BeritaBERITA TERKINIHEADLINEhomeNUSANTARAPENDIDIKANPOLITIK

Komunikasi Politik Balon Kepala Daerah Belum Menyentuh Milenial dan Gen Z

×

Komunikasi Politik Balon Kepala Daerah Belum Menyentuh Milenial dan Gen Z

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Proposi pemilih untuk Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) di dominasi Milenial dan Gen Z. Hal ini berdasarkan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang di rilis oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Selatan berjumlah 6,3 juta pemilih.

Menariknya lebih dari setengah pemilih tersebut yakni 3,7 juta atau 59,33 persen merupakan anak muda, milenial dan Gen Z.

Dua generasi tersebut akan menjadi penentu kemenangan kontestan calon kepala daerah jika mampu memengaruhi mereka dengan persuasif.

Upaya untuk memengaruhi partisipasi kelompok generasi milenial dan generasi Z bukanlah pekerjaan mudah, mengingat karakter yang ada pada mereka cenderung pasif dan cuek. Awalnya mereka interaktif, karena keseringan menggunakan gawai bahkan sampai 12 jam setiap hari mereka menjadi sangat pasif.

Dari sekian banyak baliho kandidat yang terpampang di jalan-jalan, belum tentu menarik perhatian milenial dan gen Z untuk menyalurkan suaranya kepada kandidat yang ada pada baliho. Bahkan mereka jarang melihat secara sadar keberadaan baliho-baliho tersebut. Butuh pola komunikasi dan penyusunan pesan yang menarik dan mampu membangun pemahaman bahwa pesan yang disampaikan menggambarkan tentang kebutuhan milenial dan gen Z 5 tahun mendatang.

Karena hampir separuh aktivitas milenial dan gen Z dihabiskan di layar handphone, semua kontestan berlomba-lomba mengalihkan distribusi pesan pada arus media baru/media sosial. Sayangnya pesan yang disampaikan hanya sebatas humor-humor politik dan pencitraan personal. Jarang ada gagasan konkrit apa yang ditawarkan untuk milenial dan gen Z, kecuali potongan-potongan tagline dan slogan.

Pesan politik juga tidak melulu soal tagline yang bersifat multi tafsir dan universal seperti “sumsel bangkit”, “sumsel maju”, “sumsel sejahtera”, “sumsel berjaya”, “UMKM naik kelas”, “Ekonomi Hijau”, dan lain sebagainya. Karakteristik pemilih milenial tidak akan tertarik untuk mengkaji pesan tersebut tentang apa yang bangkit, di bidang apa yang maju, sejahtera yang seperti apa, berjaya yang bagaimana.

Pesan politik harus straight to the poin (langsung ke inti) seperti, “Palembang Cetak 1 RT 1 Pengusaha”, “Palembang Merdeka Macet dan Banjir”, “Sumsel Jalan Mulus”, “Sumsel Berobat dan Sekolah Gratis”, tentu akan lebih mudah diingat dan dipahami. Bukankah politik itu pragmatis, sehingga pesan yang disampaikan harus dilihat dari sudut pragmatisme pemilih, yakni menyangkut apa yang mereka butuhkan. Seperti kebutuhan mayoritas segmen di pilpres yang lalu, segmen yang mayoritas lebih membutuhkan program makan gratis daripada program Pendidikan yang berkualitas.

Dari media sosialisasi balon kepala daerah yang sudah terpasang di setiap sudut mata memadang, sebagian besar tidak menyampaikan pesan yang bersifat langsung dan mudah dipahami oleh milenial dan gen Z. Semua pesannya bias dan tidak memberikan informasi apa-apa kecuali foto personal bakal calonnya saja, itu pun terkadang tidak dipahami oleh milenial dan gen Z sebagai seorang kandidat peserta pilkada.

Paradigma komunikasi politik dalam memenangkan hati pemilih sudah harus mengacu kepada konsep pemasaran politik. Dalam konteks pemasaran politik, kandidat sudah harus jeli memetakan prilaku dari setiap segmen. Untuk masuk kepada segmen milenial dan gen Z, calon kepala daerah harus memaklumi milenial dan gen Z bisa didekati dengan cara kebiasaan mereka sendiri.

Generasi milenial belum tentu menjatuhkan pilihan kepada kandidat dari kalangan milienial. Generasi X belum tentu tidak dipilih oleh milenial dan gen Z. Milenial dan gen Z akan menjatuhkan pilihan kepada siapa yang mampu membawa program-program yang dibutuhkan oleh milenial dan gen Z.

Penetrasi ke akar rumput milenial dan gen Z dengan cara yang kolaboratif, menjadikan mereka sebagai subjek politik yang ikut terlibat aktif menentukan arah masa depan tentu akan mencipatakan suasana gotong royong untuk kebaikan daerah di masa yang akan datang.

Fokus menggarap suara milenial dan gen Z ibarat pepatah sekali mendayung dua pulau terlampaui, jika hati milenial dan gen Z sudah didapatkan maka secara tidak langsung akan meraih hati pemilih generasi x dan baby boomer. Banyak dari kalangan orang tua menjadikan anaknya (milenial dan gen Z) sebagai sumber referensi dalam memilih.

Selain itu, para orang tua akan melihat sejauh mana calon kepala daerah bisa menjamin bahwa anak-anak mereka akan hidup layak, mudah mendapkan pekerjaan, aman dan nyaman beraktivitas, tercukupi semua kebutuhan dasar mereka