MATTANEWS.CO, OKI – Jalan rusak, gelap di malam hari, dan ketimpangan pembangunan menjadi suara dominan yang disampaikan warga Desa Cabe, Kecamatan Cengal, saat menerima kunjungan kerja Anggota DPRD Kabupaten Ogan Komering Ilir dari Partai Hanura, Alek Trisuyatno, dalam kegiatan Reses Masa Sidang III Tahun Sidang 2024–2025, Pada tanggal 25-30 Juni 2025 lalu.
Bukan sekadar agenda rutin, reses kali ini menjadi ruang penting bagi warga Desa Cabe untuk mengungkapkan keresahan yang selama ini mereka pendam. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian dari pemerintah daerah, masyarakat menyambut langsung kehadiran Alek dengan harapan besar.
Keluhan paling mendesak adalah kondisi jalan desa yang rusak berat. Di musim penghujan, akses nyaris lumpuh. Jalan berlubang, licin, dan kerap memutus rantai distribusi hasil pertanian. Desa Cabe yang sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan merasa terisolasi akibat kondisi infrastruktur tersebut.
“Kami ini petani karet dan sawit, tapi hasil panen sering tertahan karena angkutan tak bisa masuk. Jalan ini rusak dari dulu, tapi belum ada yang benar-benar peduli,” ungkap seorang warga yang mengaku kerap merugi karena keterlambatan pengangkutan hasil kebun.
Selain akses jalan, warga juga menyampaikan keresahan atas minimnya lampu penerangan jalan. Saat malam tiba, desa seperti tenggelam dalam kegelapan. Aktivitas warga terpaksa dihentikan lebih awal karena alasan keamanan. Tak sedikit yang mengaku takut keluar rumah malam hari karena rawan kecelakaan dan tindak kriminal.
“Kalau malam gelap gulita, anak-anak takut keluar. Pernah ada yang jatuh dari motor karena tak lihat jalan berlubang,” kata seorang ibu rumah tangga saat dialog terbuka.
Mendengarkan langsung keluhan warga, Alek Trisuyatno tampil tegas. Ia menyatakan bahwa kebutuhan jalan yang layak dan penerangan yang memadai bukan lagi sekadar aspirasi, tetapi hak dasar masyarakat desa yang wajib dipenuhi negara melalui pemerintah daerah.
“Saya tidak datang untuk sekadar mendengar lalu melupakan. Aspirasi ini akan saya bawa ke forum DPRD. Saya akan perjuangkan agar tahun depan, anggaran pembangunan masuk ke Desa Cabe. Jangan terus dibiarkan warga hidup dalam kegelapan dan kesulitan,” tegasnya.
Politisi Partai Hanura itu juga menyoroti ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan desa-desa terpencil di Kabupaten OKI. Menurutnya, selama ini pembangunan seringkali berpusat di wilayah kota atau pusat kecamatan, sementara desa-desa seperti Cabe hanya mendapatkan ‘sisa anggaran’ yang tidak berdampak signifikan.
“Jika hanya daerah dekat kota yang dapat perhatian, lalu siapa yang memperjuangkan desa-desa seperti Cabe? Jangan biarkan warga desa terus terpinggirkan. Pemerintah harus adil dan tahu prioritas,” ujarnya.
Kehadiran Alek Trisuyatno dalam reses ini mendapat apresiasi dari warga. Mereka menilai baru kali ini ada anggota DPRD yang datang dan benar-benar membuka telinga serta hatinya. Tak sedikit warga yang menyampaikan harapan agar suara mereka benar-benar dibawa ke ruang pengambilan keputusan, bukan sekadar catatan dokumentasi kegiatan.
Kunjungan kerja ini menjadi cermin bahwa pemerataan pembangunan di Kabupaten Ogan Komering Ilir masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Desa-desa di pelosok seperti Cabe masih berjuang agar suara mereka didengar. Kehadiran anggota DPRD seperti Alek Trisuyatno menjadi harapan tersendiri, sekaligus pengingat bahwa wakil rakyat sejati adalah mereka yang datang, mendengar, dan memperjuangkan.
“Selama ini banyak yang datang hanya foto-foto, tapi Pak Alek beda. Beliau dengar, jawab, dan janji akan kawal. Kami tunggu hasil nyatanya,” ucap seorang tokoh masyarakat setempat.















