MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Dua wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel), Kota Palembang dan Ogan Ilir (OI) diselimuti kabut asap tebal sejak Senin (30/10) dinihari. Kabut asap itu akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Ogan Ilir (OI) dan OKI (Ogan Komering Ilir) yang kian memprihatinkan.
Dari data indeks standar pencemar udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kualitas udara pada dua wilayah itu masuk kategori berbahaya. Di Kota Palembang, ISPU mencapai 330 (update pukul 15.00 WIB). Sementara di Kabupaten OI, ISPU-nya lebih tinggi, mencapai 723 (pukul 09.00 WIB).
“Saat ini saya menyusuri jalan lintas Palembang – OI – OKI. Kondisi di OI terang, menuju arah OKI berasap. Arah Tanjung Senai berasap tipis. Dari citra satelit terlihat sumber asap dominan dari OKI, bukan dari OI,” ujar Ferdian Kristianto, Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Wilayah Sumatera, Senin (30/10).
Diduga, asap yang menyelimuti kedua wilayah ini berasal Karhutla di OKI dan OI. Ferdian menyebut, Karhutla pada kedua wilayah kabupaten tersebut terus dilakukan pemadaman.
“Di OI sendiri sampai dengan hari ini pemadaman dilakukan di Pulau Semambu dan Tanjung Batu,” jelasnya.
Sementara di OKI, pemadaman juga dikakukan di Jungkal, Pedamaran, Padang Sugihan, Cengal dan lainnya. Sementara data LAPAN Fire Hotspot pukul 15.30 WIB, titik panas mencapai 473 titik.
Sebagian besar hotspot terbanyak ada di OKI, mencapai 319 titik. Rinciannya, di lahan gambut sebanyak 189 titik dan 130 titik di lahan mineral. Sebelumnya, Pj Gubernur Sumsel, Agus Fatoni mengungkapkan, upaya Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) di Sumsel kembali diperpanjang untuk keempat kalinya.
Meski sempat terjadi hujan dalam beberapa hari terakhir, permasalahan hingga kini belum teratasi.
“TMC diperpanjang hingga 4 November 2023,” ujar Pj Gubernur Sumsel, Agus Fatoni.
Menurutnya, hotspot di Sumsel masih fluktuatif naik turun. Untuk itu Pemprov Sumsel terus berupaya semaksimal mungkin dalam penanganan Karhutla.
Ia berharap, TMC yang dilakukan bisa semakin memperbesar potensi hujan yang ada. Terlebih berdasarkan prediksi BMKG diakhir Oktober hingga awal November potensi awan penghujan cukup tinggi.














