” bebernya.
Terkait masih tingginya harga beras di pasar, Alex menyebut program SPHP bukan satu-satunya penentu harga tapi banyak faktor. Termasuk elnino yang mengakibatkan produksi menurun sehingga pasokan beras ke pasar berkurang. Sementara permintaan masih cukup tinggi. “Banyak faktor yang pengaruhi harga beras. Tapi pantauan di lapangan harga saat ini mulai turun,” tukasnya.












